Menjadi Brand Ambassador LP3I

Pada tanggal 27 Februari 2017, bertempat di kantor pusat LP3i di Kramat, Jakarta Pusat, saya menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Direktur Utama LP3i, Bapak Isral, sebagai Brand Ambassador LP3i untuk setahun ke depan. Sebagai salah satu lembaga vokasi pionir dan terbesar di Indonesia, saya senang dan berharap kerjasama ini bisa bermanfaat bukan hanya bagi diri saya dan juga LP3i, tapi untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Signing MoU LP3i

Bidang pendidikan memang menjadi fokus utama saya dalam beberapa tahun terakhir. Saya yakin jika setiap orang di republik ini mendapatkan kesempatan yang sama dalam hal pendidikan, maka tingkat kesejahteraan pasti akan meningkat. Orang menjadi miskin karena bodoh, dan orang menjadi bodoh karena tidak sekolah. Sehingga, akar permasalahannya harus diselesaikan, yaitu memberikan kesempatan pendidikan yang baik untuk setiap orang.

Masa-masa penting jenjang pendidikan terjadi ketika lulus dari SMU/SMK/MAN. Pada saat itu, setiap orang harus bisa menentukan arah dan tujuan yang diinginkan untuk masa depannya. Karena, hal itu akan berpengaruh langsung terhadap hidup kita, bahkan sampai akhir hayat. Proses pengembangan diri, pemahaman materi, serta hubungan langsung dengan dunia kerja harus menjadi pertimbangan dalam memilih kampus yang tepat.

Saya sendiri mengalami pentingnya hubungan antara kuliah dan cikal bakal profesi yang diinginkan. Saya mendapatkan gelar S1 di bidang Business Information Systems dari University of Technology Petronas di Malaysia, dengan beasiswa penuh dari Petronas. Seiring bertumbuh, saya menyadari konsep yang lebih mulia dari sekadar bisnis, yang mendorong saya melanjutkan pendidikan S2 Islamic Finance di Qatar dengan beasiswa penuh dari Emir Qatar, His Highness Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, untuk melanjutkan studi bidang Islamic Finance dari Hamad Bin Khalifa University, Alhamdulillah keduanya lulus dengan predikat summa cum-laude.

Mungkin saya sedikit dari orang-orang yang beruntung memiliki jenjang karier yang selaras dengan passion saya di dunia bisnis dan keuangan. Banyak dari teman yang saya kenal, bahkan beberapa tokoh yang mungkin namanya tidak asing di telinga kita, memiliki profesi yang tidak sejalan, bahkan kadangkala berseberangan jauh dengan topik yang mereka pelajari pada masa kuliah dulu. Kaitan antara lapangan pekerjaan yang tersedia, pengalaman kerja praktek, serta bidang studi yang kita kuasai, sangat erat dan mengikat satu sama lain namun seringkali dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak, baik oleh universitas, pengajar, bahkan kadangkala kita sendiri sebagai subjek pelajar.

Beberapa teman saya mengakui bahwa tidak semua aspek yang ia pelajari dalam kuliahnya, berfungsi secara langsung dalam pekerjaannya maupun hidupnya sehari-hari, dimana beberapa yang lain bingung mencari pekerjaan yang cocok untuk bidang studinya, karena pelajaran dalam studinya mengacu pada keahlian untuk menguasai bidang usaha, ketimbang keahlian untuk bekerja secara berkelompok. Keahlian yang berhubungan dengan soft skills dan keterampilan tidak diajarkan di kampusnya masing masing.

Seiring dengan berlangsungnya dunia pendidikan kita, masalah ini dengan cepat disadari dan beberapa orang melakukan inisiatif untuk membentuk majoring baru yang memberikan pendidikan khusus terkait materi ini dengan didirikannya Kampus Vokasi (Kejuruan).

Kampus Vokasi umumnya akan memberikan materi yang secara langsung mempersiapkan kita ke dunia kerja, baik dalam praktek sehari-hari maupun kemampuan kognitif berbasis sistem dan teknologi yang sudah dikenal secara umum, dan diteruskan kepada mahasiswa melalui pengajar. Umumnya Vokasi berada di tahapan D3 untuk proses pengajaran yang lebih cepat dan lebih tepat, karena sebagian mahasiswa vokasi adalah pekerja full-time dan pekerja paruh waktu yang membutuhkan pendidikan praktis yang memiliki arah dan tujuan yang tepat.

Kampus Vokasi yang tepat guna akan memiliki bidang studi yang dibutuhkan oleh calon mahasiswa, antara lain Administrasi Bisnis, Manajemen, Sekretaris, Akuntansi, Teknik Informatika, Informatika Komputer, Multimedia, Hubungan Masyarakat, Otomotif, Perhotelan, serta Bisnis dan Marketing. Mencakup seluruh bidang studi yang disebutkan di atas, muncul satu nama kampus yang ada dalam otak saya, yaitu LP3i.

Kampus LP3I hadir memberikan solusi dan jawaban karena memiliki semua bidang studi yang dibutuhkan untuk mendidik pegawai yang kompeten dan berdedikasi tinggi dalam setiap aspek bisnis profesional yang dibutuhkan di Indonesia. Dengan sistem LINK and Match, bukan hanya kurikulum LP3I disesuaikan dengan kondisi dunia kerja saat ini, pengajar di LP3I diambil dari tenaga praktisi dan berpengalaman yang diambil dari industri yang sedang berlangsung saat ini.

Tentu kualitas kampus tidak hanya tergantung pada kualitas pengajarnya, yang utama dari kampus ini adalah relasinya dengan bidang usaha yang mitra perusahaannya tersebar di seluruh Indonesia. LP3I menjamin mahasiswanya untuk mendapatkan pekerjaan dalam kurun waktu 6 bulan setelah menyelesaikan pendidikannya di LP3I. Pada kenyataannya, banyak mahasiswa LP3I telah direkrut oleh perusahaan bahkan sebelum upacara wisuda.

Saya melihat LP3I sebagai wadah yang menyeluruh dalam pengembangan mahasiswanya, karena selain mendidik untuk menjadi karyawan yang kompeten, LP3I juga memberikan pembinaan Wirausaha Mandiri melalui Rumah Entrepreneur. Semoga dengan diversifikasi dari bidang studi dan program programnya, Indonesia dapat menghasilkan lebih banyak lagi pekerja dan pengusaha yang tepat guna dan berkualitas.

Sudah saatnya generasi muda berani mandiri mewujudkan mimpi!

Salam,

Muhammad Assad | IG: @muh_assad

Advertisements