G20 Youth Summit 2011: Lessons on Leadership

Helloo NFQ-ers! Mohon maaf kalau @NotesFromQatar sering absen ya, maklum lagi sibuk bangetttt semester ini. Anyway, sebelum saya memulai tulisan ini, izinkan saya sedikit promosi hehehe.. Mungkin dari temen-temen udah ada yang tahu, dan mungkin juga sebagian lainnya belum, yaitu tentang buku @NotesFromQatar versi “Limited Edition”!😀

Bagi yang ingin tahu apa perbedaan NFQ ini dengan NFQ versi pertama dan kenapa teman-teman harus punya buku ini, maka langsung saja.. CLICK HERE !!

.

Baiklah, dalam Notes From Qatar episode kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saat mengikuti acara G20 Youth Summit di Paris, 29 Mei – 3 Juni 2011. Sebenernya saya udah mau nulis ini beberapa minggu setelah acara G20 selesai, namun apa daya baru kesampean sekarang hehehe..

G20 Youth Summit adalah konferensi internasional tahunan yang mempertemukan para pemimpin muda dari negara-negara yang tergabung dalam G20 (Group 20), yaitu Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brazil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanaca, Korea Selatan, Meksiko, Perancis, Republik Rakyat Cina, Rusia, Turki, dan Uni Eropa.

.

G20 Youth Summit Paris 2011 didukung langsung oleh Presiden Perancis, Nikolas Sarkozy.Setiap negara anggota G20 mengirimkan 6 delegasi mudanya untuk berkumpul di Paris selama satu minggu penuh untuk menegosiasikan isu-isu penting yang nanti hasil akhirnya akan dalam bentuk Communiqué dan diserahkan kepada Presiden Perancis Nikolas Sarkozy.

.

Dari Indonesia sendiri, ada 6 orang delegasi yang terpilih, yaitu Muhammad Assad (alias saya sendiri hehe..) sebagai Head of State. Kemudian ada Disty Winata sebagai Sherpa atau sekretaris, I Ketut Adi Putra sebagai Minister of Finance, Ariana Alisjahbana sebagai Minister of Environment, Ari Dwi Susanto sebagai Minister of Economy, dan Sofwan Hakim sebagai Minister of Development

.

Saya pribadi bersyukur bisa menjadi salah satu delegasi dalam G20 Youth Summit 2011, karena begitu banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama tentang leadership atau kepemimpinan. Sebagai seorang Head of State yang memimpin delegasi dari Indonesia, saya belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin. Yes, Lesson learned dari cerita saya kali ini adalah tentang kepemimpinan atau LEADERSHIP.

.

Lesson Learned 1: Setiap Masalah Ada Solusinya

Sekitar 6 bulan sebelum acara berlangsung, kami berenam yang sudah terpilih sebagai delegasi Indonesia saling berkenalan melalui dunia maya. Yah, maklum aja, karena memang kita berenam ini terpisahkan oleh ruang, jarak dan waktu (sedap abis bahasanya hehe..). Saya di Qatar, Disty di Canada, Adi di Singapore, Ariana di Amerika Serikat, Ari dan Sofwan di Indonesia.

.

Meskipun berlainan benua, tapi itu ga masalah, karena ada yang namanya teknologi. Email dan skype menjadi media utama kami dalam berkomunikasi. Banyak hal yang kami diskusikan, mulai dari position paper, akomodasi, transportasi, dan tentunya (yang paling penting) rencana mau jalan-jalan kemana aja setelah acara G20 selesai hehehe..

.

Di waktu awal-awal kenalan, semua terlihat happy and everything seems to be alright. Saat waktu acara sudah tinggal mendekati sekitar 2 bulan lagi, baru lah kita mulai pada sibuk untuk mempersiapkan visa dan berbagai hal penting lainnya. Kami sepakat untuk meng-apply visa di negara masing-masing tempat kami tinggal saat ini, dan kami saling bertukar informasi mengenai persyaratan apa saja yang dibutuhkan untuk aplikasi visa.

.

Alright, seperti biasa saya yang merasa berkas sudah siap semua pede aja langsung pergi ke Kedutaan Besar Perancis di Doha. Saya yakin sudah melengkapi semua persyaratan yang mereka minta. Sesampainya di Kedubes, saya mengikuti prosedur aplikasi dan mereka meminta saya untuk mengambilnya seminggu kemudian.

.

Setelah waktu yang ditentukan saya kembali ke Kedubes untuk mengambil visa dan dengan muka yang udah nyengar nyengir ngebayangin Menara Eiffel. Setelah menunggu beberapa saat, sang petugas datang dengan membawa passport saya. Percaya ga percaya.. yak, ternyata sodara-sodara…. VISA SAYA DITOLAK!!  Hehehe..

.

OMG, saya langsung speechless. Bagaimana mungkin aplikasi visa saya ditolak padahal surat undangan berstempel “Under Patronage G20 Presidency – Mr. Nikolas Sarkozy”?? Saya bener-bener ga abis pikir pada saat itu, dan seperti yang mungkin teman-teman sudah baca, cerita ini sudah saya tulis dalam topic sebelum tulisan ini dalam judul “Kerikil Kecil Bernama Sombong”. Silahkan dibaca ya..

.

Okey, singkatnya, setelah  kejadian itu, saya langsung berkoordinasi dengan teman-teman dan membicarakan bagaimana solusi terbaiknya. Ada beberapa opsi saat itu, salah satunya saya diganti oleh orang Indonesia yang sudah berada di Paris, agar lebih mudah karena tidak butuh visa lagi. Saya pribadi juga setuju dengan saran itu, meskipun pada akhirnya nanti saya tidak berangkat ke Paris. At least, team tetap komplit berjumlah 6 orang.

.

Kemudian Ariana, salah seorang delegasi bilang kalau apply visa itu bisa dilakukan lagi tanpa perlu batas waktu. Saya mikirnya paling ga butuh satu bulan kalau kita meng-apply visa lagi. Mendengar hal itu, saya langsung menyiapkan berkas dan lebih memperkuatnya, termasuk surat pengantar berbahasa Perancis dari panitia G20 dan surat rekomendasi dari KBRI Doha. Alhamdulillah, akhirnya visa saya diterimaaa.. Leganya bukan main!

.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa apapun masalah yang dihadapi, seorang pemimpin harus tetap tenang dan mencari solusi yang terbaik bagi keseluruhan anggotanya. Dengan bersikap tenang, maka masalah akan lebih mudah diselesaikan dan mendapat penyelesaian terbaik.

.

Lesson Learned 2: Berani Mengambil Resiko

Alhamdulillah kami berenam sudah mendapat visa untuk berangkat ke Paris. We are all set and ready to go. Namun sekitar 2 minggu menjelang hari H, masalah kembali muncul. Salah satu delegasi yang bernama Ari tiba-tiba tidak bisa berangkat tanpa alasan yang jelas. Tidak tahu apa penyebabnya dan dia jadi tidak bisa dihubungi. Kami pun akhirnya sepakat untuk mencari pengganti Ari dari mahasiswa Indonesia yang ada di Paris.

.

Belum selesai dengan masalah Ari, tiba-tiba keadaan semakin pelik saat 3 hari menjelang keberangkatan, Ariana tiba-tiba terjatuh di kamar mandi, mengalami cedera yang cukup parah, dan akhirnya tidak diizinkan orang tuanya untuk berangkat, padahal tiket pesawat sudah dibeli! Yak komplit lah sudah! Kita kehilangan dua anggota pada saat last minute! Hahahaha..

.

Saya bener-bener pusing. Tapi ya apa boleh buat, dengan sisa delegasi 4 biji, kita tetap memutuskan untuk berangkat. Meskipun kita tahu bahwa pastinya dengan jumlah delegasi yang berjumlah 4 orang tidak akan sekuat jika berjumlah 6 orang. Kita semua berangkat ke Paris sekitar 2 hari sebelum acara dimulai agar bisa berkoordinasi.

.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa terkadang bisa terjadi hal-hal yang di luar kendali kita. Namun hal ini tidak boleh dijadikan penghalang dalam mencapai tujuan. The show must go on!

.

Lesson Learned 3: Cepat Mengambil Keputusan

Setelah sampai di Paris 2 hari lebih cepat dari waktu yang ditentukan, kami berempat berembuk dan memutuskan untuk mencari 2 orang pengganti mahasiswa Indonesia yang berada di Paris untuk menggantikan posisi Ari dan Ariana. Alhamdulillah akhirnya kita dapet 1 orang, temennya Adi yang bernama Zenathan. Dia bersedia menggantikan posisi Ari sebagai Minister of Economy. Satu masalah selesai.

.

Sekarang tinggal nyari satu orang lagi untuk menggantikan posisi Ariana. Setelah berusaha mencari dan mengontak sana sini, kita tidak juga bisa menemukan pengganti Ariana. Akhirnya karena waktu yang semakin mepet, maka diputuskan bahwa Disty, yang tadinya sebagai Sherpa, ditukar menjadi Minister of Environment. Saya berpendapat bahwa kita harus punya delegasi Minister of Environment karena peran Indonesia yang sangat vital sebagai paru-paru dunia.

.

Sebetulnya memang agak berat juga sih, karena di satu sisi kalo tidak ada Sherpa berarti tugas saya sebagai Head of State akan semakin berat karena tidak ada sekretaris yang membantu hehehe.. Tapi di sisi lain, Indonesia juga butuh delegasi Minister of Environment untuk mewakili Indonesia dan memperjuangkan poin-poin penting tentang lingkungan. Akhirnya, sebagai Head of State, saya putuskan Disty pindah jadi Minister of Environment.

.

Dari kejadian ini, saya belajar bahwa menjadi seorang pemimpin, harus bisa mengambil keputusan dengan cepat meskipun dalam waktu yang terbatas. Keputusan yang didasarkan oleh pertimbangan rasionalitas dan mengesampingkan egoisme pribadi.

.

We Are Ready!

G20 Youth Summit 2011 pun dimulai. Delegasi Indonesia yang berjumlah 5 orang pun sudah siap mengikuti rangkaian acara tahunan ini. Komposisinya sekarang adalah saya sebagai Head of State, I Ketut Adi Putra sebagai Minister of Finance, Disty Winata sebagai Minister of Environment, Zenathan sebagai Minister of Economy, dan Sofwan Hakim sebagai Minister of Development. Sedangkan posisi Sherpa kosong.

.

Di hari pertama, dibuka dengan official opening yang dibuka langsung oleh Menteri Ekonomi Perancis yang selanjutnya sekarang ini beliau terpilih menjadi orang nomor satu di IMF, Christine Lagarde. Setelah pembukaan selesai, waktunya photo session untuk delegasi setiap negara. Bagi yang penasaran bagaimana bentuk muka para delegasi Indonesia, nih silahkan diliat dan diperhatikan dengan seksama. *mukanya masih pada tegang-tegang kayanya ya hahaha..*

.

Selanjutnya setelah pembukaan dan photo session selesai, kita mengadakan kunjungan kehormatan atau istilah kerennya “courtesy call” ke KBRI Paris. Di sana kita diterima dengan baik oleh Dubes RI untuk Perancis, Bapak Rezlan Izhar Jenie, beserta para staffnya. Pertemuan di KBRI Paris berlangsung hangat dan diakhiri dengan makan siang menu Indonesia yang sangat nikmattt!

 .

Lesson Learned 4: Tanggung Jawab Lebih Besar

Selanjutnya keesokannya, di hari ke-2 sampai ke-4 kami semua full mengikuti negosiasi dari pagi sampe malem yang sangat melelahkan. Setiap hari dimulai dari pukul 9 pagi dan baru selesai pukul 5 sore. Cape bangettt, but however it’s fun. Berikut suasana saat berlangsungnya negosiasi dan moment lainnya saat G20 Youth Summit 2011.

Heads of States of G20 Countries
Suasana saat negosiasi berlangsung
Busy moment during meeting
Having dinner with other delegates

.

Di hari ke-4 atau hari terakhir negosiasi berlangsung, khusus untuk semua Head of States dikasih bonus tambahan, yaitu diwajibkan memeriksa kembali hasil negosiasi yang dilakukan oleh para menteri dan setiap poin yang diambil para menteri harus mendapat konsensus dan dari seluruh Head of States yang hadir. Bisa dibayangkan berapa lamanya waktu yang diperlukan untuk membahas setiap poin dari para menteri, yang setiap negara terdapat sekitar 5 menteri.

.

Jadi di saat para menteri-menteri dan anggota delegasi lain sudah bisa jalan-jalan dan menikmati indahnya kota Paris di malam hari, kami para Head of States tetap berada di balik meja negosiasi ditemani dengan sepotong sandwich dan secangkir kopi hehe..

.

Kami semua akhirnya berhasil menyelesaikan meeting tersebut  jam 5 pagi!! Hahaha.. Setelah selesai jam 5 pagi, kami semua langsung kembali ke hotel dan langsung bersiap-siap menuju tempat penutupan, karena pagi itu jam 8 acara penutupan dimulai. Mantep kan? Hehehe.. What a memorable moment!

.

Dari kejadian ini, saya belajar memang yang namanya seorang pemimpin itu harus melakukan hal yang lebih dari anggotanya. Konsekuensi menjadi seorang pemimpin memang harus siap untuk mengambil tanggung jawab lebih dibanding anggotanya.

.

Di hari ke-5, penutupan acara G20 Youth Summit berlangsung di Chamber of Commerce France, kira-kira seperti KADIN kalo di Indonesia. Saya sebagai Head of State menandatangani Final Communiqué yang nantinya akan diserahkan kepada Presiden Perancis, Nikolas Sarkozy.

Signing G20 Communique
Pulpennya susah banget dibuka hehe..
With HoS colleagues from China, Rusia, UK and Russia
Suasana G20 Closing Ceremony
My crazy-yet-cool friend from Germany, look at his shorts!

.

Acara G20 Youth Summit 2011 pun secara resmi ditutup. Malamnya, kami semua para delegasi diundang untuk menghadiri gala dinner di Rooftop UNESCO Headquarters dengan view langsung menghadap ke Menara Eiffel. It’s so beautiful!

Batik diantara jas.. Hidup batik!

Wanito Italiano

.

Yak, selesai lah acara G20 Youth Summit Paris 2011 yang berjalan dengan lancar dan sangat berkesan! Tahun 2012, acara G20 Youth Summit akan diadakan di Washington DC, Amerika Serikat. Bagi teman-teman yang mau ikutan, segera apply dan rasakan sensasinya!

See you again, Paris!

.

Jalan-Jalan!!!

Tunggu duluuu, cerita belum selesaii.. nanggung nih hehehe… Setelah acara G20 selesai, sekarang waktunya jalan-jalan hahaha.. Saya menghabiskan sekitar 10 hari di Paris. Kebetulan beberapa om dan tante saya ada yang tinggal di Paris dan tante-tante saya dari Jakarta juga sedang jalan-jalan ke Paris, pas bangett jadi bisa jalan bareng sodara dan sepupu-sepupu.

Arc de Triomphe

.

Kebetulan juga (banyak banget emang kebetulannya ini hehe..) di kisaran tanggal yang sama, ada dua orang teman baik saya yang baru saja menikah dan sedang honeymoon di Parisss, yaitu Marshanda dan Ben Kasyafani. Ya sudah, kami janjian ketemu di taman belakang Menara Eiffel (kaya film-film India banget) dan saya pun menjadi pengganggu keharmonisan bulan madu mereka berdua selama satu hari itu hahaha.. Tapi gapapa, mereka enjoy-enjoy aja kayanya.

Musee du Louvre
Sayang istrii.. sayang istrii..
Menyikat ayam afrika!

.

Ada pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan di Paris, yaitu hampir kecopetan!! Hahaha.. Memang sejak pertama kali tiba di Paris, teman-teman saya dan juga tante saya yang tinggal di Paris selalu mengingatkan kepada saya, “Assad, hati-hati di Paris banyak copetnya.”

.

Tapi waktu itu dalam hati saya, “Ahh masa sih?” Ya saya pikir kalaupun memang ada, mana mungkin mereka akan mengincar saya. Palingan yang diincer ya yang kaya ibu-ibu gitu yang bawa tas-tas mahal dan gampang dicopet. Jadi sejak hari pertama saya ya santai santai aja.

.

Setelah 10 hari di Paris dan saya akan menuju Brussels, saya pergi ke stasiun antarnegara melalui LRT (disana namanya Metro). Saat itu saya sedang berada di salah satu stasiun yang bernama Trocadero.

Trocadero Metro Station

.

Saya bawa 2 koper dan sedang menunggu kereta datang. Saat kereta datang, tentunya semua orang berdesak-desakan ingin masuk ke kereta, ditambah lagi banyak orang juga mau keluar, jadi memang sangat padat dan tidak beraturan.

.

Saat saya sudah masuk ke kereta, tiba-tiba dari belakang bagian kiri ada yang menempel saya dan dari bagian kanan saya merasakan ada tangan yang masuk ke kantong belakang celana tempat dimana dompet berada! Saya pun langsung reflek dan langsung memegang celana belakang juga dan dompet saya (dalam hati saya yang penting dompet harus selamat dulu).

.

Setelah saya yakin dompet sudah saya pegang di kantong belakang, tangan orang tersebut dicabut (mungkin dia kesusahan ngambil dompet saya hehe..) dan saya langsung menengok kebelakang ingin melihat siapakah dia. Ternyata saat saya menengok ke belakang, ada 2 orang ANAK KECIL berumur sekitar 12 tahun yang mukanya kaya ketauan ke-gap mau nyuri.

.

Setelah itu mereka seolah-olah ngobrol dalam bahasa perancis (kalo feeling saya mereka pura-pura salah naik kereta) lalu mereka berdua keluar dari kereta (posisi pintu saat itu memang masih terbuka). Setelah mereka keluar, pintu tertutup dan kereta langsung jalan.

.

Di situ saya bener-bener langsung lemesss.. Coba bayangkan jika saya mungkin telat satu detik aja megangin dompet, mungkin ceritanya udah beda, dan semua uang saya selama di sana saya taro di dompet itu. Jadi bener-bener ga kebayang apa jadinya kalo bener-bener kecopetan. Alhamdulillah bangettt, Allah Swt masih melindungi saya..

.

Setelah puas di Paris, saya melanjutkan pergi ke Brussels, Belgia dengan kereta selama 1,5 jam (cerita tentang di Brussels sudah saya ceritakan di topic “Sang Maha Pengatur” ya, jadi tidak perlu diulang disini).

.

Setelah tinggal 1 malam di Brussels, saya melanjutkan perjalanan terbang ke Amsterdam, Belanda. Di Amsterdam saya banyak bertemu teman-teman yang sedang kuliah atau kerja di sana, dan ada temen yang jadi guide saya selama di sana bernama Vidi, teman sewaktu “World Leadership Conference” di Singapore tahun 2009.

.

Kesan pertama tentang Amsterdam adalah kota yang sangat tenang dan tanpa polusi. Bagaimana tidak, rasanya hampir lebih dari 70% masyarakatnya menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama! Bahkan pergi ke kantor dengan memakai jas dan dasi pun tetap naiknya sepeda. Udaranya betul-betul segerrrrrrrr!!

Bicycle is everywhere
I amsterdam

.

Di Amsterdam saya juga bertemu dengan Sandra Van Beest, teman lama yang sudah 3 tahun tidak berjumpa. Kami pertama kali bertemu saat menghadiri acara International Youth Forum pada tahun 2008. Saat itu Sandra sebagai Netherland Youth Delegates for United Nations.

.

Keesokan harinya, menjelang malam hari saya mengunjungi tempat yang bernama Casa Rosso. Tempat ini direkomendasi oleh sohib saya Ihsan Fadhlur Rahman aka Ichan (mungkin dia udah jadi langganan di sana). Saya sendiri awalnya ga tau ini tempat apaan, ternyata setelah nanya Vidi, ternyata tempat ini adanya di Red District hahaha..

.

Karena penasaran saya pun coba mampir ke daerah Red District, karena kata Vidi juga, kalo belum ke daerah Red District itu namanya belom pernah ke Belanda. Baiklah kalo begitu, saya ikut guide saja.. Setelah berjalan dan menaiki trem dengan sang guide akhirnya saya sampai dan tepat berada di depan Casa Rossooo!! Dan cerita pun berhenti sampai di sini hehehe…

Touchwodn Casa Rossooo!!
Red District at night

.

Salam dari Doha yang sejuk,

@MuhammadAssad

11 thoughts on “G20 Youth Summit 2011: Lessons on Leadership

  1. semoga mas assad bisa berguna bagi bangsa dan negara kelak ya…
    ditengah carut marutnya negri ini dibutuhkan generasi muda yang bisa melawan arus budaya korupsi yang sudah mengakar ini.(hahaha sok banget bahasanya)

  2. bru td pgi bres bca bku NFQ,,subhnlh..sangat2 menginspirasi,,crta2 d berbagai negara pun membuat sya smkin terinspirasi untuk belajar d negara2 luar..trmksh ats tulisan n ilmu2nya,,,ikatlah ilmu dengan tulisan ^^

  3. waaahhh
    alhamdulillah banget tuh dapet pengalaman yang udah aku impikan sejak dulu kak…

    mudah2an banyak orang yg seperti k2.(bisa membuat Indonesia bangga)
    semoga aku juga ketularan niihh…. >.<
    Semoga Ka Assad slalu dalam lindungan Allah….
    Amiinn……

  4. Alhamdulillah.. dapet ilmu baru lagi ya kita terutama untuk saya sendiri dan umumnya untuk kita semua yg membaca #NFQ ini.

    smoga kita selalu dberikan ilmu-ilmu & pengalaman baru dari Allah yang datangnya dari mana aja, dan buat buat Assad keep inspiring tuk semua tulisannya.
    tetep semangat \(^_^)/

  5. Subhanallah…

    Mantap bro.. hehhee keep it up..
    anyway,, gimana caranya kalo kita mau ikutan program ini?

    oia,, aq liat di beberapa foto b’assad.. ada pak epik, bu epik and andini,,
    I know them,, satu penempatan dulu di sudan.. mereka masih di paris ya?

    ayway,, cool experience and hope bisa memberi positive impact ke negara kita.. INDONESIA! hehhehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s