#SSS 15: Terharu Ketulusan Sang Kakek

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Riezka Sari (@RiezkaSari / riezka_sari@yahoo.co.id)

.

Salam kenal Assad, saya tahu kamu karena dulu saya kakak kelasmu di Al-Azhar dan beberapa circle pertemanan lainnya yang akhirnya membuat saya tahu assad 🙂

.

Oke, kita mulai cerita dahsyat sedekah saya. Demi Allah setiap cerita tentang keajaiban sedekah yang saya alami, saya bahkan sudah merasakannya sebelum saya lakukan secara nyata alias baru niat aja.

.

Saat kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, saya menemukan berbagai macam variasi manusia dengan latar belakang social budaya ekonomi yang tentunya berbeda-beda. Saya bertemu dengan lingkungan pertemanan yang baik dan senang bersedekah. Saat itu, setiap sedekah niat saya hanya membantu, dan tidak pernah ‘ngeh’ dengan efek sedekah itu. Saya hanya merasakan senang jika bisa membantu orang lain dan melihat mereka bahagia dengan bantuan tersebut.

.

Dulu waktu kuliah, saya lebih di ngeh-in sama Allah Swt sama efek dari Shalat Dhuha. Meskipun begitu, saya tetap sedekah, besar ataupun kecil, dan yang pasti saya bahagia melihat orang-orang di sekitar saya terbantu. Sama sekali tidak mengharapkan balasan apa pun dari Allah Swt kecuali pahala.

.

Hingga akhirnya saya menikah dengan lelaki yang juga ringan tangan membantu orang. Di sinilah saya mulai merasakan efek dari balasan Allah Swt tersebut. Banyak sebetulnya hal-hal mengenai sedekah dan balasan-Nya pada saya, tapi saya akan menceritakan kejadian haru yg sampai membuat saya menitikkan air mata.

.

Suatu pagi, saya hendak berangkat kantor. Tiba-tiba datanglah seorang kakek renta, membopong peralatan gunting rumput. Kakek itu meminta pekerjaan pada saya, tetapi saat itu keadaan taman saya sudah sangat rapi. Saya pikir untuk apa kakek renta itu bekerja untuk taman saya. Saya bilang pada kakek tersebut, “Kakek maaf, taman saya sudah sangat rapi kek, bagaimana kalo kakek datang 2-3 hari lagi, mungkin rumputnya sudah tinggi.”

.

Kakek itu menjawab, “Kakek udah muter-muter dari galaxy sampai sini (rumah saya di Kemang Pratama) belum dapet kerjaan satu pun Bu.” Mulai hati ini teriris. Kakek yang sudah renta itu masih niat cari kerjaan, masya Allah.. Akhirnya saya buka pintu mobil dan ambil uang seada-adanya di dompet tinggal 20ribu.

.

Saya menyesal, kenapa kok uang ya tinggal 20ribu. Tapi bismillah saya doakan itu berkah buat kakek dan saya. Saya berikan uang 20ribu itu kepada si kakek, “Kek, ini ada sedikit uang untuk kakek sekedar makan, kakek gak usah kerjain rumah saya, ini anggep aja saya bayar usaha kakek ya. Maaf ya kek cuma bisa kasih seadanya.” Sang kakek sangat berterima kasih, sampai akhirnya ia pamit pergi.

.

Beberapa hari kemudian, saya tersentak kaget dan tidak percaya. Tidak pernah saya mengalami hal ini sebelumnya. Kakek itu kembali lagi. Saya pikir kakek itu mau motong rumput saya. Tapi ternyata apa yang saya dapati saat keluar rumah dan membukakan pintu, si kakek malah menyodorkan 3kg karung isi bawang merah.

.

Sontak air mata saya menetes deras. Saya begitu terharu, “Yaa Allah, kakek ini begitu sayang sama saya, saya tidak berharap apa-apa dari beliau.” Tapi tiba-tiba beliau datang hanya sekedar untuk memberikan buah tangan dari kemarin dia habis pulang kampung.

.

Begitu saya tanya, “Kakek mau motongin rumput saya kek?” Jawab si kakek, “Gak Bu, kakek udah janji sama orang buat rapiin taman dia, saya ke sini cuma buat anter bawang dari kampong untuk Ibu, masih seger-seger Bu.” Masya Allah saya betul-betul terharu dengan kebaikan dan ketulusan si kakek.

.

Sampai sekarang ini kakek itu kerap datang ke rumah saya, sekedar memberikan telor asin, beras ketan atau hasil bumi lainnya dari kampungnya. Alhamdulillah saya juga tetap memberikan sedekah untuknya, terkadang dengan jumlah yang lebih besar dan kadang memberikan barang yangg masih bagus untuk dikenakannya.

.

Sedekah memang sungguh luar biasa, dan tidak harus selalu dibalas dengan bentuk materi. Dari sebuah sedekah sederhana, saya bisa mendapatkan seorang saudara seiman yang baru yang saya tidak tahu siapa dia sebelumnya. Seorang saudara baru yang mendoakan saya dan kerap berkunjung ke rumah saya. Bagi saya, itu jauh lebih berharga dari sekedar materi.

.

Setiap saya sedekah, saya selalu merasakan kebahagiaan yang luar biasa dan tidak pernah takut kehabisan uang untuk terus membantu orang dalam hal apapun. Saya yakin ridho Allah Swt selalu bersama saya. Alhamdulillah, semua balasan-Nya selalu benar adanya seperti apa yang saya yakini. Allahuakbar..

.

*** THE END ***

Bagi teman-teman yang punya cerita dahsyatnya sedekah dan ingin berbagi inspirasi dengan yang lain, silahkan kirim ke muh_assad@yahoo.com dengan subject #SSS – (Judul Cerita). Saya akan posting di blog ini dan yang menarik akan dimasukkan ke dalam buku Notes From Qatar 2.

.

Regards,

@MuhammadAssad

#SSS 14: Memuluskan Impian S2 Ke Jerman!

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Lena Citra Manggalasari (lena_manggalasari@yahoo.de)

.

Sudah hampir setahun ini saya tinggal di jerman untuk melanjutkan belajar S2. Belajar di Jerman adalah impian saya sejak saya kelas 4 SD. Jerman adalah negara impian saya. Sampai kemudian saya kuliah S1 di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, saya masih bermimpi untuk melanjutkan study ke jerman. Berbagai seleksi beasiswa saya ikuti. Dari mulai Studien Reise sampai Sommer Kurs. Tapi tak satu pun yang saya dapat.

.

Berbagai lomba dari goethe Institut saya ikuti dengan hadiah ke Jerman, pun tak satu pun yg saya menangkan. Sedih itu pasti, karena merasa Jerman begitu jauh digapai. Tapi alhamdulillah saya tidak pernah lelah mengejar mimpi saya. Mimpi melanjutkan study ke Jerman masih rapi saya simpan di dalam hati, di dalam pikiran dan di dalam doa saya. Cacian dari teman sudah sering saya dapatkan.

.

Bahkan sampai sekarang saya masih bisa mengingat kata-kata seorang kawan KKN saya, “Kamu mau study ke Jerman? Mimpi!!!!” Rasanya sakit mendengar kawan saya berkata demikian, tapi saya tidak pernah membenci kawan saya itu, karena entah kenapa kata-kata kawan saya itu menambah semangat saya untuk terus mengejar mimpi.

.

Tahun 2007 akhir saya lulus S1, setelah mendapat ijazah saya langsung mendaftar beasiswa. Saat itu saya menemui banyak kesulitan karena kebanyakan beasiswa Master hanya untuk orang yang mempunyai pengalaman kerja minimal 2 tahun. Saat itu saya berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa S2 agar saya tidak merepotkan orang tua lagi.

.

Akhirnya saya putuskan untuk melamar pekerjaan. Alhamdulillah tidak lama setelah kelulusan saya diterima bekerja di salah satu universitas di Yogyakarta. Bukan sebagai Dosen tapi sebagai Staf Administrasi. Selama bekerja saya tetap mencari peluang beasiswa. Dari mulai beasiswa ke Swiss sampai yang ke Amerika. Beasiswa apa saja yang cocok dengan qualifikasi yang saya punya saat itu.

.

Seleksi demi seleksi saya jalani, saya tetap gagal di pertengahan seleksi atau di seleksi akhir. Lama-lama saya rasakan begitu berat. Bulan Juli Tahun 2010 saya mengumpulkan kertas-kertas dokumen yang sudah saya siapkan untuk mendaftar beasiswa Master DAAD (waktu itu sambil menangis).

.

Waktu itu sekitar pukul 6 sore saya mengirim aplikasi beasiswa saya di kantor pos pusat Yogyakarta. Waktu itu hujan, saya naik motor menuju kantor pos pusat karena disana buka layanan sampai jam 8 malam. sore itu memang harus saya kirim , karna aplikasi paling lambat harus berstempel tanggal 31 Juli 2010. Dalam hati saya berkata “Ya Allah, sampai disini perjuangan saya, saya tidak akan melamar beasiswa lagi.” 

.

Malamnya saya tidak bisa tidur karena saya harus memutuskan sesuatu untuk hidup saya. Jika tahun ini masih gagal juga, maka saya hanya akan bekerja saja. Malam itu saya putuskan: selagi menunggu pengumuman beasiswa, karna ini adalah beasiswa terakhir yang saya daftar, maka saya harus berusaha sepenuh hati. Saat ini yang saya harus lakukan adalah memperbaiki ibadah dan perbanyak doa.

.

Mulai saat itu saya rutinkan sholat tahajud, sholat dhuha dan tentu saja, sedekah. Saya menyebutnya Sedekah gila-gilaan (sedekah dengan nominal terbanyak yang pernah saya lakukan). Setiap hari Jumat saya sedekah sekitar Rp 200-250 ribu, berlangsung dari Juni sampai November. Saya tidak mau setengah- setengah dalam berusaha, waktu itu saya berpikir karena ini terakhir saya perjuangkan mimpi saya, jika jawabannya tidak juga. paling tidak saya tidak menyerah begitu saja.

.

Seminggu sekali setiap hari jumat saya datangi rumah tahfidz (rumah hapalan Alquran), disana saya biasanya memberi amplop yg isinya uang sedekah dan kertas doa, di kertas itu saya tuliskan doa-doa saya termasuk doa agar saya lulus seleksi beasiswa. Kertas doa itu nantinya akan dibacakan oleh santri-santri disana setiap mereka selesai sholat. begitu seterusnya selama berbulan-bulan.

.

Akhirnya saya menemukan titik terang. Saya mendapatkan Email dari Technische Universitaet Dresden, Jerman yang menerangkan bahwa saya lolos ke tahap wawancara. Saya sangat bahagia waktu itu, lumayan pikir saya waktu itu, naik ke tahap selanjutnya. Beberapa hari kemudia pihak Technische Universitaet Dresden menelepon saya, waktu itu saya sedang bersama teman-teman di rumah coklat di Yogyakarta.

.

Setelah wawancara  selesai saya memberanikan diri bertanya dalam bahasa Jerman waktu itu, “Ist das sicher, dass ich dieses Stipendium bekommen?” (“Apakah saya pasti dapat beasiswa?”), jawabannya  tidak memuaskan , “Anda belum tentu lolos di tahap wawancara ini”. Ya sudahlah, saat itu saya tidak mau banyak pikiran , saya hanya mau terus berusaha sampai keputusan final.

.

Tiba-tiba pada tanggal 9 Desember 2010 sebuah Email datang yang isinya:

Dear Ms. Manggalasari, we are pleased to inform you that you have been awarded a scholarship for the master course “Vocational Education and personnel Capacity Building” at the TU Dresden, Germany.

.

Saat itu langsung bergetar hati saya.. deggg… deggg… deggg… Subhanallah.. akhirnya mimpi saya untuk mempelajari ilmu yang sangat saya sukai di universitas impian saya datang secara tiba-tiba! Apa yang saya impikan selama ini sudah ada di depan mata! Alhamdulillah…

.

Akhirnya, tanggal 5 April 2011, MIMPI SAYA DIBAYAR CASH SAMA ALLAH SWT! Saya berangkat dari Yogyakarta menuju Frankfurt, Jerman.

.

Benar-benar luar biasa ganjaran sedekah yang Allah Swt berikan kepada saya. Nilai beasiswa yang saya terima sekarang ini sekitar Rp 500 juta. Sekarang di Jerman saya kembali rutinkan sedekah gila-gilaan dengan nominal Euro, karena saya punya banyak cita-cita, pengen banget umrah bareng Ibu dan Bapak dan juga pengen nikah (walaupun belom tahu sama siapa hehe..) Namanya juga usaha ya mas Assad hehe.. Sukses selalu ya mas Assad dan semoga selalu dilindungi oleh Allah Swt! Amiiin..

.

*** THE END ***

Bagi teman-teman yang punya cerita tentang dahsyatnya sedekah dan ingin berbagi inspirasi dengan yang lain, silahkan kirim ke muh_assad@yahoo.com dengan subject #SSS – (Judul Cerita). Saya akan posting di blog ini dan yang menarik akan dimasukkan ke dalam buku Notes From Qatar 2.

.

Regards,

@MuhammadAssad

#SSS 13: Menang Doorprize Rumah!

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Riri Setiabakti (@riri_setiabakti)

.

Sebenernya kisah ini bukan aku yang ngalamin, tapi ini pengalaman ade aku, namanya Kasyful Hadi. Aku udah minta izin sama dia buat share pengalaman yg subhanallah deh buat kita sekeluarga bikin merinding, haru, percaya ga percaya, dan pastinya bikin yakin kalo Allah dah berkehendak apapun sangat mudah untuk-Nya. Kun Fayakun deh..

.

Tanggal 19 Agustus 2010, waktu itu kita sekeluarga ke Jogja untuk menghadiri acara wisuda ade ku ini. Hadi kuliah di UGM. Setelah acara wisuda selesai, Hadi dpt SMS yang ngabarin kalo dia dapet beasiswa untuk ngelanjutin S2 di UGM juga. Alhamdulillah kita semua seneng, cita-cita dia untuk ngelanjutin S2 kesampaian. Padahal tadinya dia udah pesimis juga bisa dapat beasiswa ini, soalnya sudah tidak ada kabar 3 bulan lebih, jadi dia juga hampir sudah lupa ngelanjutin S2.

.

Singkat cerita lanjutlah dia melanjutkan S2 di UGM. Saat liburan lebaran, Hadi balik ke rumah dan dia bilang pengen beli sepeda, katanya buat olahraga. Pengen jadi biker katanya hehe.. Saat kembali ke Jogja dia pun membeli sepeda dan mulai bersepeda ke kampus. Suatu hari ada temennya ngajakin ikut acara Fun Bike yang diadain salah satu sekolah tinggi terkenal di Jogja.

.

Awalnya dia ogah-ogahan dan daftar di hari terakhir, itupun temannya yang daftarin. Besok paginya Hadi dan teman-temannya udah siap-siap dan bersemangat ikut acara Fun Bike tersebut. Ternyata eh ternyataa… Pesertanya ada 12 ribu orang!! DUA BELAS RIBU ORANG!!!!

.

Sebelum peserta dilepas ada obrolan ringan antara hadi dan teman-temannya, kurang lebih begini katanya, “Di, mudah-mudahan gue deh yg dapet doorprize hadiah utama rumahnya, soalnya bentar lagi kan gue mo nikah.” Panitia emang nyediain 1 unit rumah untuk hadiah utama, mobil xenia tuk hadiah ke-2, trus motor, kulkas, laptop, tv, hp dan lain-lain deh pokoknya. Trus ade ku bilang, “Iya deh lo rumah gpp, gue dapet mobil aja.”

.

Tibalah saat pelepasan para peserta. Setelah bendera tanda start dikibarkan, para peserta mulai menuntun sepedanya masing-masing.. Lho kok dituntun sepedanya? Kenapa ga dinaikin? Jawabannya: karena ga bisa dinakin, pesertanya kebanyakan ada 12 ribu orang! Hehehe… Baru setelah beberapa kilometer bisa dinaikkin. Pesertanya ga cuma dari Jogja aja, tapi dari kota-kota lain di seluruh Indonesia.

.

Selesai acara Fun Bike smua peserta kumpul di lapangan buat liat acara hiburan yang diadain panitia dan tentu saja buat ngikutin acara pengundian doorprize. Panitianya bilang untuk pengumuman pemenang besok sudah bisa dilihat di situs kampus. Karena males ngikutin acara hiburan, Hadi pulang ke kost. Besoknya dia liat pengumuman di situs yang dikasi panitia dan nama Hadi ga ada di daftar pemenang doorpize, karena emang pengumuman pemenangnya belum ada hehehe..

.

“Oohhh ya sudahlah, lagian ga ngarepin dapet doorprize juga.” Kata Hadi dalam hati. Waktu itu hari Senin, nah lusanya atau hari Rabu pas lagi kuliah Hadi ditelpon sama temennya yang sama-sama ikutan Fun Bike dan daftarin dia ikut Fun Bike juga. Temennya itu bilang kalo dia lihat nama Hadi ada di daftar urutan nomer 1 pemenang doorprize Fun Bike dan berhak atas HADIAH UTAMA yaitu 1 UNIT RUMAH TYPE 37 seharga Rp 107 juta!

.

Temannya lalu memberikan daftar lengkapnya, dan ini buktinya…

.

Percaya ga percaya, Hadi langsung pulang ke kostan buat ngambil nomor peserta, menghubungi panitia dan besoknya dia ketemu sama panitia Fun Bike. Pas ketemu panitia, panitianya bilang “Ya ampun maaaasss, mas kmana aja? Hampir aja kita mau susulin mas ke cianjur ke alamat yg ada di KTP. Gimana mas perasaannya? Kok mas kaya ga seneng sih?”

.

Si Hadi jawab, “Bukannya ga seneng mas, saya bingung aja gitu, percaya ga percaya hehe..” Setelah serah terima hadiah secara simbolis yang dikasih kunci gede banget itu, Hadi pulang ke kost-an seperti tidak terjadi apa-apa, padaha temen-temennya udah pada heboh minta makan-makan lah, minta sepeda si Hadi lah, dll.

.

Sebelum ketemu panitia itu Hadi nelpon saya memberitahukan berita gembira tersebut. Setelah saya melihat langsung pengumuman pemenang doorprize Fun Bike nya, saya baru percaya kalau ternyata memang iya ada nama ade ku di daftar pemenangnya! Setelah urus ini itu, pajak balik nama dll, akhirnya Alhamdulillah.. Ini dia rumah pertama Hadi ade ku yang kita sebut rumah doorprize hehe…

.

Lho terus cerita sedekahnya mana?? hehehe… Jadi gini, ternyata beberapa minggu sebelumnya, waktu ramadhan 2010 itu Hadi sedekah uang Rp 600 ribu ke salah satu masjid di Jogja. Rp 600 ribu itu pun bukan dia sendirian, tapi berdua sama temennya masing-masing Rp 300 ribu. Mereka sedekah ke mesjid buat orang yg buka puasa.

.

Cerita berkah sedekahnya ga cuma sampe disitu. Sekarang ini waktu email ini dikirim Hadi lagi ada di belahan dunia lain yaitu benua Eropa tepatnya di Swedia. Hadi dapet beasiswa untuk double degree nya disana. Alhamdulillah..

.

Subhanallah ya, cuma sedekah 300 ribu, Allah Swt mengembalikannya bukan lagi 10x lipat, bahkan lebih dari 700x lipat! Mulai dari Hadi dapet beasiswa S2 di Jogja dan di Karlstad University – Swedia dan dapat hadiah rumah. Kalau itu semua ditotalkan nominalnya adalah ratusan juta rupiah.  Saya semakin yakin, memang benar bahwa jika Allah Swt sudah ingin memberikan sesuatu kepada makhluk-Nya, tidak ada satupun yang bisa menghalangi.

.

Semoga kisah Hadi ini bisa memberikan keyakinan yang semakin kuat bagi kita, bahwa yang namanya sedekah itu memang tidak akan pernah mengurangi rezeki kita, justru akan mengundang rezeki-rezeki lain berdatangan. Balasannya pun bukan hanya di dunia, tapi juga sebagai bekal pahala kita di akhirat kelak.

.

*** THE END ***

Bagi teman-teman yang punya kisah dahsyatnya sedekah dan ingin berbagi inspirasi dengan yang lain, silahkan kirim ke muh_assad@yahoo.com dengan subject SSS. Saya akan posting di blog ini dan yang menarik akan dimasukkan ke dalam buku Notes From Qatar 2.

.

Regards,

@MuhammadAssad

#SSS 12: Perlindungan-Nya Sangat Nyata!

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Dyah Sulistowati (@dysulis)

.

Setelah membaca buku Notes From Qatar 1 beberapa bulan yang lalu, saya merasa takjub dengan cerita-cerita mas Assad tentang manfaat sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Cerita itu membuat saya, yang biasanya hanya sedekah ala kadarnya dan tidak rutin, menjadi tertantang untuk bersedekah lebih dari biasanya. Mulai saat itu saya memantapkan niat untuk bersedekah minimal 10% setiap bulannya.

.

Namun entah mengapa saya justru tergiur untuk bersedekah lebih dari itu. Sudah beberapa bulan ini saya menyisihkan hampir 30% gaji kerja sampingan saya untuk sedekah, umumnya disalurkan untuk pembangunan sekolah gratis bagi anak yang tidak mampu, pembangunan masjid, dan untuk anak yatim. Saya benar-benar merasakan manfaatnya hari Rabu, 7 Desember 2011. Seperti ini ceritanya…

.

Saat itu saya baru saja pulang kuliah sekitar jam dua belas siang, kemudian bersama teman-teman menyempatkan diri untuk makan siang dan berbincang-bincang dulu di kafe sekitar perempatan jalan Pemuda, Rawamangun. Sekitar jam dua saya pulang. Biasanya saya pulang naik metromini 47 dari kampus yang lokasinya di Rawamangun juga.

.

Ketika menaiki metromini, tadinya saya berniat duduk di kursi ketiga di belakang supir. Namun entah mengapa saya merasa orang yang duduk di sebelah kursi itu terlihat kriminal. Jadilah saya duduk tepat di belakang supir. Saat itu saya merasa bangkunya kurang nyaman sehingga ketika ada seorang pria yang ingin turun, saya bergegas untuk pindah ke tempatnya. Tempat yang diduduki oleh pria itu tepat di dekat pintu masuk metromini bagian depan, jadi saya merasa tempat itu pastilah nyaman.

.

Ketika pria itu hendak turun, saya bangkit dari tempat duduk. Lalu pria itu memanggil temannya (yang saya curigai sebagai seorang kriminal) untuk turun juga. Ketika saya ingin pindah posisi, tiba-tiba saja saya dihimpit. Saat itu ponsel saya ada di saku baju saya (saat itu saya memakai baju sepanjang lutut dan celana panjang. Saku baju terletak di dekat lutut). Kejadian itu terjadi begitu cepat.

.

Merasa ada yang aneh, saya memeriksa saku saya yang tiba-tiba kosong. Dan ternyata… PONSEL SAYA HILANG!! Pandangan saya langsung tertuju ke tempat duduk saya sebelumnya dan dua orang pria yang menghimpit saya. Mereka belum turun. Ketika saya yakin bahwa ponsel saya dicopet mereka, salah satu dari pria itu dengan gugup mengembalikan ponsel saya. Dia bilang ponsel saya terjatuh di bawah tempat duduk saya.

.

Saya bingung, mereka pun terlihat bingung. Lalu mereka turun lewat pintu belakang metromini. Untuk beberapa saat, saya berpikir dan berusaha untuk memutar ulang kejadian tersebut dalam otak saya.

.

Setelah mereka turun, ibu-ibu yang ada di samping kanan saya menceritakan bahwa dua pria tersebut bersekongkol untuk mencopet ponsel saya. Salah satu pria tersebut (yang berwajah kriminal) bertugas untuk mengambil ponsel dari saku saya ketika pria yang satunya lagi menghalangi jalan saya. Kejadiannya memang terjadi begitu cepat sehingga hampir tidak ketahuan.

.

Dalam hati saya bertanya, mengapa ibu-ibu tersebut tidak berteriak “Copeeeettttt!!”, dan bukan hanya diam menyaksikan saya dicopet. Para pencopet itu memang terlihat kebingungan saat tahu saya tidak jadi turun dan hanya pindah posisi tempat duduk. Karena takut diteriaki “copet”, maka salah satu dari pria tersebut mengembalikan ponsel saya dengan alasan “jatuh di bawah tempat duduk”.

.

Sekedar informasi, ponsel saya sudah hilang dua kali dalam dua tahun terakhir dan kedua ponsel saya tersebut selalu hilang di bis. Jadi tepat setahun saya kehilangan ponsel, ponsel penggantinya hilang lagi di bulan yang sama. Semua itu terjadi karena kecerobohan saya.

.

Dan untuk ketiga kalinya ini, ponsel saya pun nyaris raib akibat kecerobohan saya lagi. Pada saat itulah saya merasa Allah Swt telah melindungi dan menghindarkan saya dari bahaya ini. Dua hari setelah saya bersedekah untuk anak yatim, Allah Swt menolong saya yang sangat ceroboh ini dari kejadian hampir kecopetan itu. Saya benar-benar bersyukur dan memohon ampun pada-Nya karena kecerobohan saya. Saya merasa kejadian itu sungguh luar biasa.

.

Sejak saat itu, saya jadi keranjingan sedekah. Saya ingin selalu diberi “kejutan” oleh Allah Swt seperti kejadian tersebut. Selain itu, ketika bersedekah yang beda dari biasanya, saya merasakan sensasi kebahagiaan yang menjalar dalam tubuh saya. Senang rasanya jika hasil jerih payah saya bisa berguna bagi orang lain.

 .

*** The End ***

Bagi teman-teman yang punya kisah dahsyatnya sedekah dan ingin berbagi inspirasi dengan yang lain, silahkan kirim ke muh_assad@yahoo.com dengan subject #SSS – [Judul Cerita]. Saya akan posting di blog ini dan yang menarik akan dimasukkan ke dalam buku Notes From Qatar 2.

.

Regards,

@MuhammadAssad

SSS 11: Pertolongan Allah Swt Tidak Pernah Terlambat

#SSS (Sedekah Super Story) kiriman Nurafni (@av_nee)

.

Keyakinan mengantarkan saya kesini ke kota Jakarta, kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, saya mulai kisah ini di pertengahan bulan November 2010. Rupanya Allah Swt telah merencanakan sesuatu yang indah untukku.

.

Setelah lulus kuliah, saya mempunyai cita-cita untuk mencari pekerjaan supaya memperoleh penghasilan sendiri agar tidak membebani orangtua lagi. Memasukkan aplikasi lamaran ke berbagai Bank dan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja berdasarkan kualifikasi yang saya miliki, tidak ketinggalan sebagai pegawai negeri. Dulu, saya tidak mau menjadi pegawai negeri kalaupun jadi saya mau yang Pegawai Negeri Pusat yang menurut saya tidak syarat korupsi, kolusi dan nepotisme.

.

Salah satu kementerian yang saya lamar adalah instansi yang sekarang saya mengabdikan diri di sana. Perjalanan menuju Jakarta dari kampong saya benar-benar penuh tantangan. Saya benar-benar gambling ketika melakukan perjalanan panjang dari Malang ke Jakarta menggunakan kereta api ekonomi Matarmaja pukul 14.00 WIB. Siang itu saya  membeli tiket seharga Rp 51.000,00 dengan tulisan berdiri tanpa tempat duduk.

.

Saya masih berpikiran positif mengira seperti perjalanan Malang-Surabaya yang bakal dapat tempat duduk ketika sampai di stasiun selanjutnya namun ternyata eh ternyata memang benar-benar tidak dapat tempat duduk, karena rata-rata penumpang memiliki tujuan perjalanan sekitaran Bekasi sampai Jakarta, dan saya pun berdiri sepanjang perjalanan di lorong-lorong gerbong bersaing dengan tukang asongan.

.

Tiba-tiba di depan saya ada kursi kosong dan tidak ada yang menduduki. Saya pun memberanikan diri untuk duduk di kursi itu. Tapi kekhawatiran mulai muncul, saya mulai takut akan seperti apa saya nanti jika kursi yang saya duduki ternyata berpenghuni. Waktu itu saya duduk di gerbong 7 gerbong khusus penumpang dari Stasiun Tulungagung jadi saya punya waktu 3 jam untuk duduk di kursi dan masih ada kurang lebih 18 jam lagi untuk sampai di Stasiun Senen, yah kurang lebih saya mulai panik, apalagi kereta yang lagi-lagi molor satu jam jadwal keberangkatannya dan baru akan berangkat pukul 15.00 WIB.

.

Dalam waktu satu jam itu saya diam dan berdoa dalam hati, “Ya Allah, perjalanan ini begitu berat, akankah saya bisa? Akankah saya berani mengunjungi kota yang saya tidak tahu sama sekali sebelumnya dan hanya bermodal peta dan jalur busway?” Saya memutuskan untuk sholat ashar dahulu sebelum berangkat dan saya pasrahkan seluruh urusan ini kepada Sang Penguasa Hati, dan saya “menggadaikan” urusan ini dengan sedekah yang aku keluarkan, tanpa menghitung terlebih dahulu semua yang tersisa di saku, aku keluarkan semuanya hanya berharap kepadanya.

.

Doa pun kupanjatkan, “Yaa Allah Swt, mudahkanlah urusanku, lindungi perjalananku, dan berikan pertolongan-Mu dengan sebaik-baik pertolongan. Kabulkan segala doaku Rabb…”

.

Aku kembali duduk di kursi itu dan sampai di stasiun Tulungagung jantungku berdebar kencang karena takut penghuni kursi ini muncul, tapi ternyata kekhawatiranku tidak terjadi, karena tidak juga muncul sampai keluar batas Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Stasiun Madiun. Alhamdulillah saya pun duduk hingga Stasiun Senen.

.

Sesampainya, saya mengikuti proses penerimaan kerja tersebut dari awal. Saya lulus dari seleksi pertama, lanjut ke tahapan psikotest, kemudian lulus ke tahapan wawancara akhir, dan Alhamdulillah.. Allah Swt kasih nikmat yang begitu berlimpah.. Saya pun dinyatakan lulus dan diterima bekerja di Instansi Kementrian yang saya cita-citakan. Setelah itu saya langsung kembali ke kampung dan mengabarkan hal ini kepada orang tua saya. Kabar baik ini membuat wajah ayah saya berbinar bahagia dan bangga, dan saya merasakan kesenangan yang amat luar biasa melihat ayah saya begitu bahagia.

.

Dari kisah ini, saya sadar bahwa memang keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan dari kecerdasan intelektualnya saja, tapi juga harus ditunjang dengan kecerdasan spiritual dan keyakinan yang kuat kepada Allah Swt. Selain itu, saya juga merasakan betul bahwa dengan sedekah, segala urusan terasa lancar dan merasakan betul pertolongan Allah Swt sangat dekat dan tidak pernah terlambat. Saya telah berjanji dalam diri untuk terus bersedekah agar selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.

.

Bagi teman-teman lain yang punya kisah-kisah dahsyatnya sedekah yang lain yang lebih seruuu, bisa langsung kirim ke muh_assad@yahoo.com dengan Subject “SSS”. InshaAllah akan saya posting di blog ini dan yang menarik bisa masuk ke buku “Notes From Qatar 2″ nanti okeee…

.

Regards,

@MuhammadAssad