Ikhlas: Mudah Diucapkan, Sulit Dilakukan

Assalaamu’alaikum, setelah minggu lalu #notesfromQatar membahas tentang sabar, pada hari ini saya akan membahas tentang ikhlasss! Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa sabar dan ikhlas ini terlihat sama seperti pinang dibelah dua, namun menurut saya ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya. Sabar adalah di saat kita MENUNGGU keputusan Allah, sedangkan ikhlas adalah sikap MELAKUKAN segala perbuatan hanya untuk Allah dan juga MENERIMA apapun yang telah diputuskan Allah.

.

Baiklah, tulisan tentang ikhlas ini akan saya mulai dengan sebuah cerita. Dikisahkan satu waktu Nabi Muhammad saw sedang berkumpul bersama para sahabat dalam satu majelis. Tiba-tiba ada salah seorang jamaah yang bangun dan bertanya, “Rasulullah, aku ingin bertanya sesuatu.” Rasulullah menjawab dengan ramah, “Silahkan, apa yang ingin kau tanyakan?” Dengan sikap yang agak tegang, sang sahabat itu pun bertanya dengan rasa penasaran, “Siapakah di antara kami yang akan masuk ke dalam Surga?”

.

Beberapa sahabat kaget dengan pertanyaan itu karena dianggap mengandung unsur riya dan ujub (bangga terhadap diri sendiri) serta tidak pantas ditanyakan. Ada juga beberapa sahabat yang marah terhadap pertanyaan itu, salah satunya adalah Umar bin Khattab, yang memang terkenal garang. Tanpa ba-bi-bu, Umar langsung berdiri dan mengeluarkan pedang dari sarungnya. Maksudnya tentu bukan ngasah pedangnya, tapi untuk nebas kepala sang penanya. Untung Rasulullah segera memberi isyarat kepada Umar untuk duduk, dan Umar pun kembali duduk. Kalau Rasulullah tidak memberi isyarat, mungkin kepala orang itu sudah terbang.

.

Rasulullah tersenyum mendengar pertanyaan itu dan kemudian beliau menjawab, “Kalian semua lihatlah ke pintu, sebentar lagi sang penghuni Surga itu akan muncul.” Setiap mata sahabat pun langsung menuju ke arah pintu dag-dig-dug menunggu kedatangan orang itu. Tidak lama kemudian, datanglah seorang pemuda sederhana yang mengucap salam lalu menggabungkan diri ke dalam majelis. Para sahabat bingung, karena sosok pemuda ini hanya seperti pemuda biasa yang pemalu dan tidak termasuk dari daftar sahabat dekat Rasulullah.

.

Para sahabat pun bingung apa kehebatan pemuda ini, dan mereka dengan sabar menunggu penjelasan dari Rasulullah. Rasulullah pun memberitahukan alasannya, “Setiap gerak-gerik dan langkah dari pemuda itu hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan keridhaan Allah. Itulah yang membuat Allah suka dan ridho kepadanya.” Bagai pisau dapur yang menancap daging rendang, “Jleebbbb!!” Para sahabat kaget dan tersentak karena banyak yang merasa bahwa segala amal perbuatannya selama ini terkadang tidak semata-mata karena Allah, namun diniatkan untuk hal lainnya.

.

Yes, itulah ikhlas!! “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am [6]: 162)

.

Makna Keikhlasan

Ikhlas berasal dari Bahasa Arab: khalasa (past tense) – yukhlisu (present tense) – ikhlas (noun). Kata tersebut bisa diartikan sebagai bersih, murni, jernih. Ikhlas berarti menjadikan segala sesuatunya bersih dan menghilangkan segala “kotoran” yang menempel. Ikhlas berarti melakukan segala amal perbuatan dengan memurnikan niat hanya untuk Allah dan tidak mengharapkan sekecil apapun imbalan dari orang lain. Ikhlas beribadah kepada Allah berarti menyembah-Nya dengan penuh ketaatan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

.

Ikhlas adalah intisari dari keimanan seseorang dan kualitas tertinggi kemurnian hati, karena segala sesuatu yang dikerjakan adalah “karena Allah dan hanya untuk Allah”. Dalam setiap perbuatan, hal yang pertama kali kita harus lakukan adalah bertanya kepada diri sendiri, apakah niatnya benar-benar ikhlas untuk Allah atau ada niat lain di belakangnya. Rasulullah bersabda, “Innamal a’malu bin niat, wa innamaa likullimri in maanawaa”, yang artinya “sesungguhnya segala amal perbuatan itu bergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya”.

.

Dari dua kalimat di atas, jika melihat secara arti tekstual seolah-olah sama. Namun, sebenarnya berbeda. Kalimat kedua adalah penegasan dari kalimat pertama. Imam Nawawi menjelaskan, kalimat pertama (Innamal a’malu bin niat) menerangkan segala amalan itu harus ada niat awalnya, dan kalimat kedua (wa innamaa likullimri in maanawaa ) bermakna bahwa hasil dari segala perbuatan akan sesuai dengan niat awal kita. Kalau kita melakukan perbuatan hanya dengan niat karena Allah, maka keridhoan Allah akan kita dapatkan. Tapi kalau tidak, bersiaplah karena biasanya kekecewaan yang akan didapatkan.

.

Selain itu, keikhlasan juga bisa dilakukan dengan menerima segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kita. Misalkan, kita ikhlas kuliah di universitas yang sebetulnya tidak diinginkan. Kita ikhlas bekerja di tempat yang gajinya mungkin tidak sesuai dengan harapan. Kita ikhlas menerima ujian dan cobaan yang telah diberikan Allah untuk kita, dst. Dengan memiliki bentuk keikhlasan seperti itu, maka akan menuntun kita untuk menjadi hamba yang bersyukur, dan dengan rasa syukur itu, maka seperti janji Allah, pasti akan ditambah nikmat-Nya.

.

“Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memberitahukan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'” (QS. Ibrahim [14]: 7)

.

Keikhlasan harus dilakukan di tiga waktu, yaitu sebelum melakukan perbuatan, ketika sedang melakukannya, dan setelah melakukannya. Oke saya kasih analogi mudahnya tentang ikhlas (tapi maaf nih kalo agak vulgar dikit hehe), yaitu saat kita buang air besar atau BAB. Lho kok? Ya di saat BAB itulah kita bisa melihat diri kita dalam kondisi ikhlas seikhlas-ikhlasnya, baik sebelum melakukan perbuatan, saat melakukannya, dan setelah melakukannya hehehe..

.

Ga percaya? Coba aja perhatiin baik-baik ya nanti next time saat bapak-bapak ibu-ibu lagi melakukan ritual BAB, pasti sebelum masuk ke toilet dalam hatinya udah ikhlas banget mau ngeluarin “something” nya itu, kemudian pas di dalem toilet lagi ngeluarin “something” nya itu bener-bener terasa ikhlas, ga pake diliat-liatin lagi dan langsung di-flush. Setelah di-flush pun pasti kita juga sangat ikhlas dan ga bakalan nyariin lagi “something” itu akan berlabuh dimana. Bener kan? Apa ada orang yang setelah mengeluarkan “something” nya itu lalu dikoleksi? Hehehe.. Nah itulah ikhlas! Setuju bos-bos semua?😀

.

Ikhlas VS Riya

“Berkata iblis: Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah menetapkanku sesat, sungguh akan kuusahakan agar anak manusia memandang indah (perbuatan dosa) yang tampak di bumi dan aku akan sesatkan mereka semua. Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (QS. Al-Hijr [15]: 39-40).

.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, iblis adalah musuh terbesar bagi manusia. Ayat di atas semakin menegaskan dan menggambarkan betapa jahatnya rencana iblis dalam mengganggu anak manusia. Dia telah berjanji dengan segenap tenaga dan kekuatan untuk menyesatkan seluruh anak-anak Adam yang tidak memiliki keikhlasan dalam mengerjakan sesuatu, berarti ada kemungkinan kita termasuk di dalamnya. Kalo kata Bang Napi, “Waspadalah!!!”

.

Jadi, jika tidak ingin diganggu oleh iblis laknatullah, maka mulailah untuk melakukan segala perbuatan dengan penuh keikhlasan. Lawan dari ikhlas adalah riya’, yaitu melakukan amal perbuatan dengan tujuan agar mendapatkan pujian atau balasan dari orang lain. Riya’ berasal dari Bahasa Arab ro’a yang berarti melihat, atau mengatur sesuatu agar segala perbuatan yang dilakukan dilihat orang.

.

Riya’ tentunya bukanlah perbuatan yang baik. Bahkan Allah menyamakan orang-orang yang riya’ ini sebagai ciri khas orang yang munafik. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa [4]: 142)

.

Riya’ juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Riya. Allah akan berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah kamu sekalian orang-orang yang berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu sekalian mendapatkan balasannya?’” (HR. Ahmad)

.

Melakukan sesuatu dengan penuh keikhlasan itu memang bukan sesuatu hal yang mudah, seperti judul yang diatas kalau ikhlas itu sesuatu yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Jujur, terkadang saya pun masih sering tidak ikhlas hehehe.. Tapi tentunya kita harus terus menerus melatih dan memperbaiki diri kita untuk mengerjakan sesuatu dengan penuh keikhlasan, tidak mengharapkan sesuatu apapun dari pekerjaan yang kita lakukan kecuali hanya untuk Allah.

.

Saya ingat dulu waktu masih kecil, saya belajar kalau lagi diliatin orang aja, jadi biar seolah-olah anak yang rajin, kalau ga ada orang ya lanjut tidur. Atau saya inget banget dulu pas lagi internship (magang) di KL sekitar tahun 2008, ruangan meja saya sebelahan dengan meja supervisor. Posisi mata saya selalu awas, kalau sang supervisor bangun dari tempat duduknya dan berjalan kearah saya, maka SOP (Standard Operating Procedure) yang harus saya lakukan adalah langsung seolah-olah sibuk ngetik dan bekerja hahaha.. Ini yang dinamakan bekerja tidak ikhlas alias riya’, karena ingin terlihat rajin oleh supervisor dan mendapat penilaian yang bagus.

.

Riya’ akan mendorong manusia untuk melakukan perbuatan dengan mengharapkan sesuatu. Apakah sesuatunya itu? Ya tergantung apa yang ada di pikiran masing-masing orang tersebut. Contohnya banyak. Misalkan ada seorang lelaki yang ingin melamar wanita pujaannya, nah untuk menyenangkan calon mertuanya, setiap kali main ke rumah pasti numpang shalat, padahal seumur-umur shalatnya bolong-bolong. Tujuannya apa? Ya mungkin ingin terlihat alim di depan calon mertua supaya direstuin kalo mau nikahin anaknya.

.

Akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan hadits Nabi Muhammad saw, “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah’, lalu Allah berfirman, ‘(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku.’” Semoga kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang dicintai Allah, maka dengan itu kita bisa merasakan nikmat ikhlas yang diberikan oleh-Nya.

.

Semoga #notesfromQatar hari ini dapat mengingatkan kita kembali untuk menjadi pribadi-pribadi ikhlas yang melakukan segala amal perbuatan semata-mata hanya untuk Allah dan juga ikhlas menerima segala keputusan-Nya. Tulisan ini pun tentunya juga sebagai pengingat untuk diri saya sendiri agar terus melatih dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih ikhlas.

.

Have a good Friday guysss…!!

.

Warm regards,

@MuhammadAssad

17 thoughts on “Ikhlas: Mudah Diucapkan, Sulit Dilakukan

  1. Setiap baca #NFQ yg “jleb!” pasti keluar air mata..😥 Selalu bikin hati tenang & sadar kita hrs ibadah trs.Jazakallah khair Assad🙂

  2. terimakasih untuk sharing ilmu nya tentang ikhlas hari ini…
    bismillah…smoga selalu bisa ikhlas karena Allah SWT…:)

  3. Thank you, Mas Assad. Tulisannya ttg ikhlas inspiratif skali. Sekali-kali nulis sesuatu brkaitan dg kuliah, Mas🙂

  4. Bang sudi kiranya melampirkan yang berhubungan dengan perawi hadits ini..
    “hadits Nabi Muhammad saw, “Aku pernah bertanya kepada Jibril tentang ikhlas. Lalu Jibril berkata, ‘Aku telah menanyakan hal itu kepada Allah’, lalu Allah berfirman, ‘(Ikhlas) adalah salah satu dari rahasiaku yang Aku berikan ke dalam hati orang-orang yang kucintai dari kalangan hamba-hamba-Ku.’” Semoga kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang dicintai Allah, maka dengan itu kita bisa merasakan nikmat ikhlas yang diberikan oleh-Nya.”

    atas informasinya saya ucapkan terima kasi

  5. Pelajaran ikhlas aku terjadi di Februari tanggal 17 tahun lalu saat mama tercinta dijemput Allah SWT. Disitu aku beneran belajar kata iklas, jadiii yaaa..sekarang InsyaAllah bisa bercerita tentang mama tanpa harus pakai nangis lagi. Because I know she’s happy going back to heaven🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s