My 365 Days in Qatar

Shabaahal khair!! Apa kabar teman-teman semua? Semalam baru saja FIFA mengumumkan bahwa Qatar akan menjadi tuan rumah World Cup 2022!! Saya sangat senang sekali mendengarnya karena memang Qatar sudah seperti rumah kedua. Selain itu, saya harus mengakui bahwa negara ini memang sangat deserves untuk menjadi tuan rumah karena saya melihat dan merasakan betul keseriusan mereka sejak setahun yang lalu. Komitmen dari pemerintah dan didukung oleh seluruh rakyat untuk menyukseskan acara ini sangat kuat.

.

Tak terasa juga sudah setahun lebih saya berada di Qatar. Suka dan duka pastinya ada, Duka-nya tidak perlu dibesar-besarkan, tapi suka-nya harus disyukuri. Saya benar-benar bersyukur diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa bersekolah di sini. Begitu banyak pengalaman berharga, pelajaran menarik dan cerita-cerita seru yang saya alami selama berada di sini. #notesfromQatar ini pun bisa ada karena saya diberikan kesempatan untuk sekolah di sini.

.

Saya membayangkan kalau saya kuliah di tempat lain, misalkan di Zimbabwe, mungkin namanya akan jadi Notes From Zimbabwe dong? Hehehe kedengerannya kurang asik kan.. Makanya Qatar memang sudah paling pas! Untuk itu, berbeda dari biasanya, pada tulisan kali ini saya akan sedikit berbagi cerita dan pengalaman kepada teman-teman dan pembaca semuanya tentang kehidupan saya di Qatar selama setahun ini. Let’s start it!

.

The Beginning…

“Qatar is a new chapter of my life!” Itulah kalimat yang pertama kali keluar dari mulut saya sekitar awal bulan Agustus 2009, saat menerima email dari Qatar Foundation yang mengabarkan bahwa aplikasi beasiswa saya diterima dan mendapat kesempatan untuk belajar S2 Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies – Member of Qatar Foundation di Doha, Qatar.

.

Setelah menerima email tersebut, perasaan saya sebenarnya bercampur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akhirnya impian untuk bisa belajar Islamic Finance di Qatar terwujud. Tapi di sisi lain sedih karena menyadari bahwa saya akan pergi lagi meninggalkan tanah air tercinta. Kepergian yang terasa berat karena saat itu saya baru saja menyelesaikan studi S1 di Malaysia selama 4 tahun. Selain itu, saya pergi di saat sedang merasakan kesenangan dan kenyamanan berkumpul bersama keluarga dan sahabat-sahabat.

.

Tapi saya sadar, “There is no growth in comfort zone and there is no comfort in growth zone. I must leave my comfort zone to grow.” Saya percaya bahwa Qatar adalah tempat selanjutnya untuk mengejar cita-cita, menempa diri, tumbuh dan berkembang. Kalau saya terus-terusan berada di tanah air, mungkin akan terlena dengan kenyamanan yang ada dan tidak akan menjadi produktif. Di dunia ini tidak akan pernah terjadi suatu kondisi ideal 100% yang sesuai dengan keinginan kita. In order to get something, we have to sacrifice something.

.

Akhirnya hari yang ditunggu datang juga. Pada tanggal 23 Agustus 2009, saya menuju airport bersama keluarga karena pada malam harinya pukul 10 akan terbang menuju Qatar dengan penerbangan Qatar Airways. Saat sampai di airport, sudah banyak sahabat-sahabat saya yang menunggu, ada sekitar 20 orang kalau tidak salah. Rasanya berat betul untuk pergi dan sebenarnya pada malam itu saya sudah hampir membatalkan dan tidak mau pergi hehe.. Tapi saya urungkan niat itu demi cita-cita yang lebih besar. Bismillaahirrahmaanirrahiim… I am ready to go.

.

Setelah duduk manis di pesawat selama kurang lebih 8 jam dan transit di Singapore sekitar 2 jam (total 10 jam), saya sampai juga dan mendarat di Doha International Airport. Saat Pertama kali menginjakkan kaki di negeri kaya minyak tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidup. Setelah melewati imigrasi, seperti biasa kita pergi menuju tempat untuk mengambil koper kan? Saya pun demikian.

.

Saya tungguin itu koper-koper keluar dan diliatin satu-satu. Setelah sekitar satu jam koper-koper makin lama makin sedikit lalu habissss, dan ternyata, yes, koper utama saya ga ada!! Saat itu bener-bener langsung lemes dan bingung harus ngapain, mau nangis juga ga banget rasanya hehe..  Lalu saya melapor ke bagian “Lost & Found”, menunggu kurang lebih 2 jam, dan setelah dicek ternyata sang koper tertinggal di Singapore! Oh My Goddd

.

Saya disarankan untuk pulang dan kembali esok hari. Untung saja di luar bandara sudah ada orang dari Qatar Foundation yang menjemput dan saya pun diantar ke apartemen untuk beristirahat. Keesokan harinya, saya kembali menuju airport dan koper saya sudah ada di sana dengan keadaan sehat wal afiat! Alhamdulillah… What a “memorable” experience!

.

Mengapa Memilih Qatar?

Saya percaya bahwa belajar itu tanpa batas tempat dan waktu. Belajar adalah sebuah proses berkesinambungan yang tidak berhenti dari saat kita melihat dunia ini hingga meninggalkannya. Belajar adalah kunci untuk mempelajari segala ilmu Allah SWT di dunia. Bukankah lima ayat pertama Al-Qur’an yang turun ke muka bumi ini adalah tentang kewajiban untuk belajar dan menggali segala ilmu pengetahuan dengan cara membaca?

.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1-5)

.

Membaca secara harfiah bukan hanya membaca Al-Qur’an saja, namun lebih jauh dari itu. Kita berkewajiban untuk ‘membaca’ alam semesta ini, ‘membaca’ kehidupan, ‘membaca’ sekitar kita, ‘membaca’ sebab akibat yang terjadi di bumi ini, ‘membaca’ pengetahuan, dan berbagai hal lainnya. Membaca merupakan kunci untuk membuka cakrawala  segala ilmu pengetahuan di muka bumi ini.

.

Saya percaya banyak sekali tempat di dunia ini untuk ‘membaca’ serta belajar, dan tiap negara memiliki spesialisasi khusus di bidangnya, misalkan Jepang yang terkenal dengan teknologinya atau Jerman yang maju dalam bidang industri. Jadi kalau ingin belajar teknologi ya ke Jepang dan jika ingin mahir di bidang industri ya belajar ke Jerman. Saya pun seperti itu saat memutuskan untuk memilih Qatar. Sebenarnya ada 2 alasan utama saya:

.

Pertama, jurusannya benar-benar cocok dengan apa yang saya inginkan, yaitu Islamic Finance (Ekonomi Syariah). Industri keuangan syariah saat ini sedang booming dan berkembang sangat pesat. Inilah satu-satunya sistem keuangan di dunia yang bisa bertahan dan berdiri kokoh menghadapi serangan krisis keuangan global, di saat sistem-sistem lain seperti Kapitalisme dan Liberalisme hancur berantakan.

.

Qatar menjadi tempat yang sangat tepat untuk belajar Islamic Finance karena negara-negara Timur Tengah (terutama Qatar, United Arab Emirates, Kuwait, dll) sekarang ini telah menjelma menjadi salah satu pusat keuangan ekonomi dunia selain China, dan bukan lagi Amerika Serikat atau Eropa. Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia, harusnya mampu memainkan peran lebih besar dalam bidang ini dan mempunyai visi dan misi yang jelas untuk menjadi pusat keuangan syariah dunia.

.

Kedua, negara-negara Timur Tengah memiliki khazanah budaya yang kaya dan beragam, dan saya sangat tertarik untuk mengeskplor dan mempelajari lebih jauh tentang itu. Hidup di kawasan Timur Tengah, bertemu dan bergaul dengan penduduk lokal, mempelajari adat dan budaya mereka, akan membuat saya mengerti dan memahami tentang kekayaan budaya yang belum diketahui sebelumnya. Khazanah dan wawasan saya semakin luas dan akan melihat dunia ini dengan kacamata open-minded, dan bukan narrow-minded.

.

Doha Sebagai Ibukota

Pertama kali mendengar kata Qatar, yang pertama terbayang di benak saya adalah tentang salah satu negara arab yang kaya raya dengan sumber daya alam melimpah, gedung-gedung pencakar langit, mobil-mobil mewah berseliweran di jalanan, dan hal-hal lain yang sering saya baca dan lihat di media. Apalagi, menurut data IMF, Qatar adalah negara dengan pendapatan GDP tertinggi di dunia! Bisa dibayangkan betapa makmurnya negara tersebut.

.

Ternyata dugaan saya memang benar. Qatar dengan Doha sebagai ibu kota memang terbilang maju dan cukup modern. Di berbagai tempat, pembangunan besar-besaran terus dilakukan, baik itu gedung perkantoran, hotel, jembatan layang, mall maupun jalan-jalan baru. Bagi kaum hawa yang doyan belanja, mungkin Qatar bisa dijadikan salah satu destinasi untuk liburan selanjutnya. Begitu banyak mall-mall, dari yang paling biasa sampe yang paling mewah, semua ada di sini. Ada Villagio, The Pearl, Landmark, City Centre, dll.

.

Gedung-gedung pencakar langit dengan berbagai bentuk pun sudah banyak yang berdiri kokoh. Corniche merupakan kawasan yang paling dirawat dan dijadikan sebagai pusat dari kota Doha. Hampir semua gedung-gedung pencakar langit ada di sana, termasuk Istana Emir. Kalau di Indonesia, mungkin seperti di daerah Sudirman-Thamrin.

 

Corniche Area, Doha
Istana Emir Qatar
Twin zig zag building in Qatar

.

Namun yang saya suka dari Qatar adalah mereka tidak meninggalkan kebudayaan aslinya. Di tengah-tengah gedung bertingkat dan megah, kita masih bisa melihat bangunan-bangunan tua dan tradisional. Ada Souq Waqif, pasar tradisional terbesar di Qatar tempat berbelanja barang-barang dan makanan tradisional, serta souvenir-souvenir ala Timur Tengah. Ada juga Museum of Islamic Arts, sebuah museum modern tempat mempelajari sejarah peradaban Islam dan Timur Tengah. Arsitektur bangunannya unik, terlihat menarik dan tertata rapi.

 

Souq Waqif, one of my fave places
Gerbang Museum of Islamic Art
Tampak Luar Museum of Islamic Art

Di salah satu ruangan di Museum of Islamic Art

Museum of Islamic Art in the night view

.

Saya memimpikan Indonesia juga bisa untuk lebih membangun bangunan yang bersifat budaya dan jangan mall-mall terus yang dibangun.. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang rakyatnya mengenal sejarah dan kebudayaan mereka. Kalau mall-mall terus yang dibangun dan diperbanyak, generasi muda Indonesia nantinya akan menjadi generasi hedonis yang cuma kenal sama Zara, Topman, Mango, Apple, Orange, Banana, Watermelon, dan kawan-kawannya hehehe…

.

My Daily Life

Di sini saya mengambil S2 Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies, Doha. Kampus saya berada di kawasan yang sangat megah dan besar bernama Education City Centre yang dimiliki oleh Qatar Foundation (QF). QF adalah organisasi yang dimiliki oleh Emir Qatar, His Highness Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, dan diketuai oleh istrinya Her Highness Sheikha Mozah bint Nasser Al Missned.

 

Visi dan misi QF adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan sumber daya manusia di Qatar dengan membangun sector pendidikan, riset serta memberdayakan komunitas. Demi mewujudkannya, QF mempunyai mega proyek ambisius dengan membangun kawasan pendidikan terpadu 500 hektar yang megah bernama Education City Centre.

.

Di dalamnya ada kampus saya dan juga sekitar 10 universitas top internasional juga membuka cabang kawasan ECC, seperti Georgetown University, Carnegie Mellon University, Qatar Faculty of Islamic Studies, Texas A&M University, Northwestern University, dll. Ada juga Qatar National Convention Centre, Al Jazeera Studio, Al-Shaqab Horse Ranch, Recreation Centre, Olympic Stadium, Library & Art Centre, Sidra Hospital, dll. Jadi ECC ini seperti negara di dalam negara.

.

Saya senang sekali bisa bersekolah disini karena bisa bertemu langsung dan diajarkan oleh orang-orang yang memang sangat ahli dalam bidang Islamic Finance. Bagi teman-teman yang juga dalam bidang Islamic Finance, pastinya tahu nama-nama seperti Prof. Monzer Kahf, Prof. Tariqullah Khan, Prof. Rodney Wilson, dll. Mereka adalah dedengkotnya Islamic Finance. Ada juga pakar-pakar di bidang syariah dan hukum Islam seperti (alm.) Prof. Mahmood Ghazi, Dr. Tariq Ramadhan, Dr. Jasser Auda, dsb. Coba aja meng-google nama-nama yang saya sebutkan di atas, dijamin ga akan selesai-selesai informasi yang diberikan (www.lebay.com).

Pintu gerbang Qatar Foundation
"Discover the world!"
Ada anak ilang depan kampus, kita angkut aja
Santai bareng Prof. Tariqullah Khan & Prof. Rodney Wilson
Suasana di salah satu kelas
Qatar Foundation Headquarter, tempat biasa ngadain acara

.

Tempat tinggal saya di kawasan Al-Sadd, sekitar 10 menit dari Corniche. Lokasinya strategis, kemana-mana mudah, dan di tengah kota. Beasiswa yang diberikan oleh Emir Qatar sudah mencakup semuanya (apartemen, transportasi, air, listrik, internet, buku, dan juga uang bulanan yang sangat lebih dari cukup). Jadi ibaratnya saya kesini cuma bawa badan aja udah cukup hehehe…

.

Saya biasa menghabiskan weekend di kamar karena banyak hal yang bisa dikerjakan saat berada di kamar dan saya merasa lebih produktif, termasuk produktif dalam tidur dan makan hehehe.. Tapi kadang-kadang ya keluar juga kalo emang udah bosen. Biasanya saya pergi keluar untuk cari makan atau sekedar nongkrong-nongkrong bareng temen-temen, atau mungkin nonton bola atau tenis, atau muter-muter sekitar Corniche dan The Pearl, atau minum kopi dan nyisha di Souq Waqif, dsb. Berikut beberapa aktivitas saya saat weekend…

 

Makan bareng housemate, Yusuf (Nigeria) & Tawfique (Bangladesh)

Nonton The Beatles KW1 di jalanan
Nongkrong di Chocolate Bar
Nonton WTA Tour Championship
Jalan-jalan di The Pearl, the artificial island in Qatar

 

Nyari barang-barang unik ala Timur Tengah di Souq Waqif

.

PPIQ

Bagi teman-teman yang tinggal di luar negeri, pasti sudah tidak asing lagi dengan singkatan PPI, yaitu Persatuan Pelajar Indonesia. Biasanya tinggal belakangnya aja ditambahin huruf yang berbeda sesuai dengan nama depan negaranya. Kalau waktu saya dulu di Malaysia bernama PPIM (Persatuan Pelajar Indonesia Malaysia). Kalau di Australia namanya PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia Australia), di Singapore singkatannya PPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Singapore), dll. Di Qatar pun kita punya yang namanya PPIQ!

 

Tapi tunggu dulu, singkatan PPIQ ini bukan “Persatuan Pelajar Indonesia Qatar”, karena pelajar Indonesia di Qatar ini tidak terlalu banyak. Kalaupun ada, biasanya mereka sekolah disini karena ikut orang tuanya yang bekerja di Qatar. Kebanyakan orang Indonesia di Qatar adalah bekerja sebagai professional (ekspatriat). Makanya, singkatan PPIQ kami adalah “Pengajian Pemuda Indonesia Qatar”. Yes, pengajian! karena itulah hobi kami hehehe..

 

PPIQ sudah seperti keluarga kedua selama berada di Qatar. Terdiri dari berbagai macam manusia dari berbagai macam perusahaan di Qatar (Qatar Petroleum, Qatar Gas, RasGas, dll). Ciri khasnya adalah kekeluargaan, kompak, dan cukup sering konyol hehehe… Beberapa pentolan PPIQ sekarang sudah pada pulang kampung, tapi tidak masalah, karena seperti kata pepatah, mati satu tumbuh seribu. Satu orang pergi, makin banyak lagi yang datang dan meramaikan forum pengajian PPIQ.

Mengaji adalah hobi kami
Makan pun juga hobi kami
My second family in Doha

.

Lahirnya Notes From Qatar

Notes From Qatar adalah kumpulan pengalaman dan catatan ringan yang pertama kali saya tulis di blog (www.muhammadassad.wordpress.com) pada bulan November 2009, atau sekitar setahun yang lalu. Tulisan pertama yang saya tulis adalah tentang pengalaman mendapatkan tiket VVIP gratis untuk menonton pertandingan sepakbola Brazil vs England. Respon dari teman-teman dan pembaca sangat baik, ada sekitar 30 comments.

 

Notes From Qatar saya tulis dengan gaya bahasa yang ringan, santai dan pembahasan yang praktis serta mudah dipahami sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan, tua maupun muda. Selain itu, ciri khas utamanya adalah saya selalu memasukkan ayat-ayat Al-Quran atau hadits dalam setiap tulisan dan menghubungkan dengan pengalaman atau masalah yang sedang ditulis.

 

Tujuannya adalah ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa Islam bukan hanya sekedar agama yang hanya bisa ditemui di masjid atau sekolah. Tapi Islam adalah the way of life yang berfungsi sebagai petunjuk paling komplit dan lengkap yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dari mulai tata cara ibadah hingga masalah menikah, dari merokok hingga mentato, semua sudah diatur dalam Islam.

 

Meskipun terdapat ayat-ayat Al-Quran dan hadits, bukan berarti buku ini hanya eksklusif ditujukan untuk pembaca muslim. Banyak para pembaca dan teman-teman saya yang non-muslim juga menjadi pembaca setia Notes From Qatar. Hal ini karena nilai-nilai yang diajarkan Islam bersifat universal dan berlaku untuk seluruh umat manusia. Rahmatan lil ‘aalamiin.

 

Nabi Muhammad saw pernah mengatakan bahwa sebaik-baik manusia ialah mereka yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Begitu juga cita-cita saya yang ingin memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi manusia, dan buku ini adalah sedikit sumbangan yang bisa saya berikan, terutama kepada generasi muda Indonesia yang akan memimpin bangsa ini ke depannya.

 

Sekarang, sudah setahun lebih saya menulis Notes From Qatar, dan menurut data statistik WordPress, blog ini sudah dikunjungi sekitar 116,000 orang dalam waktu kurang lebih setahun.  I am so happy! Semoga blog ini akan terus memberikan manfaat bagi teman-teman dan pembaca sekalian. Dan lastly, bagi yang ingin tahu dimana saya biasa menulis NFQ setiap Jumat, di sinilah tempatnya…. di salah satu sudut kamar saya yang saya namakan “NFQ Corner”!🙂

 

"NFQ Corner" in my room

.

Kurang lebih seperti ini yang bisa saya share tentang pengalaman selama setahun di Qatar. Semoga bisa memberikan manfaat bagi teman-teman semua. Mohon doanya juga buku Notes From Qatar sudah akan memasuki masa produksi minggu depan. Insha Allah jika semua lancar dan Allah menghendaki, pada pertengahan Bulan Januari akan launching di tempat yang asik pokonya dan buku sudah bisa didapatkan di toko-toko buku kesayangan anda hehehe.. Nanti info launchingnya akan saya posting di blog ini biar semuanya bisa datang…. dannnn… jangan lupa untuk memborong bukunya ya!!🙂

.

Warm regards,

@MuhammadAssad

22 thoughts on “My 365 Days in Qatar

  1. Lumayan asik isinya, apalagi yg nulisnya mahasiswa jenius hehehe, tapi penerus ppiq kayanya masih gelap tuh sad, inshaallah klo lu bisa bangun ppiq lagi dr tidurnya akan lebih baik, enjoy qatar nak, raih impian menuju sukses! Semangat lu belajar di qatar patut diacungi jempol!

  2. kang Assad oke banget! kang dapetin scholarship utk master searching dari website ya? itu ada form application ttg short essay. nah yang bagian cerita in Arabian itu di isi juga yaa? atau pilih salah satu in English? hehehe. kalo wajib isi berarti harus pandai/paham dl ya sm bhs Arab. kalo gitu harus belajar bahasa Arab dl dong? oh No, its very difficult! -___-
    makasih atas jawabannya.🙂

  3. Ass,

    Menarik sekali ceritanya, photo photo nya juga menggambarkan ketentraman , cocok sebagai tempat untuk belajar, saya menginginkan anak saya yang Insya ALlah lulus SMA tahun 2011 dia sangat berminat dengan jurusan perminyakan, ingin sekali kalau ada kesempatan dan rezeki untuk mendapatkan beasiswa dari Qatar Fondation, apa ada info untuk saya, terima kasih sebelumnya.

  4. Subhanallah….jadi tertarik juga menulis NOTE FROM SAUDI ARABIA ^_^ tapi sayang perempuan tidak terlalu bebas keluar jadi detail kota,budaya,dan keunikannya jadi tidak bisa saya gambarkan dengan baik…nice note..for assad keep istiqmah…i interest to read this blog after saw u in TV ONE

  5. katanya kalau mau umroh lewat qatar lewat dara lebih murah bang apa iya? asik bisa menikmati suasana negara yg tertinggi income per kapitanya dan bisa umroh lagi bisa ditemani bang keliling qatar jika aku kesana

  6. salam, saya zulfadzli dari malaysia, boleh beri saya email anda untuk saya hubungi, saya memerlukan pandangan untuk belajar di qatar

  7. saya boleh minta emailnya??

    saya lagi nyari S2 juga di negara2 arab, saya butuh info buat S2 qatar dan negara2 teluk, karena negara2 arab lain selain negara2 teluk relatif lebih mudah apply-nya,,,,,,

    saya nyari PPI qatar tapi ga ketemu2, ternyata memang gda ya,,,,,,

  8. Thank you for share about Qatar.
    I will be coming soon in Qatar 23 December 2013 – 08 January 2014.
    It may help and guide me. Insha-Allah.
    Once more, thank you.

  9. Assalamualaikum .Mas Muhammad Assad

    Saya tertrik membca artikel anda tentang sekolah di katar.

    Anak saya (laki-lki) tahun 2014 ini insya Allah lulus SMA dari salah satu Pondok Pesantren di Aceh, dan dia berminat untuk melnjutkn kulih S1 di Qatar, jika Mas berkenan mohon sher informasi mengenai jurusn-jurusan yang ada di Universits di tempt Mas kuliah. dan bagaimana dg jurusan ekonomi islam di sana?. Mohon juga informsi bgimna cara dan proses pendaftaran dan mendptkn bea siswa? terikasih sebelumnya.

    Salam

    Muliana
    di Bogor

  10. assalam bang, boleh minta e-mail dan no hpnya, saya dapet email penerimaan beasiswa dari QFIS, tapi saya bingung prosedur visa dllnya gimana…syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s