10 Reasons Why People Fail

Assalaamu’alaykum… #notesfromQatar is back! Yak, setelah 2 minggu tidak muncul dan sudah banyak desakan dari sana sini untuk menulis #NFQ (www.lebay.com), akhirnya hari ini saya kembali menulis dari Doha. Minggu lalu saya balik ke Indonesia kurang lebih selama 9 hari. Mungkin karena terlalu senang bisa balik ke tanah air tercinta, jadi ga sempet nulis #NFQ hehe…

.

Sewaktu saya balik ke Indonesia, di tengah waktu yang begitu singkat, saya selalu berusaha untuk menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman dan sahabat-sahabat saya, meskipun tidak setiap hari juga dan hanya beberapa jam saja. Tujuannya tentu bersilaturahmi dan ingin mengetahui bagaimana kondisi mereka. Saya melihat ada beberapa yang semakin sukses dalam hidupnya, dan ada juga yang hanya jalan di tempat, kalau tidak bisa dibilang gagal.

.

Saya kemudian jadi berpikir, kenapa ada orang sukses dan gagal di dunia ini? Dan kenapa, di Indonesia ini lebih banyak orang yang gagal dibanding yang sukses? Lho, indikatornya darimana? Mudah saja, coba cek angka statistik kemiskinan di negara kita tercinta ini. Lebih dari setengah rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dengan penghasilan kurang dari US$ 2 per hari atau sekitar Rp 18.000 (data IMF). Can you imagine, how can we live in a day with only Rp 18.000 in a pocket??

.

Memang benar bahwa kesuksesan tidak selamanya diukur dari materi. Tapi, kalau untuk mencukupi kebutuhan dasarnya saja (sandang, pangan, papan) tidak mampu, bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan hal lain? Idealnya adalah, kita bisa memenuhi isi perut terlebih dahulu baru setelah itu banyak hal bisa dilakukan karena energi tercukupi. Saya sendiri aja kalo perut lagi laper jadi susah mikir dan otak ga bekerja sempurna hehee.. Jadi sangat berpengaruh sekali bagi seseorang untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk mencapai kesejahteraan.

.

Uang memang bukan segalanya, tapi dengan uang banyak hal dan kebaikan yang bisa kita lakukan untuk Ummah. Bukankah alasan utama keterpurukan kaum muslim di dunia ini adalah karena kemiskinan? Islam pun menganjurkan umatnya untuk meraih kesuksesan dan kekayaan karena kemiskinan itu dekat dengan kekufuran, dan kekufuran semakin mendekatkan seseorang kepada api neraka. Makanya Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “jika kemiskinan itu berwujud manusia, maka aku yang akan membunuhnya pertama kali!”

.

Hal ini menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan kemiskinan, namun menganjurkan dengan sangat umatnya untuk menjadi orang yang kaya dan nantinya kekayaan tersebut digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat. Dan tanggung jawab kita-lah yang harus membuat diri kita menjadi kaya, bukan orang lain. Seperti yang pernah dibilang Donald Trump, “Kalau anda terlahir miskin, itu bukan salah anda. Tapi kalau anda mati miskin, itu salah anda!”

.

Kembali ke laptop, saya kemudian coba untuk mengamati kenapa banyak orang yang gagal. Tentunya banyak alasannya, tapi saya akan coba merangkumnya dalam 10 poin saja. Well, here it is guys! 10 reasons why people fail!

.

1. Memiliki keyakinan yang sangat mendalam bahwa sukses itu sulit. These are the people with corrupted mind set. Dari awal mereka sudah berpikiran kalo sukses itu susah. Jadi seperti prajurit yang akan dikirim ke medan peperangan, tapi sebelum perang dimulai mereka balik badan dan nyerah duluan karena ngeper dengan kekuatan lawan. Lha, piye iki?? Hehehe.. Tipe orang-orang ini percaya bahwa mereka yang sukses itu ya karena memang sudah takdirnya sukses. Jadi kalo ga sukses ya emang nasibnya jadi orang miskin. Padahal, sukses itu bukan berdasarkan takdir, tapi tergantung kepada kita mau atau tidak. Success is a choice, not destiny!

.

Menariknya, jika orang-orang sudah memiliki anggapan bahwa sukses itu sulit maka akan sangat berbahaya sekali karena bisa jadi yang mereka yakini itu benar-benar kejadian. Orang yang beranggapan pasti bisa sukses maka dia Insha Allah akan sukses, dan orang yang berpikiran bahwa sukses itu susah maka ya mereka ga akan pernah sukses.

.

Allah pun sudah menerangkan di dalam Hadits Qudsi, “Aku selalu menurutkan sangkaan hamba-Ku. Jika ia berbaik sangka kepada-Ku (berpikir positif), maka ia akan mendapatkan dari apa yang disangkakan. Dan jika ia berburuk sangka kepada-Ku (berpikir negatif), maka ia akan mendapatkan apa yang disangkakannya tersebut.”

.

Ini adalah cara berpikir positif yang diajarkan oleh Islam, yaitu husnudzan atau berbaik sangka kepada Allah, lawannya adalah su’udzan atau berburuk sangka. Konsep yang diajarkan oleh Islam ini kemudian ditiru dan diajarkan kembali oleh Barat dengan konsep Positive Thinking mereka, dan kita terkadang lebih percaya dengan apa yang diajarkan oleh kaum Barat. Padahal sebenarnya, semua itu sudah diajarkan oleh Islam ribuan tahun yang lalu.

.

2. Tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup. Tujuan atau goal adalah hal terpenting yang harus dimiliki setiap orang dalam menjalani kehidupan ini. Seperti sebuah perusahaan yang harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk tetap bertahan dan terus berkembang, begitu juga dengan manusia. Jika kita tidak tahu apa tujuan kita hidup di dunia ini, lalu apa yang akan menjadi pembakar semangat kita untuk meraih cita-cita?

.

Ibaratnya seperti sebuah team sepakbola yang akan bertanding. Tentunya mereka harus mengetahui dimana letak posisi gawang sehingga tahu kemana bola akan dimasukkan. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa memasukkan bola kalo mereka sendiri ga tau dimana letak gawangnya? Lebih parah lagi, kalau ternyata bukan gawang lawan yang dibobol, tapi gawang kita sendiri yang kebobolan hahaha…

.

Orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup mungkin dalam pikiran mereka adalah hanya menghabiskan jatah umur yang diberikan, tanpa melakukan hal-hal yang bermanfaat. Dalam pikiran mereka mungkin, “yahh.. kalo bisa sukses ya sukur, ga juga yaudah terima aja..” hehehe

.

3. Tidak bisa mengatur waktu dan mendahulukan prioritas. Orang-orang ini banyak menghabiskan waktu hanya untuk bersenang-senang dan hal-hal yang tidak berguna. Waktunya tiap hari habis tanpa punya target jelas apa yang sudah dilakukan dan belum. Ada juga orang yang sebenarnya sudah punya rencana apa saja yang ingin dikerjakan, tapi tidak pernah sempat dikerjakan karena ternyata godaan untuk bersenang-senang lebih menggiurkan dibanding mengerjakan prioritas yang sudah direncanakan itu.

.

Dalam buku First Things First karya Stephen Covey, dijelaskan mengenai pendekatan manajemen waktu (time management), dimana orang-orang yang memiliki manajemen waktu yang tepat akan menjadikannya sebagai kebiasaan, dan selanjutnya akan menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam mengerjakan aktivitas. Covey menegaskan untuk memprioritaskan pekerjaan yang memiliki tujuan jangka panjang dan mengorbankan pekerjaan yang tidak memberikan hasil signifikan untuk masa depan.

.

Waktu memang merupakan elemen yang sangat penting karena tidak akan pernah kembali. Makanya mengapa Allah memperingatkan kita untuk bisa dengan benar memanfaatkan waktu jika tidak ingin menjadi orang yang merugi. “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya mentaati kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

.

4. Berteman dengan teman-teman yang salah. Teman, tidak dipungkiri memiliki peran yang besar dalam kehidupan seseorang. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang benar, berada di lingkungan yang memancarkan aura positif, dan sama-sama mendukung untuk kebaikan, maka bersyukurlah karena kemungkinan untuk sukses bersama-sama besar. Teman yang baik akan saling mendukung dalam hal kebaikan untuk meraih kesuksesan.

 

Tapi jika kita bergaul dengan orang-orang yang salah, berada di lingkungan yang selalu berpikir negatif, dan tidak ada keinginan untuk maju, maka berhati-hati lah, karena kemungkinan untuk sukses mendekati NOL. Jadi sebaiknya segera keluar dari lingkungan itu dan bergaullah dengan orang-orang sukses yang selalu bisa memberikan aura positif dan semangat.

.

Jangan takut untuk kehilangan teman di saat mengejar cita-cita, karena di saat kita sukses nanti, maka teman-teman, baik yang lama ataupun baru, akan datang dengan sendirinya. Friends are important, but our future is much more important!

.

5. Mudah putus asa saat menemui hambatan. Ini adalah tipe orang-orang yang langsung menyerah saat menghadapi masalah dan keok saat terhadang tembok. Orang-orang ini tidak ada komitmen untuk sukses. Masalah itu satu paket dengan solusi, dengan catatan: tidak mudah menyerah! Di dalam Al-Qur’an pun sudah dijelaskan, “Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5-6)

.

Orang-orang yang tidak mudah putus asa adalah mereka yang memiliki kecerdasan yang bernama Adversity Quotient. Kecerdasan ini diperoleh setelah seseorang melewati tantangan dan kesusahan dalam hidupnya, dan mereka berhasil bertahan dan mampu mengatasi segala tantangan dan kesusahan hidup tersebut. Setiap orang yang sukses di dunia ini PASTI mereka pernah mengalami jatuh bangun dalam hidupnya.

.

Hal yang membedakan orang-orang yang sukses dengan yang gagal adalah, orang-orang sukses menjadikan tantangan dan kesulitan yang dialami sebagai batu pijakan untuk dapat meloncat lebih tinggi lagi. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang dapat merubah segala rintangan, tantangan dan hambatan dalam hidupnya menjadi sebuah kesempatan besar untuk meraih kesuksesan.

 

Allah berfirman, “..Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87). Di dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Jangan Bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah [9]: 40)” Jadi, kenapa kita harus sedih dan putus asa dari rahmat-Nya, jika Allah selalu ada bersama kita? Jangan menyerah, ayo bangkit dan coba lagi!

.

6. Malas, tidak mau kerja keras dan ingin jalan pintas. Kalau orang-orang model ini sih ya udah pastiakan sulit untuk berhasil. Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan ke WC umum pun udah bayar bro! hehe.. Orang-orang seperti ini tidak ingin berkutat dengan proses karena langsung mau hasil yang cepat. Short-cut minded. Padahal, mengalami proses adalah syarat mutlak untuk meraih kesuksesan.

.

Dengan mengalami proses langsung kita jadi belajar mana yang sudah baik dan mana yang belum baik. Tapi sayangnya, kita sering tidak sabar dan terkadang ingin hasil yang instan dalam meraih kesuksesan. Berbagai bentuk penyimpangan sosial yang kerap terjadi di negara kita akhir-akhir ini, seperti korupsi yang merajalela, sudah cukup jelas menandakan bahwa sebagian besar masyarakat sudah mulai jenuh terhadap proses dan ingin hasil yang instan dalam meraih kesuksesan.

.

Ingat, tidak ada yang instan kecuali pop mie!🙂

.

7. Tidak ada tindakan untuk mencapai tujuan. Pernah denger istilah NATO? ini bukan North Atlantic Treaty Organization ya, tapi NATO disini adalah No Action Talk Only, hehe.. Orang-orang ini punya beribu macam rencana di otaknya, tapi tidak ada satupun yang dikerjakan. Ya gimana bisa berhasil? Only full of plan but zero action.

.

Tidak mungkin ada hasil tanpa usaha, dan tidak mungkin ada perubahan yang lebih baik tanpa suatu tindakan awal untuk memulai. Allah pun sudah mengatakannya dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri yang mau untuk merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

.

8. Senang mencari alasan / excuse atas kegagalan yang didapat. Ini juga udah jelas nih, gausa dibahas panjang-panjang. Orang-orang yang hanya senang mencari alasan atau excuse atas kegagalannya sudah pasti akan menjadi orang yang terus gagal. Mengapa? Ya karena mereka akan merasa tidak pernah salah, dan kegagalan mereka itu bukan karena dirinya, tapi karena faktor A, B, C, D, dst.. Fail!

.

9. Kurang up-to-date dengan perkembangan zaman. Dunia berputar begitu cepat, perubahan terjadi dengan sangat cepat. Orang-orang yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman akan dikalahkan oleh para pesaing. Jarang membaca berita terbaru baik di Koran ataupun majalah akan menyebabkan kita kalah dan tidak mampu bersaing dengan kompetitor. Apapun pekerjaan kita, baik sebagai seorang dokter, insinyur, pengusaha, artis, dll, kita harus tanggap terhadap perkembangan zaman jika ingin meraih kesuksesan.

.

10. Berhenti belajar karena menganggap sudah paling hebat dan berada di posisi puncak. Manusia sejatinya adalah seorang pembelajar, makanya mengapa Rasulullah saw pernah bersabda, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian (rahim Ibu) hingga ke liang lahat”.

.

Sebagai manusia, kita bukanlah sosok yang sempurna, maka dari itu tugas kita untuk menggali lebih dalam ilmu-ilmu Allah yang betebaran di muka bumi ini. Makanya mengapa, ayat pertama dari Al-Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad adalah perintah membaca atau Iqra’. Menuntut ilmu menjadi prioritas dalam Islam dan tidak ada klarifikasi gender, tua-muda, cantik-jelek, imut-ga imut, dll.. Pokonya semua bisa menuntut ilmu!

.

Orang yang berhenti belajar maka pada saat itu dia harus siap menerima kegagalan, karena hidup manusia kan seperti roda, ada saatnya kita di bawah dan ada saatnya kita di atas. Saat kita di bawah, maka belajar dan berusahalah sekuat mungkin agar bisa naik ke atas, dan pada saat kita di atas, maka teruslah belajar agar terus meningkatkan apa yang telah kita raih. Bukankah mempertahankan lebih sulit dibanding mendapatkan?

.

Bagaimana, sudah dibaca 10 list tentang mengapa orang-orang gagal? Apa kita masih ada di dalam list? Saya pun rasanya masih ada di daftar itu hehehe.. Satu yang perlu diketahui bahwa kegagalan adalah hal yang normal dan setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Hidup saya pun kalau dipikir-pikir juga sudah banyak gagalnya hehe..

.

Cuma ibarat mau berperang, kita harus tahu dulu hal-hal apa yang akan buat kita kalah. Jadi kalau kita sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan kekalahan, maka kalau kita tetap kalah (gagal) ya itu memang sudah hasil terbaik yang diberikan Allah. Selanjutnya ya bangun dari kekalahan dan mencoba lebih baik lagi. Gagal sekali, bangun lagi. Jatoh yang ke-dua kali, bangun lagi. Jatoh lagi, bangun lagi, dst. Fall seven times, stand up eight!

 

Sekian #notesfromQatar hari ini. Semoga kita semua sukses di dunia dan akhirat amiiiiiinnn🙂

 

Warm regards,

@MuhammadAssad

.

#notesfromQatar adalah  tulisan yang biasa saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar atau mengenai suatu permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari beserta solusinya. #notesfromQatar ditulis dengan bahasa yang ringan, santai dan mudah dimengerti. Dengan semangat berbagi, saya ingin mengajak semua yang membaca ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

9 thoughts on “10 Reasons Why People Fail

  1. Very2 inspiring story on friday-machet-day, kegagalan merupakan buah keberhasilan, don’t scared to failed n move on, reach the goal!

  2. Aku sll bisa klik dg tulisan2 mu,Asaad.. Always honest and with hadist references.. I love it!! Can’t wait for yr next #NFQ

    Salam, Wiro

  3. Tajam dan menohok,
    Terima kasih kak assad sdh diingatkan, bahwa smua butuh proses, tdk ada yg instan dan tidak boleh malas sm omdo kalo mau sukses…

  4. Very nice brother,
    well.. At Point 4 & 5, It reminds me our high school time, saat gw lg downnya dg situasi dmn gw udh berfikir bahwa disitulah endingnya, tp berkat support yg besar dr lo dan bbrp sahabat, it makes me stronger, dan gw berusaha memperbaiki diri gw smp detik ini, dan gw merasakan manfaat yg luar biasa.
    Msh inget kn saat dl org2 menganggap gw sperti apa, dan gw pgn membuktikan bahwa stiap orang punya kesempatan utk bs bangkit asalkan memiliki kemauan.

    So buat tmn2 yg sdh baca tulisan ini, keep fighting, kemampuan kita hanya dibatasi oleh keinginan kita pribadi, there’s a will, there’ll be a movement, there’ll be a success!
    Salam @dinnobetha

  5. Tulisannya ok banget, AAA triple, lah menurut rating banyak orang, artinya mutawatir lah.

    However, ayat al-Qur’an ini tentu tak dapat dipungkiri oleh siapapun: “wama uutitum minal ilmi illa qolilan”, dan yang qolilan itu ternyata dibagi untuk banyak orang.

    Contohnya: Meyakini kebenaran data IMF secara mutlak, bahwa $ 2/capita/day adalah dibawah kemiskinan. Tapi, coba kita buka Econometrik kita, bukankah ada HETEROCEDASTICITY, dimana ada variation to consume between a poor people and rich people? Rich people, $ 200 / day tak cukup, karena semua diukur dengan $ tersebut, sementara mereka yang ada di pedesaan, yang menjadi petani, yang hidup dengan sahaja, atau mereka yang menjadi peternak yang menjadikan “wealth” not only in the form of currencies, tentulah berbeda.

    Sang petani, makan dengan makanan sehat ala mereka, minum susu “pemberian” dari peternak yang diberinya hasil kebun kemarin sore, anaknya yang belajar di sekolahan yang para gurunya adalah mukhlisin dimana ia sering mendapatkan hasil pertanian tanpa pernah menanam di sawah. dll, sementara orang kota dia harus membayar bensin, membayar polusi, membayar kesehatan akibat polusi itu dan membayar cost-cost yang lainnya.

    Seringkali teory mereka inconsisten dan inefficient karena ukurannya adalah selalu materi. Variable lain, yang dummy seringkali tidak diikutkan, sehingga variance dari variable itu selalu bias dan, error term yang mereka tolelir 5, atau 10 % adalah sangat tinggi bagi kita, dan bagi mereka sangat wajar, bahkan……… yang 10 % itupun tidak ditemukan dalam realita kehidupan kita.

    Itu dari satu sisi saja, PENGAKUAN mulak data IMF.

    Yang lain, apa standar kesuksesan itu? Saya dapat memahami bahwa sukses dalam hidup minimal ada 3 point yang dapat dijabarkan dalam sekian puluh sub point.

    SUKSES BELAJAR, SUKSES BEKERJA dan SUKSES BERKELUARGA.

    Tidak ada satupun point sukses itu yang dapat diukur dengan hanya harta yang berlimpah. Sukses belajar tidak ada kaitannya dengan harta sebagai indikator, apalagi sukses berkeluarga. Hanya sukses bekerja yang mungkin dapat dikaitkan dengan harta sebagai indikator, tetapi, berapa error terma yang salah dapat ditemukan dalam asumsi ini?

    Banyak orang sudah kaya, tapi yang dicari adalah KETENARAN, atau KEKUASAAAN yang seringkali malah menggerogoti kekayaan, sehingga terbaliklah asumsi ini.

    Anyway, teruskan menulis, karena menulis adalah memperpanjang umur. Imam Syafii dapat hidup dan mengajari kita bahkan menuntun banyak sekali orang selama ratusan tahun, meski umurnya hanya 54 tahun (150-204H….CMIW).

    Congrate untuk tulisan2 yang bagus dan mari berbagi pengetahuan kita, karena dengan dibagi, justru bertambah.

    Salam, Ana di tempat nt yang lama, NT di tempat ana yang lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s