3P’s Secret for Scholarship Hunter

#notesfromQatar Jumat ini akan bercerita tentang pengalaman mendapatkan beasiswa. Cukup sering saya mendapat email atau request dari teman-teman untuk menulis tentang rahasia mendapatkan beasiswa. Saya pun juga sudah merencanakan untuk berbagi sedikit pengalaman dengan teman-teman sekalian.

.

Alhamdulillah, dalam hidup ini saya diberikan begitu banyak nikmat dari Sang Maha Pencipta, diantaranya adalah mendapat full scholarship untuk studi S1 dan S2. Beasiswa S1 diberikan oleh Petronas dan S2 dari Emir (Raja) Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Tentu Allah SWT punya maksud dan tujuan dari ini semua, yakni agar saya dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi masyarakat.

.

Beberapa teman selama ini bilang bahwa mereka melihat saya sepertinya mudah mendapatkan beasiswa, padahal tidak demikian. Kalau ada yang bilang mendapatkan beasiswa mudah itu bohong. Life is tough. Perasaan kecewa, sedih, di bawah tekanan, dan bahagia semua pernah dialami dalam prosesnya. Mungkin kombinasi itu yang akhirnya membuat saya berhasil mendapatkan beasiswa.

.

Kalau ditanya apa rahasianya, saya sendiri tidak punya resep khusus. Tapi yang pasti, sikap dan tindakan kita sangat berpengaruh. Setelah menganalisa kembali masa-masa sewaktu mengejar beasiswa, saya merangkum rahasia tersebut dalam singkatan 3P’s, (Positive, Persistence dan Pray). Mohon izin, berikut saya akan bercerita saat dulu mengejar beasiswa S1 dan S2. Di sini akan terlihat tentang nilai-nilai 3P’s tersebut. Maaf kalau agak panjang ya.

.

Berburu Beasiswa S1

Dulu saya sekolah di SMU Insan Cendekia (IC), Serpong. IC merupakan sekolah berasrama unggulan yang didirikan oleh mantan Presiden RI, Prof. Dr. BJ Habibie. Sebenernya bukan SMU namanya, tapi MAN alias Madrasah Aliyah Negeri. Jadi saya ini lulusan madrasah lho hehehe.. But I’m proud of it!

.

Sewaktu lulus MAN, impian saya adalah melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh! Papa selalu meyakinkan bahwa saya pasti mampu, asalkan dengan persiapan yang baik dan matang. Beliau sering berkata, “success is when preparation meets the opportunity.”

.

Bukan berarti dengan berniat kuliah di luar negeri, saya meremehkan pendidikan di dalam negeri. Tidak sama sekali. Tapi saya berpendapat bahwa kuliah di luar akan memberikan suatu wawasan yang baru, segar dan berbeda dibanding di dalam negeri. Selain itu, hal utama yang menjadi semangat saya mengejar beasiswa adalah keinginan untuk tidak membebani orang tua lagi.

.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mulai mencari informasi tentang universitas yang memberikan beasiswa. Jujur, sekitar 5-6 tahun yang lalu agak sedikit universitas yang memberikan beasiswa S1. Kebanyakan dari mereka memberikan beasiswa untuk program S2 dan S3, ya wajar saja karena biasanya tidak banyak kontribusi yang bisa diberikan oleh mahasiswa S1.

.

Setelah mencari sana sini, ternyata ada tiga universitas top luar negeri yang saat itu menawarkan beasiswa S1, yaitu Nanyang Technological University (NTU) di Singapore, National University of Singapore (NUS) di Singapore, dan University of Technology Petronas (UTP) di Malaysia. Impian pertama adalah masuk NTU jurusan bisnis, selanjutnya antara NUS atau UTP, juga jurusan bisnis. (maklum, jiwa berdagang sudah tumbuh sejak kecil hehe..)

.

Saya kemudian membuat daftar dari ketiga universitas tersebut tentang persyaratan apa saja yang dibutuhkan, dll. Saya ingat betul tes pertama diadakan oleh NUS di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Namun hasilnya gagal, karena soal-soal yang diuji cukup berat, persiapan kurang matang dan lawan-lawannya kebanyakan muka-muka olimpiade hahaha. Oke kita ambil pelajaran dari kegagalan ini.

.

Kemudian, tes kedua diadakan NTU. FYI, untuk ikut tes masuknya saja sulit hehe.. karena yang daftar ribuan dan mereka hanya melihat nilai rapor sebagai tiket masuk. Bagi saya yang bersekolah di tempat yang agak “pelit nilai”, kemungkinan besar akan menemui hambatan, karena di IC, untuk mendapatkan nilai 6 atau 7 itu cukup menantang, kalau tidak bisa dibilang susah.

.

Ternyata terbukti. Di seleksi awal NTU yang menentukan bisa ikut tes atau tidak, nama saya tidak masuk. Saya langsung shock dan lemas! Hahaha.. Tapi menariknya, dalam hati kecil muncul keyakinan pasti bisa ikut tes ini! Ya masa belom berperang udah kalah duluan.. kalau nanti setelah tes dinyatakan ga lulus ya itu cerita lain. At least, I’ve given my best shot!

.

Saya kemudian mencari informasi siapa perwakilan resmi NTU di Indonesia. Dari informasi beberapa teman yang sudah kuliah di sana, semua menyebut satu nama bernama Pak Tyson! Perjuangan mencari Pak Tyson ini juga luar biasa. Saya dengan ayah mencari ke daerah kelapa gading dan nyasar sana sini sampai malam. Akhirnya, setelah seharian mencari, ketemu juga. Langsung di rumahnya tersebut saya mencoba menjelaskan masalah yang dihadapi, yaitu tentang berbedanya standar penilaian sekolah.

.

Setelah melihat dokumentasi (rapor, CV, dsb), Pak Tyson bilang kurang lebihnya seperti ini, “OK Assad, menurut saya kamu layak ikut tes awal. NTU menyeleksi ribuan calon mahasiswa/i, jadi mungkin saja terlewat. Solusinya, kamu tulis email langsung ke Dean NTU dan sertakan semua dokumen ini, nanti saya akan bantu tulis email juga ke Dean.”

.

Seketika harapan kembali muncul. Allah SWT kembali membuka jalan. Saya langsung kirim email ke Dean NTU seperti yang disarankan Pak Tyson, dan beberapa hari kemudian ada balasan email dari Dean yang isinya saya boleh mengikuti tes!! Wow!! Perasaan saat itu tidak bisa digambarkan, rasanya kaki mau copot hahahaa.

.

Setelah itu, saya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tes. Soal-soal yang digunakan adalah standar A Level luar negeri dan sayangnya di IC sangat minim persiapan untuk itu. Tapi tidak masalah, saya tetap giat belajar dengan waktu yang tersisa. Akhirnya waktu tes pun tiba, kalo ngikutin perasaan sih kayanya bisa ngerjain semua soalnya meskipun agak susah.

.

Ternyata oh ternyata.. saat hasilnya keluar, saya tidak lolos! Sangat sedih dan kecewa. Karena NTU ini merupakan impian utama saya. Beberapa hari saya murung dan tidak nafsu makan (tumben banget kan gw ga nafsu makan hahaha..). Namun saya sadar tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Saya sudah memberikan usaha terbaik meskipun hasil akhir tidak sesuai dengan keinginan. Allah SWT telah memutuskan bahwa NTU bukanlah tempat terbaik bagi saya. I have to accept it. Period.

.

Saya kemudian kembali bangkit dan menatap peluang ketiga, yaitu UTP! Genderang perang kembali ditabuh. Saya kembali mengurus dokumen dan berbagai persyaratan yang diminta. Setelah mengirim aplikasi dan menunggu pengumuman, alhamdulillah nama saya masuk dalam daftar untuk mengikuti seleksi awal yang diadakan di kantor perwakilan Petronas di Indonesia. Dari IC ada 7 orang yang ikut test UTP. Kata orang yang mengurus beasiswa ini, pelamar beasiswa UTP ini ada sekitar 1000 orang. Seleksi kemudian mengerucut menjadi 60 orang, lalu terakhir dipilihlah 7 orang dari Indonesia.

.

Setelah mengikuti tes yang diberikan dan juga wawancara, alhamdulillah nama saya masuk diantara 7 orang tersebut! Saya mendapatkan beasiswa penuh di UTP dengan jurusan yang diinginkan, Business Information Systems! I’m so happy! Setelah 2 kali gagal, akhirnya dapet juga hehe.. Mungkin inilah tempat terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

.

Dan ternyata memang benar, Dia selalu tahu mana yang terbaik untuk kita. Saya menganggap dulu kuliah di NTU adalah impian dan UTP hanya pilihan kedua. Namun sekarang penilaian berubah dan sangat bersyukur bisa berkesempatan kuliah di UTP. Begitu banyak kesempatan dan hal-hal baik yang saya dapatkan selama di UTP yang mungkin tidak akan didapatkan jika kuliah di tempat lain.

.

Puncaknya, saya mengakhiri studi 3.5 tahun dengan membawa nama baik Indonesia saat menjadi satu-satunya mahasiswa dalam sejarah UTP yang mendapatkan triple awards saat kelulusan: “Rector’s Gold Award 2009 for Business Information Systems”, “The Best International Student Award for The Year 2009”, dan “Chancellor Award for The Best Graduate for the Class of 2009” (penghargaan tertinggi di UTP yang diberikan langsung oleh mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad).

.


Alhamdulillah, hadza min fadli Rabbii (ini semua karunia dari Tuhanku).

.

Berburu Beasiswa S2

Berburu beasiswa S2 lebih seru lagi ceritanya! hehehe… Satu semester menjelang kelulusan di UTP, saya sudah mulai memikirkan apa rencana ke depan. Sudah ada sekitar 2-3 perusahaan yang menawarkan bekerja, tapi saya tidak mau langsung bekerja, melainkan ingin lanjut kuliah S2.

.

Saya kembali memantapkan niat dan berpikir positif bahwa Insha Allah pasti bisa dapat beasiswa untuk S2. Kali ini persiapannya lebih matang dan terencana. Saya membuat daftar universitas mana saja di luar negeri yang memberikan beasiswa, kemudian mempersiapkan segala persyaratan dari tiap universitas, yang kemudian dilmasukkan ke file yang berbeda. Jadi jika sewaktu-waktu membutuhkan dokumen dari universitas tersebut, saya sudah tahu harus membuka file yang mana.

.

Selanjutnya saya menyiapkan dua rencana: Plan A dan Plan B. Dalam Plan A terdapat 10 Universitas yang menjadi tujuan utama. Selanjutnya di plan B ada 5 universitas yang menjadi tujuan kedua. Ke-15 universitas tersebut tersebar di berbagai negara, dari Singapore, Australia, Amerika Serikat, UK hingga Qatar!

.

Kenapa menyiapkan daftar seperti itu? Saya memakai hukum kesempatan saja. Ibarat orang nembak 10 kali, masa ga ada yang kena sekalipun? Sewaktu berburu beasiswa S1 saja, dari tiga kesempatan, akhirnya kena satu. Berarti peluangnya sekitar 33%. Nah, kalau begitu kali ini mungkin kurang lebihnya akan sama. Dari 10 universitas di Plan A yang sudah disusun, saya sangat yakin ya paling tidak 2-3 aplikasi akan diterima. :)

.

Saya melalui proses ini kurang lebih 3 bulan, dari mulai mempersiapkan berbagai dokumen yang diminta hingga mengikuti serangkaian tes. Beberapa universitas melaksanakan tes di Jakarta. Ada juga yang tidak perlu pakai tes dan hanya berdasarkan dokumen2 yang diminta (seperti academic transcript S1, TOEFL/IELTS, essays, dll). Ada juga yang melakukan wawancara melalui telepon.

.

Akhirnya benar berlaku hukum kesempatan. Setelah melalui semua proses, dari 10 Universitas di Plan A, saya diterima di 4 universitas: 2 di Singapore, 1 di UK dan 1 di Qatar. Ini berarti peluang naik jadi 40%, dibandingkan yang pertama. Sisa 6 universitas yang lain, beberapa menolak dan beberapa lagi tidak ada kabarnya.

.

Menariknya, dari 4 universitas tersebut, terdapat NUS (memberikan full scholarship) dan NTU (memberikan partial scholarship), dua universitas yang menolak saya sewaktu S1 beberapa tahun yang lalu. Jadi senyum-senyum sendiri dan berkata, “dulu gue yang berharap dapet beasiswa, sekarang gantian malah ditawarin.” Di NTU diterima di Rajaratnam School of International Studies dan NUS di Lee Kuan Yew School of Public Policy. Keduanya memberikan deadline menerima atau tidak beasiswa yang ditawarkan pada minggu ketiga di bulan Juli.

.

Akhirnya saya menerima tawaran beasiswa dari NUS dan menolak universitas di UK karena tidak sesuai jurusannya, dan juga menolak NTU karena hanya memberikan partial scholarship. Paling tidak sekarang sudah agak aman karena NUS sudah di tangan, sambil nunggu pengumuman dari Qatar, karena itulah impian utamanya. Saya sangat positif Insha Allah akan diterima. Bahkan, saya sudah membayangkan berada di Qatar meskipun waktu itu belum tahu bagaimana bentuknya hehe..

.

Ada cerita menarik. Beasiswa NTU saya tolak karena mereka hanya memberikan partial scholarship. Setelah mengirim email memberitahukan hal tersebut, tiba-tiba beberapa hari kemudian seseorang dari bagian admission NTU menelepon langsung dari Singapore dan straight to the point mengatakan, “Assad, we will give you full scholarship. Please accept our offer!” hahahahaa.. Saya kaget tapi juga agak ngeri, kok bisa-bisanya sebuah universitas internasional berkelas dunia tiba-tiba mengubah kebijakannya begitu cepat. Beberapa kali kami saling berkirim email dan setelah saya mendiskusikan dengan papa dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tetap menolak. Qatar is still my #1 priority.

.

Lain lagi cerita dari NUS. Setelah saya mengirim email menerima tawaran beasiswa mereka, langsung beberapa hari kemudian mereka mengirimkan tiket pesawat JKT-SG ke rumah dengan tanggal keberangkatan akhir Juli! Dalam hati saya, “Mati gue! cepet amat ngirimnya! Pengumuman Qatar aja baru keluar tanggal 1 Agustus.” Kalau sampai saya berangkat ke Singapore akhir Juli dan sudah mulai semester, sementara pengumuman beasiswa Qatar baru awal Agustus, maka akan repot banget urusannya dan bisa-bisa terkena penalti dari NUS. What should I do???

.

Akhirnya Allah SWT lah yang menjadi tempat bergantung. Saya memohon petunjuk kepada-Nya. Jika menolak NUS, sudah tidak ada satu universitas pun yang saya pegang, sementara Qatar belum memberikan pengumuman. Tapi jika saya menerima NUS dan ternyata Qatar juga menerima, maka runyam juga. Setelah beberapa kali shalat Istikharah, akhirnya ada keyakinan yang kuat bahwa saya Insha Allah akan diterima di Qatar!

.

Itu berarti saya harus menolak NUS. Akhirnya H-1 menjelang keberangkatan saya memberitahu mereka tidak bisa berangkat. Sempat ada masalah waktu itu karena tiket sudah terlanjur dibeli dan mereka minta ganti rugi. Tapi setelah saya jelaskan secara baik-baik, akhirnya mereka dapat memahami dan tidak meminta ganti rugi.


Okey! Berarti saya sekarang benar-benar dalam kondisi “kritis”. Tiga tawaran beasiswa yang sudah didapat malah saya lepas. Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, dulu mereka (NTU dan NUS) yang menolak saya, sekarang gantian saya yang menolak mereka hehehe.. Saya berani berbuat demikian karena sangat yakin dan positif Insha Allah diterima di Qatar. Bukankah Allah SWT yang memerintahkan hambaNya agar selalu berprasangka baik dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya?

.

Tibalah saatnya, 1 Agustus, ada email masuk dari Qatar Foundation dalam bahasa arab. Langsung dag dig dug.. lalu kemudian saya copy email tersebut ke Google Translate dan ternyata isinya adalah…… Congratulation, you are accepted to study Master of Islamic Finance in Qatar with full scholarship from the King of The State of Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani! Seketika saya bersujud dan mengucap syukur tanpa henti-hentiNya. The dream comes true!.

.

Sekarang sudah dua semester saya lalui di Qatar. Alhamdulillah saya sangat bersyukur bisa berada di sana, belajar hal-hal yang baru, berkenalan dengan orang-orang baru, mendapatkan pengalaman baru. Pokoknya baru-baru semua hehee… Mohon doanya agar saya bisa selesai studi S2 disana dan dapat mengamalkan ilmu yang dimiliki.

.

Nilai 3P’s

1. Positive

Setelah membaca cerita di atas, ada satu persamaan saat pertama kali saya menginginkan beasiswa, yaitu berpikir positif! Ini adalah modal dasar yang paling utama. Sikap pertama kali yang harus ditanamkan dan dibangun ya yakin pasti bisa! Bukankah Allah SWT sendiri yang bilang bahwa “Aku adalah seperti apa yang hamba-Ku sangkakan kepada-Ku”. Jadi semua tergantung dan berawal dari pikiran kita. Niat yang positif akan membuat langkah kita selanjutnya menjadi positif juga.

.

Saat mencari beasiswa S1 dan S2, yang ada di otak saya pertama kali adalah, “saya pasti bisa, saya pasti bisa, saya pasti bisa!” Sugesti yang terus menerus diucapkan ini lama kelamaan menjadi suatu semangat dan berubah menjadi tindakan positif yang mengarah kepada tujuan yang kita mau. Karena jika awalnya saja tidak yakin, bagaimana kita akan melangkah lebih jauh?

.

Berpikir positif bukan hanya saat di awal, namun hingga tujuan tercapai. Misalkan dalam perjalanan terjadi hal-hal yang di luar keinginan kita, jangan langsung berpikiran buruk kepada Allah SWT. Seperti saat saya ditolak dua kali oleh NTU dan NUS, saya tidak langsung bersuudzon kepada Allah, karena yakin Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Akhirnya, ingat selalu ayat ini agar tidak pernah berburuk sangka kepada Sang Maha Pencipta

.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-baqarah [2] : 216)

.

2. Persistence

Nilai kedua adalah Persistence, atau terus menerus berusaha dan jangan menyerah. Mantan Presiden Afrika Selatan pernah mengatakan, The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall.” Inilah yang disebut persistence, atau seperti bulldozer yang terus bergerak sampai tujuan mendapatkan beasiswa tercapai. Kalo gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi! Gagal itu biasa, tapi meratapi kegagalan itu yang tidak biasa.

.

Dalam kasus saya dahulu, coba dilihat, sewaktu mengejar beasiswa S1, dua kali saya mengalami penolakan, bahkan sempat stress dan tertekan, takut tidak bisa kuliah! Tapi kemudian bangkit lagi dan terus mengejar, hingga akhirnya Allah SWT membukakan jalannya. Sama kasusnya saat mengejar beasiswa S2. Dari 10 universitas di Plan A, 6 menolak. Tapi tidak lantas menjadikan saya jatuh dan patah semangat. Justru sebaliknya, menjadi bensin untuk membakar semangat sampai tujuan tercapai.

.

Saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh mantan PM Inggris, Sir Winston Churchill, “Success is going from one failure to another failure without losing enthusiasm”. Saya rasa ini sangat relevan dan berlaku di mana saja, bukan hanya dalam berburu beasiswa. Thomas Alfa Edison pun baru berhasil menemukan lampu di percobaannya yang ke 1000! Coba bayangkan kalo di percobaan ke 700 dia sudah menyerah, bisa jadi kita masih hidup dalam kegelapan hingga sekarang ini.

.

3. Pray

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60)

.

Doa adalah senjata orang beriman. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa doa adalah otak / pangkalnya ibadah. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong”. Maksudnya, jika ingin sesuatu tapi tidak berusaha, ya mustahil. Tidak ada yang jatuh dari langit secara cuma-cuma. Istilahnya, “no free lunch, man!”

.

Sebaliknya, jika berusaha saja tanpa berdoa kepada Sang Pencipta, maka itu suatu kesombongan. Karena seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya. Sehelai daun jatuh pun atas izin-Nya, apalagi untuk mendapatkan beasiswa! Kalaupun misalkan kita merasa berhasil mendapatkan sesuatu tanpa pertolongan Allah SWT, maka percayalah bahwa hasil yang diperoleh tidak akan membawa berkah.

.

Kesombongan hanya boleh dimiliki oleh Allah SWT. Orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya adalah orang yang sombong dan Allah SWT murka kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, ““Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi)

.

Jadi, setelah semua usaha dikerahkan untuk mengejar beasiswa, maka sekarang waktunya kita bertawakkal dan berdoa kepada Sang Maha Penguasa. Selain itu, “Pray” disini juga bisa bermakna kita melakukan ibadah-ibadah lain sebagai pendukung. Ada 3 ibadah tambahan sakti yang saya anjurkan untuk dilakukan: shalat tahajud, shalat dhuha, dan sedekah! Nah ketiganya adalah jalan tol menuju kesuksesan dalam bidang apapun. Itu juga yang saya lakukan untuk memancing ridho Allah SWT saat mengejar beasiswa S1 dan S2.

.

Sebagai penutup, saya ingin meyakinkan teman-teman bahwa setiap orang pasti bisa mendapatkan beasiswa, asalkan benar-benar berusaha dan selalu gunakan siklus ini hingga tujuan tercapai: Ikhtiar – Tawakkal – Doa. Ikhtiar adalah usaha maksimal kita sampai bener-bener mentok tok tok. Tawakkal adalah penyerahan diri kita kepada Sang Penguasa. Dan doa adalah bentuk kehambaan kita yang merasa lemah dan tak mampu berbuat banyak tanpa pertolongan dan izin Allah SWT. Doa juga bisa bermakna beribadah kepada Sang Pencipta.

.

Fiuhhhh… Selesai juga nulisnya.. Ini adalah catatan terpanjang saya dalam menulis #notesfromQatar hahahahahaa… Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Selamat berburu beasiswa! You can make it!!!

.

Warm Regards,

@MuhammadAssad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar atau mengenai hal-hal ringan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat berbagi, saya ingin memberikan pandangan terhadap suatu isu / masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. #notesfromQatar ditulis dengan bahasa yang santai, mudah dimengerti dan tidak berusaha untuk menggurui. Saya ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama. Semoga bermanfaat!

36 thoughts on “3P’s Secret for Scholarship Hunter

  1. Wew..

    Motivated enough to look for any scholarship .tapi apakah yg ke 2 sedikit lebih terlihat mudah karena apa yg uda lo capai waktu S1? 3awards dan berderet achievements ..hehe.semoga yg S1 nya biasa2 aja,bs jg dapet scholarship buat S2..hehe.jadi pengen lanjut browsing buat S2.. Thanks sad! Sangat bermanfaat..

    -veboy
    Singapore,2010

  2. aku sdh baca! keren! suka banget dibagian NTU dan NUS yang meminta ka assad kuliah disana padahal dulu mereka menolakmu :p

    mudah2an pas S2 aku jg bisa full scholarship ya.mudah2an NUS.amin!:D *pernah di tolak NTU juga T.T*

  3. #notesfromQatar is gorgeous! very inspiring. especially for today’s edition. hehe. thank you for sharing – hanifan, IC 2008.

  4. Wah sad,, jd inget masa-masa kita brburu beasiswa dulu
    gw salut lo bnr2 bs ngerealisasiin rencana-rencana lo pas dulu kita diskusi d ic (trmasuk kuliah s2 perbankan syariah, what a long-range plan!!)
    one phrase: good job!!

    1. aprilll.. iyaaaa jadi inget masa2 dulu ya hahaha.. oiya kita dulu pernah tuker pikiran ya mau sekolah dimana dll, and my dream comes true! it was like 6 years back!!

      lo dmana skr? gw denger di Paris ya? goodluck mate!

      1. yup,,realization of one of my dreams too!!
        tp bkn d paris sad, d orléans, sejam dr paris
        kpn rencana kelar kuliah d qatar-nya sad??

  5. assad, ini tulisan yg sangat menginspirasi bagi gue yg bntr lg mau lulus S1 (amin), gue jg rencana mau cari beasiswa buat S2. Doakan ya sad, terimakasih atas tulisan lo yg bermanfaat, semoga lo jg mendapat kebaikan dan pahala dr apa yg telah lo bagi kpd org2 lain. sukses terus🙂

  6. masiiiiiih inget sad gw jaman lo bingung waktu jaman mau milih scholarship dimana? wew kerenn setuju bgt 3p’s nya !!

  7. Bro, this is truly inspiring.
    Simple yet touching. Honest yet moving.

    Well done, bro ! I know that you are something when I first met you ! Hahahaha.
    Thanks for sharing.

    I am motivated to do my best also in my life.
    So, Jazakumullah Khairan Katsiraan..

    See you at the top of universe !😉

  8. Nice story, cuma mengingatkan aja, dulu bukannya dibarengin ma sedekah ya, apa saya yang salah baca.

    tapi makasih bgt dah sharing, berguna bgt buat gw untuk ambil gelar S2, apalagi beasiswa. Thanks for the stories.

    @muhammadmursal

    1. mas mursal, iya benar sekali ada peran sedekah di dalam kesuksesan saya meraih beasiswa dan tidak banyak saya kupas disini.. tapi sudah ada bagian yang saya rubah di bagian “pray”, dan menceritakan sedikit tentang sedekah. jazakallah khair untuk masukannya🙂

  9. thanks so much for sharing sad. 3P. I totally agree😀
    sukses ya studinya. smg ilmu yg lo peroleh dapat bermanfaat untuk umat.
    now this is my turn. bismillah🙂

  10. hadza min fadli robbi…like this..
    terima kasih, tulisan ini menjadi salah satu motivasiku tetap optimis…doakan ya dapat selesai S2 juga dengan sangat baik….

  11. Subhanalloh…. Ur experince to get a scholarship is so inspiring, Sad…
    hm… let me introduce my self first… i’m Firman, just call me iman… Nice to know u Sad…
    o iya, qta berasal dari almamater yang sama… tapi aku MAN IC Gorontalo, lulus tahun 2004…
    kemaren pas lulus kuliah aku dapat beasiswa ke Austria utk lanjut S2. tapi karena aku ingin kerja terlebih dahulu, jadi beasiswa itu ga jadi kuambil… walhasil skarang aku alhamdulillah sudah kerja, tapi skarang pingin bgt lanjut kuliah (yah…namanya manusia sering bgt kurang bersyukur…), ni udah apply2 tapi sampe skarang masih belum ada yang jodoh (belum rejekinya mungkin…:))…
    yah, setelah membaca tulisanmu ini aku menggaris bawahi tentang 3 hal yang bisa berfungsi sebagai salah satu “alat” untuk mempercepat doa kita dan menambah rezeki, yaitu Sholat Tahajjud, Sholat Dhuha, dan Sodaqoh… serta tidak lupa untuk tetap “ber-Ikhtiar, disertai dengan tawakkal dan senantiasa berdoa”…. yah mungkin aq harus introspeksi diri lagi, dimana letak kekuranganku….
    hehehe…. saling mendoakan brur….

    salam kenal dari sodara jauh…

  12. Nice Sad…

    For everything we do, dont give up always find another option!!
    dan jangan berpikir seudzhon!

    Kadang dengan berkembangnya zaman, manusia berpikir kalau tidak berhasil berarti dia tidak mampu, tidak layak dsb

    Mereka melupakan “Bukankah Allah SWT yang memerintahkan hambaNya agar selalu berprasangka baik dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya?”

    thank for reminding us sad..

    good luck in everything…
    Siiherwrait

  13. ingat dulu pertama kali kita 1 kelas, duduknya pasti 1 baris, lo pasti ada di belakang gw biarpun lo dateng duluan…

    sekarang lo uda 1 step ahead di depan.. tulisan lo membuka mata, hati dan pikiran gw tentang segala hal yang diajarkan dalam islam.

    pantang menyerah jadi sifat lo dari kecil, inget waktu kita berantem (child thing) dpn perpus. lo gamau kalah ampe akhirnya bikin gw kesel.

    positif… hahaha kalo dulu lo ga ngerjain PR trus suruh sujud ampe pelajaran selesai lo pasti tidur.. positif bgt yaaa, skrg beda dong lo harus positif ngadepin semua hal terutama cita-cita dan keinginan.

    sebaik-baiknya kamu menjalankan ibadah dan doa, kesempurnaan hanya milik Allah. kekhusyu-anmu dalam berdoa tanpa ikhlas gada artinya.. doa dan ikhlas serta restu dari nyokap paling penting….

    semoga sukses dunia dan akhirat untuk kita semua. amin

    xoxo @aanngguun

  14. Terima kasih mas Assad atas motivasinya, semoga sy bisa mencontoh semua yg telah dipraktekkan mas Assad.

    Salam kenal ya mas

  15. Assalamualaikum kak assad🙂
    ceritanya inspiring banget, aku juga lagi nyari beasiswa S1 sebenarnya dan ngga bilang2 orang tua, tapi aku hanya mencoba, orang tua aku bilang, nanti saja nyari beasiswa kalau sudah kuliah..tapi aku penasaran jadi aja aku mau coba-coba. Agak sulit kak, awalnya sekolah aku kedatengan orang dari lembaga beasiswa di Belanda, tapi guru aku bilang kalau di eropa mereka agak pelit kasih beasiswa, selain itu saat aku mengabarkan beasiswa ini kepada orang tua awalnya mereka setuju, tapi lama kelamaan mereka menolak. Akhirnya aku ngga ambil deh…
    Tapi aku bakal berusaha buat dapetin beasiswa luar negeri karena itu cita2 aku dari smp hehe🙂
    thanks for infonya kak, bermanfaat banget.

  16. wow,, such a great story!!
    awesome..
    bener2 membakar semangat saya buat mencari beasiswa s2 di aussie,,
    smoga saya nanti juga bisa mengukir cerita yang bisa membakar semangat orang lain mencari beasiswa..
    ammi ya rabb…

  17. assalam akh.
    semoga rahmat allah selalu menyertai antum dan keluarga.
    nama saya jamal, dan saya masih semester 6 di brunei, dan alhamdulillah sayapun diberikan kesempatan untuk belajar s1 dengan full scholarship, insyaALLAH pada bulan mei tahun 2013 saya sudah lulus s1.
    sampai saat ini, impian ana hampir sama dengan impian antum dulu, ana ingin melanjutkan s2 di qatar. dan kebetulan ana juga tertarik dengan jurusan yang antum ambil, islamic finance.
    boleh sharing kehidupan di qatar (living cost, rincian beasiswa dan fasilitas2 disana), mohon balas ke E-mail ana.
    jazakumullah ‘ala tajawubik.
    your sincerely,
    jamal.

  18. kaka asad, saya sudah baca buku kaka yang notes from qatar 1, kaka ane minta nmer kontak boleh ga kak,,?? ane mau sharing nih,, ane bener2 pengen ke qtar, butuh bimbingnanya kak,, jazakumullhu khoir ,,

  19. Saya banggsa dengan anda….. beruntung kira-kira…. saat saya sekolah tidak banyak menerima informasi tentang ini…… semoga pengalaman ini menjadi inspirasi kuat bagi anak-anakmuda semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s