Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

#notesfromQatar Jumat ini akan bercerita tentang pengalaman mendapatkan beasiswa. Cukup sering saya mendapat email atau request dari teman-teman untuk menulis tentang rahasia mendapatkan beasiswa. Saya pun juga sudah merencanakan untuk berbagi sedikit pengalaman dengan teman-teman sekalian.

.

Alhamdulillah, dalam hidup ini saya diberikan begitu banyak nikmat dari Sang Maha Pencipta, diantaranya adalah mendapat full scholarship untuk studi S1 dan S2. Beasiswa S1 diberikan oleh Petronas dan S2 dari Emir (Raja) Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Tentu Allah SWT punya maksud dan tujuan dari ini semua, yakni agar saya dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi masyarakat.

.

Beberapa teman selama ini bilang bahwa mereka melihat saya sepertinya mudah mendapatkan beasiswa, padahal tidak demikian. Kalau ada yang bilang mendapatkan beasiswa mudah itu bohong. Life is tough. Perasaan kecewa, sedih, di bawah tekanan, dan bahagia semua pernah dialami dalam prosesnya. Mungkin kombinasi itu yang akhirnya membuat saya berhasil mendapatkan beasiswa.

.

Kalau ditanya apa rahasianya, saya sendiri tidak punya resep khusus. Tapi yang pasti, sikap dan tindakan kita sangat berpengaruh. Setelah menganalisa kembali masa-masa sewaktu mengejar beasiswa, saya merangkum rahasia tersebut dalam singkatan 3P’s, (Positive, Persistence dan Pray). Mohon izin, berikut saya akan bercerita saat dulu mengejar beasiswa S1 dan S2. Di sini akan terlihat tentang nilai-nilai 3P’s tersebut. Maaf kalau agak panjang ya.

.

Berburu Beasiswa S1

Dulu saya sekolah di SMU Insan Cendekia (IC), Serpong. IC merupakan sekolah berasrama unggulan yang didirikan oleh mantan Presiden RI, Prof. Dr. BJ Habibie. Sebenernya bukan SMU namanya, tapi MAN alias Madrasah Aliyah Negeri. Jadi saya ini lulusan madrasah lho hehehe.. But I’m proud of it!

.

Sewaktu lulus MAN, impian saya adalah melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh! Papa selalu meyakinkan bahwa saya pasti mampu, asalkan dengan persiapan yang baik dan matang. Beliau sering berkata, “success is when preparation meets the opportunity.”

.

Bukan berarti dengan berniat kuliah di luar negeri, saya meremehkan pendidikan di dalam negeri. Tidak sama sekali. Tapi saya berpendapat bahwa kuliah di luar akan memberikan suatu wawasan yang baru, segar dan berbeda dibanding di dalam negeri. Selain itu, hal utama yang menjadi semangat saya mengejar beasiswa adalah keinginan untuk tidak membebani orang tua lagi.

.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mulai mencari informasi tentang universitas yang memberikan beasiswa. Jujur, sekitar 5-6 tahun yang lalu agak sedikit universitas yang memberikan beasiswa S1. Kebanyakan dari mereka memberikan beasiswa untuk program S2 dan S3, ya wajar saja karena biasanya tidak banyak kontribusi yang bisa diberikan oleh mahasiswa S1.

.

Setelah mencari sana sini, ternyata ada tiga universitas top luar negeri yang saat itu menawarkan beasiswa S1, yaitu Nanyang Technological University (NTU) di Singapore, National University of Singapore (NUS) di Singapore, dan University of Technology Petronas (UTP) di Malaysia. Impian pertama adalah masuk NTU jurusan bisnis, selanjutnya antara NUS atau UTP, juga jurusan bisnis. (maklum, jiwa berdagang sudah tumbuh sejak kecil hehe..)

.

Saya kemudian membuat daftar dari ketiga universitas tersebut tentang persyaratan apa saja yang dibutuhkan, dll. Saya ingat betul tes pertama diadakan oleh NUS di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Namun hasilnya gagal, karena soal-soal yang diuji cukup berat, persiapan kurang matang dan lawan-lawannya kebanyakan muka-muka olimpiade hahaha. Oke kita ambil pelajaran dari kegagalan ini.

.

Kemudian, tes kedua diadakan NTU. FYI, untuk ikut tes masuknya saja sulit hehe.. karena yang daftar ribuan dan mereka hanya melihat nilai rapor sebagai tiket masuk. Bagi saya yang bersekolah di tempat yang agak “pelit nilai”, kemungkinan besar akan menemui hambatan, karena di IC, untuk mendapatkan nilai 6 atau 7 itu cukup menantang, kalau tidak bisa dibilang susah.

.

Ternyata terbukti. Di seleksi awal NTU yang menentukan bisa ikut tes atau tidak, nama saya tidak masuk. Saya langsung shock dan lemas! Hahaha.. Tapi menariknya, dalam hati kecil muncul keyakinan pasti bisa ikut tes ini! Ya masa belom berperang udah kalah duluan.. kalau nanti setelah tes dinyatakan ga lulus ya itu cerita lain. At least, I’ve given my best shot!

.

Saya kemudian mencari informasi siapa perwakilan resmi NTU di Indonesia. Dari informasi beberapa teman yang sudah kuliah di sana, semua menyebut satu nama bernama Pak Tyson! Perjuangan mencari Pak Tyson ini juga luar biasa. Saya dengan ayah mencari ke daerah kelapa gading dan nyasar sana sini sampai malam. Akhirnya, setelah seharian mencari, ketemu juga. Langsung di rumahnya tersebut saya mencoba menjelaskan masalah yang dihadapi, yaitu tentang berbedanya standar penilaian sekolah.

.

Setelah melihat dokumentasi (rapor, CV, dsb), Pak Tyson bilang kurang lebihnya seperti ini, “OK Assad, menurut saya kamu layak ikut tes awal. NTU menyeleksi ribuan calon mahasiswa/i, jadi mungkin saja terlewat. Solusinya, kamu tulis email langsung ke Dean NTU dan sertakan semua dokumen ini, nanti saya akan bantu tulis email juga ke Dean.”

.

Seketika harapan kembali muncul. Allah SWT kembali membuka jalan. Saya langsung kirim email ke Dean NTU seperti yang disarankan Pak Tyson, dan beberapa hari kemudian ada balasan email dari Dean yang isinya saya boleh mengikuti tes!! Wow!! Perasaan saat itu tidak bisa digambarkan, rasanya kaki mau copot hahahaa.

.

Setelah itu, saya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tes. Soal-soal yang digunakan adalah standar A Level luar negeri dan sayangnya di IC sangat minim persiapan untuk itu. Tapi tidak masalah, saya tetap giat belajar dengan waktu yang tersisa. Akhirnya waktu tes pun tiba, kalo ngikutin perasaan sih kayanya bisa ngerjain semua soalnya meskipun agak susah.

.

Ternyata oh ternyata.. saat hasilnya keluar, saya tidak lolos! Sangat sedih dan kecewa. Karena NTU ini merupakan impian utama saya. Beberapa hari saya murung dan tidak nafsu makan (tumben banget kan gw ga nafsu makan hahaha..). Namun saya sadar tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Saya sudah memberikan usaha terbaik meskipun hasil akhir tidak sesuai dengan keinginan. Allah SWT telah memutuskan bahwa NTU bukanlah tempat terbaik bagi saya. I have to accept it. Period.

.

Saya kemudian kembali bangkit dan menatap peluang ketiga, yaitu UTP! Genderang perang kembali ditabuh. Saya kembali mengurus dokumen dan berbagai persyaratan yang diminta. Setelah mengirim aplikasi dan menunggu pengumuman, alhamdulillah nama saya masuk dalam daftar untuk mengikuti seleksi awal yang diadakan di kantor perwakilan Petronas di Indonesia. Dari IC ada 7 orang yang ikut test UTP. Kata orang yang mengurus beasiswa ini, pelamar beasiswa UTP ini ada sekitar 1000 orang. Seleksi kemudian mengerucut menjadi 60 orang, lalu terakhir dipilihlah 7 orang dari Indonesia.

.

Setelah mengikuti tes yang diberikan dan juga wawancara, alhamdulillah nama saya masuk diantara 7 orang tersebut! Saya mendapatkan beasiswa penuh di UTP dengan jurusan yang diinginkan, Business Information Systems! I’m so happy! Setelah 2 kali gagal, akhirnya dapet juga hehe.. Mungkin inilah tempat terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

.

Dan ternyata memang benar, Dia selalu tahu mana yang terbaik untuk kita. Saya menganggap dulu kuliah di NTU adalah impian dan UTP hanya pilihan kedua. Namun sekarang penilaian berubah dan sangat bersyukur bisa berkesempatan kuliah di UTP. Begitu banyak kesempatan dan hal-hal baik yang saya dapatkan selama di UTP yang mungkin tidak akan didapatkan jika kuliah di tempat lain.

.

Puncaknya, saya mengakhiri studi 3.5 tahun dengan membawa nama baik Indonesia saat menjadi satu-satunya mahasiswa dalam sejarah UTP yang mendapatkan triple awards saat kelulusan: “Rector’s Gold Award 2009 for Business Information Systems”, “The Best International Student Award for The Year 2009”, dan “Chancellor Award for The Best Graduate for the Class of 2009” (penghargaan tertinggi di UTP yang diberikan langsung oleh mantan PM Malaysia, Dr. Mahathir Mohamad).

.


Alhamdulillah, hadza min fadli Rabbii (ini semua karunia dari Tuhanku).

.

Berburu Beasiswa S2

Berburu beasiswa S2 lebih seru lagi ceritanya! hehehe… Satu semester menjelang kelulusan di UTP, saya sudah mulai memikirkan apa rencana ke depan. Sudah ada sekitar 2-3 perusahaan yang menawarkan bekerja, tapi saya tidak mau langsung bekerja, melainkan ingin lanjut kuliah S2.

.

Saya kembali memantapkan niat dan berpikir positif bahwa Insha Allah pasti bisa dapat beasiswa untuk S2. Kali ini persiapannya lebih matang dan terencana. Saya membuat daftar universitas mana saja di luar negeri yang memberikan beasiswa, kemudian mempersiapkan segala persyaratan dari tiap universitas, yang kemudian dilmasukkan ke file yang berbeda. Jadi jika sewaktu-waktu membutuhkan dokumen dari universitas tersebut, saya sudah tahu harus membuka file yang mana.

.

Selanjutnya saya menyiapkan dua rencana: Plan A dan Plan B. Dalam Plan A terdapat 10 Universitas yang menjadi tujuan utama. Selanjutnya di plan B ada 5 universitas yang menjadi tujuan kedua. Ke-15 universitas tersebut tersebar di berbagai negara, dari Singapore, Australia, Amerika Serikat, UK hingga Qatar!

.

Kenapa menyiapkan daftar seperti itu? Saya memakai hukum kesempatan saja. Ibarat orang nembak 10 kali, masa ga ada yang kena sekalipun? Sewaktu berburu beasiswa S1 saja, dari tiga kesempatan, akhirnya kena satu. Berarti peluangnya sekitar 33%. Nah, kalau begitu kali ini mungkin kurang lebihnya akan sama. Dari 10 universitas di Plan A yang sudah disusun, saya sangat yakin ya paling tidak 2-3 aplikasi akan diterima. :)

.

Saya melalui proses ini kurang lebih 3 bulan, dari mulai mempersiapkan berbagai dokumen yang diminta hingga mengikuti serangkaian tes. Beberapa universitas melaksanakan tes di Jakarta. Ada juga yang tidak perlu pakai tes dan hanya berdasarkan dokumen2 yang diminta (seperti academic transcript S1, TOEFL/IELTS, essays, dll). Ada juga yang melakukan wawancara melalui telepon.

.

Akhirnya benar berlaku hukum kesempatan. Setelah melalui semua proses, dari 10 Universitas di Plan A, saya diterima di 4 universitas: 2 di Singapore, 1 di UK dan 1 di Qatar. Ini berarti peluang naik jadi 40%, dibandingkan yang pertama. Sisa 6 universitas yang lain, beberapa menolak dan beberapa lagi tidak ada kabarnya.

.

Menariknya, dari 4 universitas tersebut, terdapat NUS (memberikan full scholarship) dan NTU (memberikan partial scholarship), dua universitas yang menolak saya sewaktu S1 beberapa tahun yang lalu. Jadi senyum-senyum sendiri dan berkata, “dulu gue yang berharap dapet beasiswa, sekarang gantian malah ditawarin.” Di NTU diterima di Rajaratnam School of International Studies dan NUS di Lee Kuan Yew School of Public Policy. Keduanya memberikan deadline menerima atau tidak beasiswa yang ditawarkan pada minggu ketiga di bulan Juli.

.

Akhirnya saya menerima tawaran beasiswa dari NUS dan menolak universitas di UK karena tidak sesuai jurusannya, dan juga menolak NTU karena hanya memberikan partial scholarship. Paling tidak sekarang sudah agak aman karena NUS sudah di tangan, sambil nunggu pengumuman dari Qatar, karena itulah impian utamanya. Saya sangat positif Insha Allah akan diterima. Bahkan, saya sudah membayangkan berada di Qatar meskipun waktu itu belum tahu bagaimana bentuknya hehe..

.

Ada cerita menarik. Beasiswa NTU saya tolak karena mereka hanya memberikan partial scholarship. Setelah mengirim email memberitahukan hal tersebut, tiba-tiba beberapa hari kemudian seseorang dari bagian admission NTU menelepon langsung dari Singapore dan straight to the point mengatakan, “Assad, we will give you full scholarship. Please accept our offer!” hahahahaa.. Saya kaget tapi juga agak ngeri, kok bisa-bisanya sebuah universitas internasional berkelas dunia tiba-tiba mengubah kebijakannya begitu cepat. Beberapa kali kami saling berkirim email dan setelah saya mendiskusikan dengan papa dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk tetap menolak. Qatar is still my #1 priority.

.

Lain lagi cerita dari NUS. Setelah saya mengirim email menerima tawaran beasiswa mereka, langsung beberapa hari kemudian mereka mengirimkan tiket pesawat JKT-SG ke rumah dengan tanggal keberangkatan akhir Juli! Dalam hati saya, “Mati gue! cepet amat ngirimnya! Pengumuman Qatar aja baru keluar tanggal 1 Agustus.” Kalau sampai saya berangkat ke Singapore akhir Juli dan sudah mulai semester, sementara pengumuman beasiswa Qatar baru awal Agustus, maka akan repot banget urusannya dan bisa-bisa terkena penalti dari NUS. What should I do???

.

Akhirnya Allah SWT lah yang menjadi tempat bergantung. Saya memohon petunjuk kepada-Nya. Jika menolak NUS, sudah tidak ada satu universitas pun yang saya pegang, sementara Qatar belum memberikan pengumuman. Tapi jika saya menerima NUS dan ternyata Qatar juga menerima, maka runyam juga. Setelah beberapa kali shalat Istikharah, akhirnya ada keyakinan yang kuat bahwa saya Insha Allah akan diterima di Qatar!

.

Itu berarti saya harus menolak NUS. Akhirnya H-1 menjelang keberangkatan saya memberitahu mereka tidak bisa berangkat. Sempat ada masalah waktu itu karena tiket sudah terlanjur dibeli dan mereka minta ganti rugi. Tapi setelah saya jelaskan secara baik-baik, akhirnya mereka dapat memahami dan tidak meminta ganti rugi.


Okey! Berarti saya sekarang benar-benar dalam kondisi “kritis”. Tiga tawaran beasiswa yang sudah didapat malah saya lepas. Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, dulu mereka (NTU dan NUS) yang menolak saya, sekarang gantian saya yang menolak mereka hehehe.. Saya berani berbuat demikian karena sangat yakin dan positif Insha Allah diterima di Qatar. Bukankah Allah SWT yang memerintahkan hambaNya agar selalu berprasangka baik dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya?

.

Tibalah saatnya, 1 Agustus, ada email masuk dari Qatar Foundation dalam bahasa arab. Langsung dag dig dug.. lalu kemudian saya copy email tersebut ke Google Translate dan ternyata isinya adalah…… Congratulation, you are accepted to study Master of Islamic Finance in Qatar with full scholarship from the King of The State of Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani! Seketika saya bersujud dan mengucap syukur tanpa henti-hentiNya. The dream comes true!.

.

Sekarang sudah dua semester saya lalui di Qatar. Alhamdulillah saya sangat bersyukur bisa berada di sana, belajar hal-hal yang baru, berkenalan dengan orang-orang baru, mendapatkan pengalaman baru. Pokoknya baru-baru semua hehee… Mohon doanya agar saya bisa selesai studi S2 disana dan dapat mengamalkan ilmu yang dimiliki.

.

Nilai 3P’s

1. Positive

Setelah membaca cerita di atas, ada satu persamaan saat pertama kali saya menginginkan beasiswa, yaitu berpikir positif! Ini adalah modal dasar yang paling utama. Sikap pertama kali yang harus ditanamkan dan dibangun ya yakin pasti bisa! Bukankah Allah SWT sendiri yang bilang bahwa “Aku adalah seperti apa yang hamba-Ku sangkakan kepada-Ku”. Jadi semua tergantung dan berawal dari pikiran kita. Niat yang positif akan membuat langkah kita selanjutnya menjadi positif juga.

.

Saat mencari beasiswa S1 dan S2, yang ada di otak saya pertama kali adalah, “saya pasti bisa, saya pasti bisa, saya pasti bisa!” Sugesti yang terus menerus diucapkan ini lama kelamaan menjadi suatu semangat dan berubah menjadi tindakan positif yang mengarah kepada tujuan yang kita mau. Karena jika awalnya saja tidak yakin, bagaimana kita akan melangkah lebih jauh?

.

Berpikir positif bukan hanya saat di awal, namun hingga tujuan tercapai. Misalkan dalam perjalanan terjadi hal-hal yang di luar keinginan kita, jangan langsung berpikiran buruk kepada Allah SWT. Seperti saat saya ditolak dua kali oleh NTU dan NUS, saya tidak langsung bersuudzon kepada Allah, karena yakin Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Akhirnya, ingat selalu ayat ini agar tidak pernah berburuk sangka kepada Sang Maha Pencipta

.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-baqarah [2] : 216)

.

2. Persistence

Nilai kedua adalah Persistence, atau terus menerus berusaha dan jangan menyerah. Mantan Presiden Afrika Selatan pernah mengatakan, The greatest glory in living lies not in never falling, but in rising every time we fall.” Inilah yang disebut persistence, atau seperti bulldozer yang terus bergerak sampai tujuan mendapatkan beasiswa tercapai. Kalo gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi! Gagal itu biasa, tapi meratapi kegagalan itu yang tidak biasa.

.

Dalam kasus saya dahulu, coba dilihat, sewaktu mengejar beasiswa S1, dua kali saya mengalami penolakan, bahkan sempat stress dan tertekan, takut tidak bisa kuliah! Tapi kemudian bangkit lagi dan terus mengejar, hingga akhirnya Allah SWT membukakan jalannya. Sama kasusnya saat mengejar beasiswa S2. Dari 10 universitas di Plan A, 6 menolak. Tapi tidak lantas menjadikan saya jatuh dan patah semangat. Justru sebaliknya, menjadi bensin untuk membakar semangat sampai tujuan tercapai.

.

Saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh mantan PM Inggris, Sir Winston Churchill, “Success is going from one failure to another failure without losing enthusiasm”. Saya rasa ini sangat relevan dan berlaku di mana saja, bukan hanya dalam berburu beasiswa. Thomas Alfa Edison pun baru berhasil menemukan lampu di percobaannya yang ke 1000! Coba bayangkan kalo di percobaan ke 700 dia sudah menyerah, bisa jadi kita masih hidup dalam kegelapan hingga sekarang ini.

.

3. Pray

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60)

.

Doa adalah senjata orang beriman. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa doa adalah otak / pangkalnya ibadah. Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong”. Maksudnya, jika ingin sesuatu tapi tidak berusaha, ya mustahil. Tidak ada yang jatuh dari langit secara cuma-cuma. Istilahnya, “no free lunch, man!”

.

Sebaliknya, jika berusaha saja tanpa berdoa kepada Sang Pencipta, maka itu suatu kesombongan. Karena seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya. Sehelai daun jatuh pun atas izin-Nya, apalagi untuk mendapatkan beasiswa! Kalaupun misalkan kita merasa berhasil mendapatkan sesuatu tanpa pertolongan Allah SWT, maka percayalah bahwa hasil yang diperoleh tidak akan membawa berkah.

.

Kesombongan hanya boleh dimiliki oleh Allah SWT. Orang yang tidak mau berdoa kepada-Nya adalah orang yang sombong dan Allah SWT murka kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, ““Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi)

.

Jadi, setelah semua usaha dikerahkan untuk mengejar beasiswa, maka sekarang waktunya kita bertawakkal dan berdoa kepada Sang Maha Penguasa. Selain itu, “Pray” disini juga bisa bermakna kita melakukan ibadah-ibadah lain sebagai pendukung. Ada 3 ibadah tambahan sakti yang saya anjurkan untuk dilakukan: shalat tahajud, shalat dhuha, dan sedekah! Nah ketiganya adalah jalan tol menuju kesuksesan dalam bidang apapun. Itu juga yang saya lakukan untuk memancing ridho Allah SWT saat mengejar beasiswa S1 dan S2.

.

Sebagai penutup, saya ingin meyakinkan teman-teman bahwa setiap orang pasti bisa mendapatkan beasiswa, asalkan benar-benar berusaha dan selalu gunakan siklus ini hingga tujuan tercapai: Ikhtiar – Tawakkal – Doa. Ikhtiar adalah usaha maksimal kita sampai bener-bener mentok tok tok. Tawakkal adalah penyerahan diri kita kepada Sang Penguasa. Dan doa adalah bentuk kehambaan kita yang merasa lemah dan tak mampu berbuat banyak tanpa pertolongan dan izin Allah SWT. Doa juga bisa bermakna beribadah kepada Sang Pencipta.

.

Fiuhhhh… Selesai juga nulisnya.. Ini adalah catatan terpanjang saya dalam menulis #notesfromQatar hahahahahaa… Semoga bermanfaat bagi teman-teman semua. Selamat berburu beasiswa! You can make it!!!

.

Warm Regards,

@MuhammadAssad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar atau mengenai hal-hal ringan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat berbagi, saya ingin memberikan pandangan terhadap suatu isu / masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. #notesfromQatar ditulis dengan bahasa yang santai, mudah dimengerti dan tidak berusaha untuk menggurui. Saya ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama. Semoga bermanfaat!

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,191 other followers