#notesfromQatar edisi ini cukup spesial, karena pertama kalinya saya menulis catatan ringan ini dari Indonesia, meskipun judulnya “from Qatar” hehe.. Saya sedang berada di tanah air tercinta untuk liburan semester, atau istilah kerennya summer holiday. Meskipun sudah terbiasa jauh dari rumah sejak SMA, namun kerinduan bertemu keluarga selalu menjadi hal yang dinantikan setiap liburan tiba. Terkait dengan hal itu, kali ini saya ingin menuliskan mengenai keluarga. Lebih spesifiknya, cinta dan bakti kita kepada kedua orang tua.
.
Cinta Orang Tua
Rasanya tidak akan ada yang membantah bahwa orang tua merupakan sosok terpenting dalam kehidupan kita. Mereka seperti satu paket yang saling melengkapi, saling mencintai, dan yang terpenting selalu mendukung kita, dalam kondisi apapun dan dimanapun. Cinta yang ada dalam diri mereka adalah cinta tanpa syarat atau “the unconditional love”. Tapi apakah cinta kita kepada mereka juga seperti itu?
.
Masa muda adalah masa dimana kita merasa paling pintar dalam segala hal. Tidak jarang kita menganggap bahwa pendapat orang tua itu kuno dan tidak up-to-date dengan perkembangan zaman. Dari mulai tentang cara berpakaian, pekerjaan hingga percintaan, kita selalu merasa paling hebat, bahkan tidak jarang sering bertengkar dengan orang tua hanya untuk masalah-masalah sepele. Namun di kemudian hari, ternyata pendapat orang tua kita yang benar, dan kita yang salah.
.
Kejadian seperti itu mungkin bukan hanya sekali dua kali saja, tapi sering. Saya pun juga demikian, kalo diinget-inget, dulu masa-masa SMP adalah dimana saya cukup sering ribut sama orang tua hehehe.. ya untungnya ga parah banget, hanya sebatas berbalas pantun aja cuma dalam tempo cepat dan berirama
.
Tapi sekarang saya semakin sadar bahwa cinta dan pengorbanan orang tua itu ga ada matinya! Ayah dan Ibu merupakan dua makhluk yang berbeda namun satu yang pasti, cinta mereka sangat luar biasa dan kita tidak akan mampu untuk membalasnya hingga kapanpun.
.
Cinta seorang ayah itu berbeda dengan ibu. Kalau boleh sedikit bercerita, Ayah saya adalah seorang mentor terbaik yang berandil besar membuat saya seperti sekarang ini. Pikiran positifnya selalu merasuki otak saya, bahkan untuk hal-hal yang mustahil sekalipun beliau tetap berpikir positif bisa, dan ternyata itu semua memang terjadi. Papa keras dalam mendidik anak-anaknya namun sangat mencintai keluarganya. Beliau ingin anak-anaknya kelak menjadi manusia yang mampu berdiri di atas kaki sendiri serta dapat memberikan manfaat bagi kemajuan ummah.
.
Lain lagi dengan Ibu saya. Beliau seorang wanita shalihah berhati lembut. Doa-doanya adalah senjata terbaik saya dalam menjalani kerasnya kehidupan ini. Semangat yang diberikan tidak pernah padam dan menjadi tongkat yang sangat kokoh di saat saya kehilangan keseimbangan. Beliau sejak kecil mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam. Satu hal yang sangat saya kagumi, mama belum pernah berbohong sekalipun sampai sekarang. Beliau memiliki saham yang sama besarnya dengan papa dalam membentuk kepribadian saya.
.
Satu yang pasti, di bagian bumi mana pun, cinta seorang ibu itu abadi. Mau anaknya jadi presiden atau jadi penjahat sekalipun, cintanya tetap sama. Saya teringat tentang kisah beberapa bulan yang lalu, saat salah satu vokalis group band ternama Indonesia terkena kasus narkoba. Di saat itu, seluruh teman-teman bandnya tidak mau menjenguk. Tapi siapa yang pertama kali datang menemani sang vokalis dan selalu setia mendampingi selama berada di penjara? Ibunya.
.
Wajib Berbakti dan Haram Durhaka
Kedudukan orang tua dalam Islam sangatlah istimewa. Tingkatan ketaatan kepada mereka persis setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul2-Nya. Allah SWT dengan tegas memerintahkan kepada kita untuk mengabdi dan berbakti kepada kedua orang tua, terutama jika orang tua telah dalam kondisi berusia lanjut. Perintah ini langsung dalam firman-Nya:
.
“Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakana kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (Q.S Al-Isra [17]:23-24)
..
Jangan Durhaka
Durhaka merupakan salah satu dosa besar yang dosanya langsung diazab oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Semua dosa akan ditangguhkan Allah SWT sampai nanti hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tua, maka sesungguhnya Allah SWT akan menyegerakan balasan kepada pelakunya di dunia sebelum meninggal.” (HR. Hakim)
.
Kita harus berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena dia telah bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, menyusui saat kecil, dan mengasuh dengan penuh kasih sayang saat kita masih lemah. Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada Ibu Bapaknya. Ibunya telah mengandung dia dengan susah-payah, melahirkan, mengandung dan menyusui selama 30 bulan.” (QS. Al-Ahqaf : 16)
.
Makanya mengapa dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa dulu ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “Siapa yang patut aku hormati?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “kemudian siapa?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab lagi, “Ibumu” Dan dia bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Lalu Rasulullah menjawab, “Ayahmu” (HR. Bukhari Muslim)
.
Durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa yang sangat besar, yang disetarakan sebagai dosa syirik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maukah kamu saya terangkan tentang sebesar-besar dosa besar? Mereka menjawab, ‘Mau ya Rasulullah!’ Maka berkatalah Rasulullah, ‘Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua dan omongan dusta serta saksi dusta’” (HR. Bukhari Muslim)
..
Bagaimana jika orang tua musyrik?
Jika orang tua kita musyrik dan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka sebagai anak kita tidak perlu menuruti apa yang mereka perintahkan, namun kita harus tetap hormat kepada mereka.
.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu bersyukur kepadaku dan kepada kedua orang tuamu; kepada-Ku lah tempat kembali. Dan jika mereka itu bersungguh-sungguh mempengaruhimu supaya kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turuti mereka. Tetapi berkawanlah dengan mereka (orang tua) di dunia ini dengan cara yang baik; dan ikutilah jalan orang bertaubat kepadaku; kemudian kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka akan kujelaskan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 14-15)
.
Dalam ayat di atas dijelaskan bagaimana sikap kita terhadap ajakan kemusyrikan dari orang tua, dimana kita tidak perlu patuh terhadap perintah mereka karena memang sedikitpun kita tidak boleh taat kepada manusia dalam kemusyrikan (laa tha’ata limakhluuqin fima’shiyatil khaliq). namun kita harus tetap hormat dan baik dengan orang tua.
.
Karena kemusyrikan mereka dengan hormatnya kita adalah dua hal yang berbeda. Kemusyrikan mereka berurusan langsung dengan Allah SWT (habluminallah) dan bakti kita terhadap orang tua adalah hubungan antarsesama manusia (habluminannaas). Inilah indahnya ajaran yang dibawa oleh Islam dalam hal hubungan antarsesama manusia, terutama terhadap orang tua. Sebuah puncak toleransi yang tidak dapat dicapai oleh agama apapun, selain Islam.
.
Cara Berbakti Kepada Orang Tua
Ada beribu cara untuk menunjukkan bakti kita kepada kedua orang tua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, beliau bertemu seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Rasulullah bertanya, “Kenapa pundakmu?” Anak muda itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya dari Yaman dan mempunyai seorang Ibu yang sudah sangat uzur (tua). Saya sangat mencintai dia dan selalu menggendongnya. Saya hanya melepasnya ketika buang hajat, ketika shalat atau ketika istirahat.”
.
Kemudian anak muda itu bertanya, “Apakah aku termasuk ke dalam golongan orang yang berbakti kepada orang tua?” Nabi Muhammad SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh Allah SWT ridho kepadamu, kamu anak yang shaleh, anak yang berbakti. Tapi, ketahuilah anakku, cinta orang tuamu tidak akan pernah terbalaskan olehmu”.
.
Cara berbakti kepada orang tua itu bisa bermacam-macam. Kalau dari cerita di atas itu kan rasanya kita belum sanggup yang harus menggendong orang tua setiap saat seperti yang anak muda itu lakukan kan? Bisa encok pegel linu semua badan hehe.. Berikut ada 7 dari ribuan cara kita untuk berbakti menurut pendapat pribadi saya:
.
1) Selalu mendoakan. Kita semua pasti ingin agar kedua orang tua masuk ke dalam Syurga, dan salah satu senjata ampuhnya adalah dengan cara berdoa. Terlebih, doa dari anak shaleh untuk kedua orang tuanya tidak akan ditolak Allah SWT. Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda, “ “Apabila anak Adam meninggal, maka putuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Abu Hurairah)
.
2) Jangan mengecewakan. Orang tua sudah bersusah payah menyekolahkan kita, bahkan saya sering melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang tua teman-teman saya ikhlas sampai menjual harta benda (rumah, mobil dll) hanya semata-mata ingin anaknya menjadi seorang yang sukses. Maka sebagai balasannya, bahagiakanlah mereka dan jangan pernah mengecewakan, apalagi membuat malu nama keluarga dengan sikap kita.
.
3) Selalu belikan sesuatu jika bepergian. Saya biasa membelikan cokelat atau cookies gandum sehabis bepergian dari luar kota / negeri untuk kedua orang tua. Tidak harus dari luar kota/negeri juga, kalau kita lagi pergi ke mall atau restoran, take away aja makanan kesukaan mereka. “Sesuatu” ini tidak perlu mahal, karena yang terpenting dan poinnya adalah bentuk perhatian kita.
.
4) Jangan pernah mengucap kata-kata kasar. Perselisihan di dalam keluarga antara orang tua dan anak adalah normal. Namun yang paling penting, saat kita berargumen, jangan sampai keluar kata-kata kasar yang bisa menyakitkan kedua orang tua. Contoh paling ringannya adalah seperti “ah” atau “yaelah”. Al-Qur’an pun jg sudah dengan tegas melarang hal ini.
.
5) Bersikap terbuka. Maksudnya ya kita sharing aja dengan orang tua dan menceritakan apa yang terjadi pada diri kita. Karena kalau kita ada masalah juga kan pasti orang tua yang akan berdiri pertama kali untuk mendukung kita dan mereka pasti selalu mau yang terbaik untuk anak-anaknya.
.
6) Selalu membantu, baik diminta maupun tidak. Ini banyak contohnya, misalnya nganterin ke pasar beli toge, menemani ke pengajian atau mungkin beres-beres rumah. Yang ringan-ringan aja gausa yang berat-berat. Bentuk pertolongan kita, apapun itu, pasti akan membahagiakan orang tua.
.
7) Umrah atau Haji-kan jika sudah mampu. Kalau sudah punya rezeki yang cukup dan sudah mempunyai pekerjaan atau bisnis yang mapan, ya bolehlah kita kasih tiket PP ke Saudi Arabia agar orang tua kita bisa beribadah umrah atau haji. Insha Allah harta benda kita akan semakin berkah.
.
Akhirnya, tujuan utama mengapa kita harus berbakti kepada orang tua adalah karena ridho Allah SWT ada di ridho orang tua. Seberapa besar dampak keridhoan Allah terhadap kita? Wah besar sekali!! Bahkan ada satu kisah seorang hamba yang shaleh yang dimasukkan ke dalam Syurga hanya karena keridhoan Allah SWT, dan bukan karena amal ibadahnya. Luar biasa bukan? Jadi kita harus selalu tahu batasan dan kadar kita sebagai anak yang tidak akan pernah menang melawan orang tua. Karena tujuan utama kita adalah mendapatkan keridhoan Allah SWT dan jalannya melalui orang tua. Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak shaleh yang selalu mencurahkan bakti kepada kedua orang tua.
.
Sudahkah kita mendoakan orang tua atau paling tidak menyapa dan menanyakan kabar mereka pada hari ini?
.
warm regards,
.
#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar ataupun mengenai topik ringan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin menuliskan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.
