Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2010

Apakah Karma Itu Ada?

Selama ini saya atau mungkin juga anda, jika ada teman yang ingin berbuat jahat kepada orang lain, maka kita akan bilang ke mereka yang kurang lebihnya, “hati-hati nanti kena karma lho!” Kata karma menjadi cukup sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari. Lalu pertanyaannya, apakah benar karma itu ada? Seperti apa bentuknya? Beberapa teman pun sudah ada yang menanyakan tentang hal ini kepada saya. Maka dari itu, pada edisi #notesfromQatar ini saya akan coba membahas tentang hukum karma ini.

.

Pengertian Karma

Kata “Karma” berasal dari agama Budha yang berarti “hukum sebab-akibat moral” atau kerennya “the law of moral causation”. Agama Budha meyakini bahwa jika seseorang ingin mencapai Nirwana (Surga) maka setiap yang berdosa harus membayar kontan semua dosanya dengan cara diberikan kesempatan kedua yang bernama karma, yaitu terlahir kembali ke dunia dan menemui masalah yang sama, dan dilihat apakah mereka serius ingin menebus dosa atau cuma main-main.

.

Selain itu, pemahaman tentang karma adalah meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia adalah akibat perbuatan manusia itu sendiri. Misalkan, jika ada orang yang tertimpa musibah dan sial terus menerus setahun non-stop, maka itu semua adalah akibat perbuatan yang dia lakukan di masa lampau. Jika dia tidak mendapat balasan semasa hidup di dunia, maka akan dibalaskan kepada keturunannya. Jadi ada dosa warisan/turunan dalam hukum karma.

.

Menariknya, di Indonesia, pengertian karma ini berkembang menjadi sebuah hukuman bagi seorang pelaku kejahatan. Sehingga konotasi karma lebih kepada hukuman bagi perilaku negatif atau jahat saja. Makanya kenapa kita tidak akan pernah mendengar jika ada orang yang ingin berbuat baik kepada orang lain lalu ada yang menegur, “hey hati-hati berbuat baik sama dia, nanti kena karma!” hehehe..

.

Islam dan Hukum Karma

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi keadilan. Allah SWT juga memiliki nama lain yang berhubungan dengan keadilan seperti Al-‘Adl (Yang Maha Adil) atau Al-Hakim (Yang Maha Menghakimi). Di dalam Al-Qur’an sendiri juga dijelaskan bahwa segala perbuatan, baik ataupun buruk, sekecil apapun, pasti akan mendapat ganjaran dari Sang Maha Kuasa.

.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)

.

Lalu bagaimana Islam memandang hukum karma? Menurut pendapat saya hukum karma tidak ada dalam Islam karena itu jelas berbeda dengan prinsip keimanan yang diajarkan oleh Islam. Dalam Islam kita memiliki iman yang meyakini bahwa Allah Maha Adil dan segala perbuatan kita pasti akan ada balasannya, baik di dunia ataupun di akhirat nanti.

.

Namun, Islam tidak mengenal adanya kesempatan kedua untuk turun di dunia memperbaiki segala kesalahan serta adanya dosa turunan yang akan diwariskan kepada keturunannya. Karena setiap manusia harus bertanggungjawab terhadap apa yang dia lakukan, dan bukan orang lain atau keturunannya. Ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, “Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (perbuatannya).” (HR. Bukhari)

.

Selain itu, tidak semua hal yang terjadi pada diri manusia adalah karena “investasi” kebaikan atau kejahatannya di masa yang lampau. Karena bisa saja kebaikan yang diberikan kepada manusia itu karena memang Allah SWT sedang mencurahkan rahmat-Nya, atau bisa juga permasalahan yang dihadapi manusia adalah suatu cobaan dari-Nya agar manusia tersebut lulus ke tingkatan selanjutnya. Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang manusia tersebut lakukan di masa yang lampau, tapi cobaan tersebut bertujuan untuk menguji keimanan hamba-Nya.

.

Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya: Apakah orang-orang mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja seenaknya berkata: “Kami telah beriman”, padahal keimanan mereka itu belum diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2-3)

.

Di sini jelas ada perbedaan mendasar antara hukum karma dengan apa yang diyakini oleh Islam. Tapi yang pasti, Allah adalah Raja dari segala raja keadilan. Seperti yang dijelaskan dalam Surat Al-Zalzalah bahwa segala perbuatan akan ada balasannya. Jika manusia itu berbuat baik, maka balasannya pun pahala dan kebaikan. Sebaliknya, jika manusia itu berbuat kejahatan, maka dosa lah balasannya. Jadi seperti ada hukum reward and punishment / carrot and stick.

.

Berbuat Baiklah Sebanyak-banyaknya!

Niat merupakan komponen dasar dari perbuatan baik atau buruk seseorang. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadtisnya bahwa segala amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Suatu perbuatan akan menjadi kebaikan jika diniatkan hanya karena Allah SWT (lillaahi ta’ala). Jika niatnya sudah baik, maka perbuatannya pun akan menjadi baik, walaupun hasil yang diinginkan tidak tercapai. Tapi Allah SWT sudah mencatatkan sebagai amal kebaikan. Subhanallah bukan?

.

Di dalam Al-Qur’an, jika Allah SWT memerintahkan untuk berbuat kebaikan, terkadang bersamaan dengan perintah menegakkan keadilan. Ini isyarat bahwa berbuat kebaikan itu biasanya didapatkan dengak kebiasaan berlaku adil. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (QS. An-Nahl [16]:90)

.

Islam mendorong umatnya untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan taqwa, dan balasan bagi segala perbuatan baik itu ada yang langsung dibalaskan di dunia, dan ada juga yang ditangguhkan untuk dibayarkan di akhirat. Seperti dalam firman-Nya, “Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah [2]:148)

.

Berbuat baik itu tidak mengenal usia, ras ataupun golongan. Kita diperintahkan untuk berbuat kebaikan kepada semua orang. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, “Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil (orang yang bepergian) dan hamba sahayamu (pembantu).” (QS. An-Nisa [4]:36)

.

Allah SWT berfirman, “Bukanlah kebajikan itu menghadapkan muka ke arah timur dan barat, tetapi yang termasuk kebajikan ialah beriman kepada Allah, hari akhirat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, memberikan bantuan yang disayanginya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan, peminta-minta, dan memerdekakan perbudakan, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, menepati janji yang telah diperbuat, sabar menderita kemiskinan dan kemelaratan, terutama ketika perang. Itulah orang-orang yang benar keimanannya, dan itu pulalah orang-orang yang takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]:177)

.

Sebenernya mudah saja untuk mengetahui apa yang kita lakukan itu perbuatan baik atau tidak. Kita semua kan punya hati nurani. Sebelum melakukan sesuatu, coba tanya di dalam hati apakah itu perbuatan yang baik atau buruk. Jawaban suara hati tidak akan pernah berbohong. Misalkan saat kita menolong orang lain, suara hati pasti akan terasa senang. Lain halnya saat kita mencuri atau melakukan kesalahan, suara hati pasti mengatakan bahwa itu salah dan terjadi pemberontakan di dalam hati. Tapi ingat, jika kita terus menerus melakukan kejahatan, lama-lama suara hati akan tertutup dengan sendirinya, dan kita bisa menjadi sesat-sesesatnya.

.

Lalu apa balasan dari kebaikan yang dilakukan? Ya tentu saja kebaikan juga. Seperti firman-Nya, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula.” (QS. Ar-Rahman [55]:60).

.

Maka dari itu berbuat baiklah kepada siapapun, bahkan kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita. Mengapa? Karena kebaikan tersebut dilipatgandakan di sisi-Nya. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an, “Mereka itu diberi pahala dua kali lipat disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan.” (QS. Al-Qashash [28]:54)

.

Dalam ayat di atas jelas bahwa segala kebaikan akan mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT, dan setiap kejahatan dibalaskan setimpal dengan apa yang dilakukan. Di sinilah letak kebaikan dan keadilan dari Sang Maha Menghakimi. Dia berikan ganjaran yang lebih kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Namun untuk pelaku kejahatan dibalas setimpal dengan kejahatannya. Allah SWT tidak menzolimi sedikitpun terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Subhanallah

.

Coba perhatikan ayat ini, “Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi balasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (SQ. Al-Qashash [28]:84)

.

Bagaimana Dengan Perbuatan Jahat?

Ada madu, ada racun. Begitu pula dengan perbuatan manusia. Ada perbuatan baik, dan tentu saja ada perbuatan yang kurang baik. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Allah SWT adalah Al-‘Adl atau Yang Maha Adil. Termasuk tentu saja jika kita melakukan perbuatan jahat, maka ada hukuman yang setimpal. Hukumannya pun bukan hanya dibalas di dunia, namun yang lebih mengerikan akan dibalas di neraka.

.

Ancaman hukuman neraka itu sebenarnya bukan karena Allah SWT jahat dan ingin menghukum manusia. Justru, Sang Maha Berkuasa teramat baik dengan memberikan peringatan tersebut agar manusia tidak tersesat dan disiksa. Seperti seorang Ibu yang memperingatkan anaknya agar tidak bermain di jalanan, karena kalau tertabrak mobil akan sakit, dan bisa meninggal. Kurang lebih seperti itulah analoginya.

.

Untuk menutup #notesfromQatar kali ini, saya ingin menegaskan bahwa Islam tidak mengenal yang namanya hukum karma karena memang tidak ada sumbernya, baik dari nash Al-Qur’an ataupun hadits-hadits shahih. Karma yang berasal dari agama Budha sangat berbeda dengan ajaran Islam. Namun begitu, Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi keadilan, telah mengajarkan bahwa segala perbuatan baik atau buruk, sekecil apapun, pasti akan mendapat balasan dari Allah SWT.

.

Jika di dunia belum dibalaskan, maka yakinlah bahwa di akhirat kita tidak akan lolos. Semua manusia akan memanen apa yang ditanam selama hidup di dunia. Karena itu, lakukanlah kebaikan dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun. Dan jika ada orang yang berbuat kejahatan kepada kita, tenang saja dan tidak usah dendam karena yakinlah bahwa ada Sang Maha Melihat yang akan selalu mengawasi dan tidak akan ada satu hal pun yang terlewat dari pandangan-Nya.

.

Akhirnya, selamat berakhir pekan dan selamat nonton bola untuk teman-teman semuanya.. siapa jagoan anda di piala dunia kali ini? kalo saya jagoin argentina atau brazil yang akan juara! :)

.

Salam Olah Raga!

@muhammadassad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar atau mengenai hal-hal ringan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin memberikan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

Read Full Post »

#notesfromQatar edisi ini cukup spesial, karena pertama kalinya saya menulis catatan ringan ini dari Indonesia, meskipun judulnya “from Qatar” hehe..  Saya sedang berada di tanah air tercinta untuk liburan semester, atau istilah kerennya summer holiday. Meskipun sudah terbiasa jauh dari rumah sejak SMA, namun kerinduan bertemu keluarga selalu menjadi hal yang dinantikan setiap liburan tiba. Terkait dengan hal itu, kali ini saya ingin menuliskan mengenai keluarga. Lebih spesifiknya, cinta dan bakti kita kepada kedua orang tua.

.

Cinta Orang Tua

Rasanya tidak akan ada yang membantah bahwa orang tua merupakan sosok terpenting dalam kehidupan kita. Mereka seperti satu paket yang saling melengkapi, saling mencintai, dan yang terpenting selalu mendukung kita, dalam kondisi apapun dan dimanapun. Cinta yang ada dalam diri mereka adalah cinta tanpa syarat atau “the unconditional love”. Tapi apakah cinta kita kepada mereka juga seperti itu?

.

Masa muda adalah masa dimana kita merasa paling pintar dalam segala hal. Tidak jarang kita menganggap bahwa pendapat orang tua itu kuno dan tidak up-to-date dengan perkembangan zaman. Dari mulai tentang cara berpakaian, pekerjaan hingga percintaan, kita selalu merasa paling hebat, bahkan tidak jarang sering bertengkar dengan orang tua hanya untuk masalah-masalah sepele. Namun di kemudian hari, ternyata pendapat orang tua kita yang benar, dan kita yang salah.

.

Kejadian seperti itu mungkin bukan hanya sekali dua kali saja, tapi sering. Saya pun juga demikian, kalo diinget-inget, dulu masa-masa SMP adalah dimana saya cukup sering ribut sama orang tua hehehe.. ya untungnya ga parah banget, hanya sebatas berbalas pantun aja cuma dalam tempo cepat dan berirama :)

.

Tapi sekarang saya semakin sadar bahwa cinta dan pengorbanan orang tua itu ga ada matinya! Ayah dan Ibu merupakan dua makhluk yang berbeda namun satu yang pasti, cinta mereka sangat luar biasa dan kita tidak akan mampu untuk membalasnya hingga kapanpun.

.

Cinta seorang ayah itu berbeda dengan ibu. Kalau boleh sedikit bercerita, Ayah saya adalah seorang mentor terbaik yang berandil besar membuat saya seperti sekarang ini. Pikiran positifnya selalu merasuki otak saya, bahkan untuk hal-hal yang mustahil sekalipun beliau tetap berpikir positif bisa, dan ternyata itu semua memang terjadi. Papa keras dalam mendidik anak-anaknya namun sangat mencintai keluarganya. Beliau ingin anak-anaknya kelak menjadi manusia yang mampu berdiri di atas kaki sendiri serta dapat memberikan manfaat bagi kemajuan ummah.

.

Lain lagi dengan Ibu saya. Beliau seorang wanita shalihah berhati lembut. Doa-doanya adalah senjata terbaik saya dalam menjalani kerasnya kehidupan ini. Semangat yang diberikan tidak pernah padam dan menjadi tongkat yang sangat kokoh di saat saya kehilangan keseimbangan. Beliau sejak kecil mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai Islam. Satu hal yang sangat saya kagumi, mama belum pernah berbohong sekalipun sampai sekarang. Beliau memiliki saham yang sama besarnya dengan papa dalam membentuk kepribadian saya.

.

Satu yang pasti, di bagian bumi mana pun, cinta seorang ibu itu abadi. Mau anaknya jadi presiden atau jadi penjahat sekalipun, cintanya tetap sama. Saya teringat tentang kisah beberapa bulan yang lalu, saat salah satu vokalis group band ternama Indonesia terkena kasus narkoba. Di saat itu, seluruh teman-teman bandnya tidak mau menjenguk. Tapi siapa yang pertama kali datang menemani sang vokalis dan selalu setia mendampingi selama berada di penjara? Ibunya.

.

Wajib Berbakti dan Haram Durhaka

Kedudukan orang tua dalam Islam sangatlah istimewa. Tingkatan ketaatan kepada mereka persis setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul2-Nya. Allah SWT dengan tegas memerintahkan kepada kita untuk mengabdi dan berbakti kepada kedua orang tua, terutama jika orang tua telah dalam kondisi berusia lanjut. Perintah ini langsung dalam firman-Nya:

.

“Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tuanya dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakana kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” (Q.S Al-Isra [17]:23-24)

..

Jangan Durhaka

Durhaka merupakan salah satu dosa besar yang dosanya langsung diazab oleh Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Semua dosa akan ditangguhkan Allah SWT sampai nanti hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tua, maka sesungguhnya Allah SWT akan menyegerakan balasan kepada pelakunya di dunia sebelum meninggal.” (HR. Hakim)

.

Kita harus berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, karena dia telah bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, menyusui saat kecil, dan mengasuh dengan penuh kasih sayang saat kita masih lemah. Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada Ibu Bapaknya. Ibunya telah mengandung dia dengan susah-payah, melahirkan, mengandung dan menyusui selama 30 bulan.” (QS. Al-Ahqaf : 16)

.

Makanya mengapa dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa dulu ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “Siapa yang patut aku hormati?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “kemudian siapa?” Rasulullah kembali menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab lagi, “Ibumu” Dan dia bertanya kembali, “Kemudian siapa?” Lalu Rasulullah menjawab, “Ayahmu” (HR. Bukhari Muslim)

.

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa yang sangat besar, yang disetarakan sebagai dosa syirik. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Maukah kamu saya terangkan tentang sebesar-besar dosa besar? Mereka menjawab, ‘Mau ya Rasulullah!’ Maka berkatalah Rasulullah, ‘Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua dan omongan dusta serta saksi dusta’” (HR. Bukhari Muslim)

..

Bagaimana jika orang tua musyrik?

Jika orang tua kita musyrik dan mengajak kita kepada kemusyrikan, maka sebagai anak kita tidak perlu menuruti apa yang mereka perintahkan, namun kita harus tetap hormat kepada mereka.

.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Hendaklah kamu bersyukur kepadaku dan kepada kedua orang tuamu; kepada-Ku lah tempat kembali. Dan jika mereka itu bersungguh-sungguh mempengaruhimu supaya kamu menyekutukan Aku dengan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turuti mereka. Tetapi berkawanlah dengan mereka (orang tua) di dunia ini dengan cara yang baik; dan ikutilah jalan orang bertaubat kepadaku; kemudian kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka akan kujelaskan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 14-15)

.

Dalam ayat di atas dijelaskan bagaimana sikap kita terhadap ajakan kemusyrikan dari orang tua, dimana kita tidak perlu patuh terhadap perintah mereka karena memang sedikitpun kita tidak boleh taat kepada manusia dalam kemusyrikan (laa tha’ata limakhluuqin fima’shiyatil khaliq). namun kita harus tetap hormat dan baik dengan orang tua.

.

Karena kemusyrikan mereka dengan hormatnya kita adalah dua hal yang berbeda. Kemusyrikan mereka berurusan langsung dengan Allah SWT (habluminallah) dan bakti kita terhadap orang tua adalah hubungan antarsesama manusia (habluminannaas). Inilah indahnya ajaran yang dibawa oleh Islam dalam hal hubungan antarsesama manusia, terutama terhadap orang tua. Sebuah puncak toleransi yang tidak dapat dicapai oleh agama apapun, selain Islam.

.

Cara Berbakti Kepada Orang Tua

Ada beribu cara untuk menunjukkan bakti kita kepada kedua orang tua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, beliau bertemu seorang pemuda yang pundaknya lecet-lecet. Rasulullah bertanya, “Kenapa pundakmu?” Anak muda itu menjawab, “Wahai Rasulullah, saya dari Yaman dan mempunyai seorang Ibu yang sudah sangat uzur (tua). Saya sangat mencintai dia dan selalu menggendongnya. Saya hanya melepasnya ketika buang hajat, ketika shalat atau ketika istirahat.”

.

Kemudian anak muda itu bertanya, “Apakah aku termasuk ke dalam golongan orang yang berbakti kepada orang tua?” Nabi Muhammad SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan, “Sungguh Allah SWT ridho kepadamu, kamu anak yang shaleh, anak yang berbakti. Tapi, ketahuilah anakku, cinta orang tuamu tidak akan pernah terbalaskan olehmu”.

.

Cara berbakti kepada orang tua itu bisa bermacam-macam. Kalau dari cerita di atas itu kan rasanya kita belum sanggup yang harus menggendong orang tua setiap saat seperti yang anak muda itu lakukan kan? Bisa encok pegel linu semua badan hehe.. Berikut ada 7 dari ribuan cara kita untuk berbakti menurut pendapat pribadi saya:

.

1) Selalu mendoakan. Kita semua pasti ingin agar kedua orang tua masuk ke dalam Syurga, dan salah satu senjata ampuhnya adalah dengan cara berdoa. Terlebih, doa dari anak shaleh untuk kedua orang tuanya tidak akan ditolak Allah SWT. Dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda, “ “Apabila anak Adam meninggal, maka putuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Abu Hurairah)

.

2) Jangan mengecewakan. Orang tua sudah bersusah payah menyekolahkan kita, bahkan saya sering melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang tua teman-teman saya ikhlas sampai menjual harta benda (rumah, mobil dll) hanya semata-mata ingin anaknya menjadi seorang yang sukses. Maka sebagai balasannya, bahagiakanlah mereka dan jangan pernah mengecewakan, apalagi membuat malu nama keluarga dengan sikap kita.

.

3) Selalu belikan sesuatu jika bepergian. Saya biasa membelikan cokelat atau cookies gandum sehabis bepergian dari luar kota / negeri untuk kedua orang tua. Tidak harus dari luar kota/negeri juga, kalau kita lagi pergi ke mall atau restoran, take away aja makanan kesukaan mereka. “Sesuatu” ini tidak perlu mahal, karena yang terpenting dan poinnya adalah bentuk perhatian kita.

.

4) Jangan pernah mengucap kata-kata kasar. Perselisihan di dalam keluarga antara orang tua dan anak adalah normal. Namun yang paling penting, saat kita berargumen, jangan sampai keluar kata-kata kasar yang bisa menyakitkan kedua orang tua. Contoh paling ringannya adalah seperti “ah” atau “yaelah”. Al-Qur’an pun jg sudah dengan tegas melarang hal ini.

.

5) Bersikap terbuka. Maksudnya ya kita sharing aja dengan orang tua dan menceritakan apa yang terjadi pada diri kita. Karena kalau kita ada masalah juga kan pasti orang tua yang akan berdiri pertama kali untuk mendukung kita dan mereka pasti selalu mau yang terbaik untuk anak-anaknya.

.

6) Selalu membantu, baik diminta maupun tidak. Ini banyak contohnya, misalnya nganterin ke pasar beli toge, menemani ke pengajian atau mungkin beres-beres rumah. Yang ringan-ringan aja gausa yang berat-berat. Bentuk pertolongan kita, apapun itu, pasti akan membahagiakan orang tua.

.

7) Umrah atau Haji-kan jika sudah mampu. Kalau sudah punya rezeki yang cukup dan sudah mempunyai pekerjaan atau bisnis yang mapan, ya bolehlah kita kasih tiket PP ke Saudi Arabia agar orang tua kita bisa beribadah umrah atau haji. Insha Allah harta benda kita akan semakin berkah.

.

Akhirnya, tujuan utama mengapa kita harus berbakti kepada orang tua adalah karena ridho Allah SWT ada di ridho orang tua. Seberapa besar dampak keridhoan Allah terhadap kita? Wah besar sekali!! Bahkan ada satu kisah seorang hamba yang shaleh yang dimasukkan ke dalam Syurga hanya karena keridhoan Allah SWT, dan bukan karena amal ibadahnya. Luar biasa bukan? Jadi kita harus selalu tahu batasan dan kadar kita sebagai anak yang tidak akan pernah menang melawan orang tua. Karena tujuan utama kita adalah mendapatkan keridhoan Allah SWT dan jalannya melalui orang tua. Semoga kita senantiasa menjadi anak-anak shaleh yang selalu mencurahkan bakti kepada kedua orang tua.

.

Sudahkah kita mendoakan orang tua atau paling tidak menyapa dan menanyakan kabar mereka pada hari ini? :)

.

warm regards,

@muhammadassad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar ataupun mengenai topik ringan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin menuliskan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,189 other followers