Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Jumat ini sebetulnya saya ingin absen menulis #notesfromQatar karena sedang final exam hehehe.. Tapi kemalasan itu saya hilangkan karena komitmen untuk terus berbagi ilmu. Kebetulan juga lagi dapat ide. Akhir-akhir ini saya melihat di timeline twitter cukup banyak teman-teman yang mengeluh karena berbagai hal.  Ada yang karena sedang ujian, ada yang putus asa dengan cobaan hidup, dan ada yang malas pergi ke kantor. Semuanya seperti tanpa semangat, lemah lunglai dan tak berdaya (www.lebay.com)

.

Sikap mental seperti inilah yang harus dirubah! Bukankah Rasulullah SAW bersabda: “ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT dari pada mukmin yang lemah dalam setiap amal kebaikan” (HR. Muslim). Untuk itu, dalam #notesfromQatar kali ini saya ingin menuliskan mengenai kecerdasan terbaru yang ada hubungannya untuk menjadi seseorang yang kuat serta tahan banting, yang sangat berdampak terhadap kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini dinamakan Adversity Quotient.

.

Di awal abad 20an, bentuk kecerdasan yang pertama adalah Intelligence Quotient (IQ). Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh Alfred Binet, seorang psikolog asal Prancis. Kemudian dikembangkan oleh Lewis Terman dari Stanford University. Makanya mengapa nama lain dari test IQ adalah test Stanford-Binet. Orang banyak percaya bahwa kesuksesan atau kegagalan seseorang berasal dari IQ yang mereka miliki. Rumusnya, jika IQ tinggi maka sukses, dan jika IQ jongkok, maka gagal. As simple as that?

.

Seiring perkembangan zaman, ternyata teori ini meleset. Tidak selamanya orang bodoh itu akan gagal, dan sebaliknya, tidak selamanya bahwa orang dengan IQ tinggi akan sukses. IQ ternyata hanya menyumbang sekitar 20% dalam kesuksesan seseorang. Banyak orang pintar yang tidak bisa mengontrol emosi, berinteraksi secara sosial, serta mengerti dan memahami orang lain karena merasa dirinya yang paling hebat. Hal inilah yang mengakibatkan kegagalan bagi mereka.

.

Sementara itu, orang yang dengan IQ pas-pasan atau kurang, tapi dia memiliki kemampuan berinteraksi secara sosial dengan baik, memahami dan mengerti perasaan orang lain dan mampu mengendalikan emosi. Karakter dan sifat inilah yang disenangi oleh banyak orang, dan akhirnya dia akan sukses. Inilah jenis kecerdasan terbaru yang ditemukan, yaitu Emotional Quotient (EQ).

.

EQ adalah jenis kecerdasan yang mampu untuk mengidentifikasi, mengelola serta mengendalikan emosi diri sendiri dan kemampuan untuk memahami kondisi orang lain. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995 dalam bukunya “Emotional Intelligence”. Orang-orang yang memiliki EQ tinggi biasanya akan disukai, mudah bergaul dan memiliki banyak teman karena pandai dalam memahami dan menempatkan diri seolah-olah berada dalam posisi yang dirasakan orang lain. Istilah kerennya: “the ability to put yourself in other people’s shoes!”

.

Setelah itu, ramailah sudah kombinasi antara IQ dan EQ untuk kesuksesan seseorang. Orang yang cerdas dan didukung dengan kemampuan emosi yang baik, hasilnya sukses. Hal ini memang terbukti ada benarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata IQ dan EQ saja tidak cukup. Orang yang memiliki IQ dan EQ yang bagus, namun dia tidak memiliki kontrol yang kuat atas apa yang dilakukan, maka hasilnya adalah kehancuran. Contohnya seperti Hitler atau Benyamin Netanyahu yang merasa sudah seperti Tuhan dan bertindak sewenang-wenang, membantai jutaan kaum manusia.

.

Kemudian ditemukanlah kecerdasan terbaru yang bernama Spiritual Quotient (SQ) yang pertama kalinya diperkenalkan oleh Danah Zohar. SQ adalah kecerdasan yang mengarah kepada keyakinan mendalam akan adanya hal lain diluar akal manusia dan berfungsi sebagai suatu kontrol atas apa yang dilakukan. SQ ini pula yang diajarkan oleh Ary Ginanjar Agustian, pendiri Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Dalam beberapa masa, kombinasi dari tiga kecerdasan ini dirasa mampu untuk membawa sesEorang kepada kesuksesan. Selesai sampai disini? Ternyata tidak!

.

The time goes by. Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ ternyata tidaklah cukup. Ada orang yang cerdas secara intelektual (IQ), pandai bergaul dan mengendalikan emosi (EQ) serta memiliki pemahaman mendalam atas agama yang dianutnya dengan baik (SQ), namun ternyata tetap gagal karena tidak kuat bertahan dalam iklim yang keras serta penuh persaingan. Mereka yang sanggup bertahan dan menaklukkan segala tangangan adalah mereka yang memiliki suatu jenis kecerdasan terbaru yang bernama Adversity Quotient. Konsep ini diperkenalkan oleh Paul Stoltz, Ph.D.

.

AQ adalah kecerdasan yang diperoleh seseorang setelah mengalami kesusahan dan kegetiran hidup. Orang-orang yang memiliki kecerdasan AQ akan mengubah segala ringangan dan tantangan dalam hidupnya menjadi sebuah kesempatan. Kecerdasan ini ada hubungannya dengan #notesfromQatar saya sebelumnya yang berjudul “Crisis = Danger + Opportunities”. Untuk melihatnya, bisa diklik di sini: http://muhammadassad.wordpress.com/2010/05/07/crisis-danger-opportunity/

.

Pada zaman dahulu, Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia yang memiliki tingkat kecerdasan AQ yang sangat tinggi. Bagaimana Rasulullah berjuang selama 23 tahun untuk menyebarkan ajaran agama Islam, tapi rintangan dan tantangan yang dihadapinya juga luar biasa besarnya. Cacian, makian, hinaan bahkan ancaman pembunuhan sudah seperti makanan sehari hari. Tapi beliau terus berjuang tanpa mengenal lelah sampai akhirnya Islam berjaya. Mungkin kita akan berpikir, “Ya wajar Rasulullah memiliki tingkat AQ yang tinggi, namanya juga Nabi!”

.

Ternyata di zaman modern sekarang ini pun juga banyak contoh orang yang sukses karena kecerdasan AQ nya. Salah satunya adalah Presiden Korea Selatan yang juga mantan CEO Hyundai, Lee Myung-Bak. Lee lahir di Osaka, Jepang, pada 19 Desember 1941. Sejak kecil, kemiskinan sangat dekat dengan dirinya karena ayahnya seorang petani dan ibunya penjual sayur. Lee menghabiskan masa kecilnya dengan berjualan es krim. Dia juga biasa memakan ampas dari perusahaan pembuat alkohol. Kasarnya, Lee terbiasa memakan sampah sehari-hari.

.

Meskipun sangat miskin, Lee punya tekad kuat untuk tetap belajar. Untung saja otaknya encer dan dia bisa mendapat beasiswa di Korea University. Namun uang beasiswa yang didapat tetap tidaklah mencukupi, dan Lee pun bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Semasa di kampus, dia aktif di Dewan Kemahasiswaan, yang mengantarkannya kepada jeruji besi alias dipenjara karena memimpin aksi demo melawan pemerintah. Nasiiibb… nasiiibb.. hehehe

.

Kemudian setelah keluar dari penjara, Lee tobat dan mendaftar di Hyundai untuk bekerja di sana. Namun pada awalnya Hyundai menolak karena statusnya yang seorang residivis. Lee tidak menyerah, lalu menulis surat langsung kepada Presiden Korsel saat itu agar diizinkan bekerja di Hyundai. Sekretaris Presiden yang membaca surat tersebut tersentuh, dan akhirnya menyuruh Hyundai agar menerima Lee. Diterima sebagai apa? Buruh pabrik.

.

Di perusahaan inilah kemampuannya terlihat. Karena sudah berpengalaman berdemo dan berantem, Lee mulai meraih kepercayaan ketika bisa mengatasi para bandit di proyek konstruksi. Hal ini menarik perhatian Chung Ju-yung, pendiri Hyundai, dan berkat rekomendasinya, makin melesatlah karirnya. Akhirnya, posisi tertinggi, CEO Hyundai berhasil diraihnya. Amazing! Dari seorang buruh pabrik lalu menjadi CEO Hyundai.

.

Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 2005 Lee Myung-bak terpilih menjadi Presiden Korea Selatan. Sangat luar biasa! Dari seorang anak petani yang miskin akhirnya menjadi orang nomor satu di suatu negara industri maju seperti Korea Selatan. Itulah mengapa Lee Myung-bak dijuluki sebagai “Bulldozer”, yang tanpa ampun menghantam segala rintangan yang ada di depannya.

.

Dalam kehidupan kita pun seperti itu. Secara sederhana, kehidupan ini bisa diibaratkan sebagai pendakian gunung, dimana tujuan akhirnya adalah berhasil mencapai puncak. Paul Stoltz membagi manusia menjadi tiga dalam analogi mendaki gunung. Tipe pertama adalah Quitters atau mereka yang keluar dari pertarungan. Orang-orang seperti ini sangat mudah putus asa jika menemui rintangan, dan kemudian mereka berhenti di tengah pendakian dan tidak melanjutkan. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini sangat pesimis dengan kehidupan dan mudah menyerah sehingga jauh dari kata sukses.

.

Tipe kedua adalah Campers atau mereka yang berkemah. Orang-orang ini berhenti di tengah jalan. Pendakian tidak selesai, tapi mereka merasa sudah berhasil meskipun belum sampai ke puncak. Tipe ini lebih baik dibanding tipe Quitters karena berhasil menyelesaikan beberapa tantangan meskipun tidak semuanya. Dalam kehidupan nyata, orang-orang seperti ini adalah yang cepat puas meskipun belum mencapai hasil yang maksimal dan masih tersimpan banyak potensi dalam dirinya untuk bisa melangkah lebih jauh.

.

Tipe ketiga adalah Climbers atau mereka yang terus mendaki. Orang-orang ini selalu berpikiran positif, tidak pernah menyerah, terus melangkah dan berjuang sampai akhirnya mencapai puncak gunung. Dalam kehidupan nyata, orang-orang inilah yang terus bergerak maju dan melihat tantangan sebagai peluang. Jika rintangan adalah malapetaka bagi orang lain, maka bagi mereka adalah berkah, karena itulah yang akan membawa mereka naik ke puncak. Inilah orang-orang yang akan sukses mengejar impian-impiannya.

.

Dalam kehidupan siapapun, dari Menteri Keuangan sampai tukang becak, bisa dianalogikan sebagai mendaki gunung.  Bagi mahasiswa, pendakian gunung mungkin terjadi saat menghadapi ujian. Bagi seorang pengusaha, pendakian gunung mungkin bisa terjadi saat usahanya sedang menurun. Bagi seorang karyawan, pendakian gunung bisa terjadi di saat ingin mencari tempat bekerja yang baru, dsb. Lalu pertanyaannya, di saat kita menghadapi rintangan, termasuk tipe apakah kita ini? Quitters, Campers atau Climbers? Semoga kita semua termasuk tipe Climbers sejati! Amiiiiin…

.

Sebagai penutup, ayat ke 5 dan 6 Al Inshirah rasanya sangat pas: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

.

Ayat ini selalu menjadi penyemangat di saat saya down atau menghadapi berbagai rintangan. Ayat yang sangat visioner dan encouraging karena selalu memberikan semangat dan harapan bahwa diujung tiap kesulitan yang dihadapi, pasti ada kemudahan. Selama kita terus berpikir positif dan tetap bergerak maju tanpa menyerah, maka segala macam ringantan akan mudah dilalui, dan kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu.

.

So, janganlah takut akan kegetiran hidup yang dialami, apalagi cuma menghadapi exam doang, cemen itu hehhehe.. Karena tidak ada orang yang luar biasa di dunia ini, yang ada hanyalah tantangan luar biasa yang dapat diatasi oleh orang biasa! :)

.

Best Regards,

@muhammadassad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar ataupun mengenai topik ringan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin menuliskan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

Read Full Post »

Good morning! Edisi #notesfromQatar kali ini mengambil topik segar, yaitu pernikahan! Siapa yang mau menikah? Pasti mau semua karena itu adalah fitrah manusia. Untuk itu, Insha Allah saya akan memberikan pandangan tentang pernikahan dalam topik “Misteri Jodoh dan Menikah Muda”. Awalnya ini  dua topik berbeda yang diminta oleh dua orang teman. Akhirnya saya gabung saja karena keduanya memiliki satu benang merah,  pernikahan.

.

Sebetulnya agak kurang pas kalau saya membahas tentang pernikahan, karena saya sendiri belum menikah, jadi tidak bisa bercerita pengalaman. Ibarat orang cerita tentang enaknya bakso tapi blom pernah makan bakso. But well, saya akan coba bahas dengan melihat dari beberapa contoh teman-teman seangkatan atau adik kelas yang sudah menikah di usia muda. Apa mereka bahagia? Apa ada masalah? Apa mereka menyesal?

.

Sejatinya, Allah SWT menciptakan segala yang ada di muka bumi ini berpasang-pasangan. Seperti malam dan siang, kaya dan miskin, matahari dan bulan, cantik dan kurang cantik, ganteng dan kurang ganteng, pria dan wanita, dst. Tujuannya adalah untuk saling melengkapi, saling bekerja sama, saling mengisi dan saling menyempurnakan.

.

Pernahkah kita membayangkan kalau saja, alam ini siang terus dan tidak pernah berputar ke malam? Lalu, bagaimana tubuh kita bisa beristirahat? Selain itu, sudah dipastikan bahwa bumi ini akan hancur akibat dahsyatnya sinar matahari. Atau kebalikannya, pernahkah kita membayangkan bagaimana jika malam terus menerus 24 jam tanpa adanya siang? Tubuh ini mungkin akan kaku karena kedinginan, dan bumi pun membeku.

.

Demikian halnya juga dengan manusia. Sudah kodratnya bahwa kita diciptakan berpasang-pasangan. Secara fisik dan fungsional, laki-laki adalah pasangan wanita. Jika mereka tidak berpasangan (dalam artian laki-laki berpasangan dengan laki-laki dan wanita dengan wanita), maka hasil akhirnya adalah masalah, baik secara individual maupun sosial. Mengapa demikian? Karena memang sudah kodratnya seperti itu. Itulah fitrah manusia yang memang harus berpasangan. Begitulah kesempurnaan Sang Pencipta mendesainnya.

.

“Dan bahwasanya Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan.” (QS. An Najm [53]:45)

“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (QS. An Naba [78]:8)

“(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuara [42]:11)

.

Dari beberapa ayat di atas jelas bahwa Allah SWT telah menciptakan seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita kelak. Setelah mengetahui bahwa memang fitrahnya manusia memiliki pasangan, lalu pertanyaan selanjutnya adalah, siapakah jodoh kita? Nah ini dia pertanyaan yang kadang membuat hati dag dig dug, terutama di benak hati kaum hawa hehehe

.

Rezeki, Jodoh dan Maut

Rezeki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah SWT yang kita tidak akan mengetahuinya. Seperti beberapa hari yang lalu nenek saya baru meninggal, tidak ada yang bisa memprediksi meskipun dokter mengatakan kondisi sudah membaik. Sama halnya seperti jodoh, kita tidak tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita. Bahkan sepupu saya yang sudah bertunangan dan berencana akan menikah, ternyata putus di tengah jalan dengan tunangannya dan akhirnya menikah dengan orang yang berbeda. Inilah misteri jodoh.

.

Namun, bukan karena jodoh menjadi rahasia Allah SWT, maka kita jadi santai duduk-duduk, tidur-tiduran di rumah dan menunggu sampai jodoh itu datang dari atas awan. Tidak akan ada cerita seperti itu. Hal yang harus kita lakukan adalah terus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan jodoh yang terbaik.

.

Menikah itu bukan hanya sekedar menyatukan dua insan atau menyambung silaturahmi dua keluarga, tapi hukumnya adalah ibadah. Itulah sebabnya Rasulullah menganjurkan untuk menikah dan dalam salah satu haditsnya beliau mengatakan bahwa orang yang menikah itu telah menyempurnakan setengah agamanya. Karena sesuatu yang tadinya haram dilakukan sebelum menikah maka menjadi halal hukumnya setelah menikah.

.

Menikah Muda

Setelah sudah mantap untuk menikah, lalu pertanyaan selanjutnya adalah, siapkah kita menikah di usia muda? Jawabannya pasti macam-macam, ada yang bilang “Wahhh belum kerja nih Pak!” atau “Belum siap lahir batin Om!” atau “Mau ngasih makan istri apa nanti?”, dan berbagai jawaban defensive lainnya. Tapi sepengamatan saya jawaban yang paling banyak adalah karena merasa belum ada rezeki yang cukup untuk membiayai hidup setelah pernikahan.

.

Kalau menurut saya, jangan takut untuk menikah, biar urusan rezeki nanti Allah SWT yang atur. Bukankah Dia Sang Maha Kaya? Dan banyak orang-orang, termasuk teman saya yang justru rezekinya bertambah setelah menikah, dan orang-orang yang masih takut menikah tetap seperti itu aja hidupnya, stagnan.

.

Berbicara mengenai usia menikah muda itu relatif. Kalau menurut UU Kepemudaan, seseorang dikatakan pemuda/i itu sampai batas umur 30 tahun. Tapi kalau menikah pada saat 30 tahun, itu jelas bukan di usia muda lagi. Makanya usia muda itu bermacam-macam penafsirannya, bisa saja berarti usia produktif (17-35 tahun), atau usia subur (20-30 tahun), atau bisa juga usia remaja (15-25 tahun). Tapi, dalam konteks ini, orang banyak mempersepsikan kurang lebih di kisaran umur 17-23 tahun.

.

Apa menikah muda itu enak? Hampir 90% dari orang yang menikah di usia muda memberikan jawaban enak, bahkan ada yang bilang enak banget. Saya juga melihat dari beberapa teman-teman yang sudah menikah si emang enak kayanya. Berikut beberapa pendapat pribadi saya mengenai keuntungan dan kerugian menikah muda, boleh setuju boleh enggak :)

.

Keuntungan:

  1. Usia yang produktif. Umur 17-23 tahun adalah masa-masa full of energy and full of power! Hehehe.. Makanya mengapa kalangan medis menyebutkan bahwa usia 20-an adalah saat terbaik untuk bereproduksi karena keadaan sang Ibu dalam kondisi prima. Pada usia ini kemungkinan melahirkan anak yang lucu, montok, sehat dan imut sangatlah besar. Mau liat seperti apa contohnya? Here it is! :)

    Muhammad Assad Jr.

    Muhammad Assad Jr.

  2. Berpahala. Menikah itu menghindarkan kita dari perbuatan zina serta memberikan suatu media yang legal dan halal untuk menyalurkan kebutuhan biologis, yang dulu kalau sebelum nikah haram dilakukan tapi setelah menikah menjadi halal. Setelah menikah, istri yang patuh kepada suaminya pun akan mendapat pahala, dan hal-hal baik lainnya
  3. Membawa keberkahan. Menikah akan mendatangkan keberkahan dari Allah SWT, Insha Allah rezeki bertambah, hidup semakin bahagia, dll
  4. Mempunyai tempat sharing dan berbagi. Manusia pasti membutuhkan teman berbagi dalam suka dan duka. Nah, kalau sudah punya suami atau istri kan enak, bisa saling cerita dan saling support jika ada masalah. Selain itu, bisa saling tukar ilmu dan diskusi, dan bukan hal yang mustahil dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing, bisa membuat suatu usaha. Misalkan sang suami jago bisnis dan marketing, sementara sang istri jago masak. Hasil akhir? buka restoran.
  5. Hati menjadi tenteram dan penuh kasih sayang. Istri dan anak adalah penyejuk hati. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. 30: 21).
  6. Menjadikan pribadi lebih dewasa. Banyak kita melihat adanya perubahan perilaku dari orang-orang yang telah menikah menjadi lebih dewasa, bertanggung jawab dan berkomitmen di dalam hidup. Sahabat kecil saya yang sekarang sudah menikah dan punya anak, kelakuannya sudah lebih baik dan berbeda dibandingkan dulu yang suka “loncat loncat”. Dalam bahasa Al-Qur’an pun, pernikahan disebut sebagai mitsaqan ghalizha atau “perjanjian yang kuat dan berat”. Pernikahan bukan sesuatu yang main-main, tanggung jawab bagi kedua belah pihak semakin bertambah.
  7. Saving money. Dengan menikah di usia muda, kemungkinan selamat dari penghamburan waktu dan uang sangat besar. Biasanya kalo masih single pas malam minggu hang out bareng temen-temen dan banyak menghabiskan uang, tapi kalau sudah berkeluarga mending nonton DVD dirumah bersama anak dan istri sambil makan jagung bakar.. oohhh so sweetttt
  8. Ada yang ngurusin hehehe.. ini mungkin terlihat hal sepele, tapi ngaruh juga. Contohnya seperti saya yang tinggal sendirian di apartemen di Doha, paling males kalo harus masak. Akhirnya tiap malam saya sering makan indomie. Saya bandingkan dengan teman-teman yang memiliki istri, kayanya enak bener tiap pulang kuliah langsung masuk apartemen dan makanan sudah terhidang!

Lalu apa kerugian menikah muda?

  1. Ego masih besar. Orang-orang yang masih di kisaran umur 17-23 tahun mayoritas adalah ABG yang baru beranjak dewasa alias ababil (ABG labil), dimana tingkat kematangan belum stabil dan gejolak emosi masih membara. Jadi kalau antara suami istri tidak pandai mengatur emosi, dan dua-duanya sama-sama keras, maka jadinya batu lawan batu, alias pecahhhh!
  2. Waktu untuk diri sendiri jadi berkurang. Kalau dulu mungkin sering nongkrong-nongkrong, sekarang sudah beda. Kemana manapun tidak bisa sebebas dulu. Contohnya teman kampus saya di sini. Dulu katanya waktu muda senang mengembara, sekarang sudah tidak memungkinkan sebebas dulu.
  3. Mengorbankan beberapa cita-cita. Dulu sewaktu belum menikah, mungkin ibaratnya kita mau menjelajah dunia, mau kuliah disini, mau kerja di negeri sana, dll. Saat sudah menikah, tentunya sebelum kita memutuskan melakukan sesuatu, ada banyak pertimbangan yang harus dilakukan, dan ada kemungkinan beberapa cita-cita kita harus ada yang dikorbankan demi kepentingan keluarga.

.

Bagaimana memilih Calon Suami atau Istri?

Dalam hal memilih calon istri, Rasululullah telah mengajarkan dalam sabdanya: ”Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kecantikannya, karena nasab (keturunan) nya, karena agamanya. Maka pilihlah alasan menikahinya karena agamanya, karena akan sejahtera hidupmu. Kalau tidak, maka merugilah” (Muttafaq ‘alaih).

.

Rasulullah kemudian memperkuat dengan sabdanya: ”Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kehinaan. Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kekayaannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kefakiran.”

.

Beliau melanjutkan, ”Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kemuliaan nasab (keturunan) nya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kerendahan. Dan, barang siapa yang menikahi seorang wanita dan ia tidak menginginkan kecuali supaya dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya atau menyambung tali silaturahim, maka Allah akan memberkahi mereka berdua.” (HR Thabrani).

.

Dalam dua hadits tersebut jelas bahwa ada 4 hal utama yang dipilih saat menikah, yaitu karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Dari keempat itu, Nabi Muhammad SAW menyuruh kita untuk memilih berdasarkan agamanya. Hal ini berlaku untuk pria dan wanita.

.

Jangan salah paham, bukan berarti Rasulullah melarang kita untuk menikah dengan wanita yang cantik atau pria yang tampan, atau yang kaya atau dari keturunan yang baik. Hal itu tentu saja boleh. Yang dimaksud dalam hadits itu adalah tentang niat dan prioritas awal dalam menikahi seseorang.

.

Prioritas pertama yang harus dipilih adalah agamanya, atau dalam artian harus seiman. Selanjutnya terserah anda! Mau menikah dengan wanita yang kaya? Tentu boleh. Dengan wanita dari keturunan yang baik? Tentu juga boleh. Dengan wanita yang cantik? Boleh banget!

.

Namun, semua itu valid setelah prioritas pertama dipenuhi, yaitu karena agamanya atau seiman. Jadi, setelah kita menemukan calon yang seiman, lalu ternyata dia juga cantik, kemudian alhamdulillah dari keluarga baik-baik dan ternyata kaya raya, wahhh itu namanya dapet paket hemat komplit! Hahahahaa…

.

Jadi kesimpulannya, berusahalah mencari jodoh yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong dan yang paling penting, seiman! Kalau sudah ketemu, jangan terlalu lama menunggu, langsung ngomong ke Nyak dan Babe minta dinikahin, lalu segera ijab qabul and welcome to the new world!

.

Sekian #notesfromQatar edisi Jumat ini.. Semoga catatan ringan ini bermanfaat.. Jadi pengen nikah juga nihhh :D

.

Salam hangat dari Qatar,

@muhammadassad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar ataupun mengenai topik ringan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin menuliskan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

Read Full Post »

“When written in Chinese, the word crisis is composed of two characters. One represents danger, and the other represents opportunity!”

.

Kalimat di atas diucapkan oleh Presiden Amerika Serikat ke-35, John Fitzgerald Kennedy (JFK), saat menyampaikan pidato di negara bagian Indianapolis. Dalam bahasa China, kata crisis diwakili oleh kata wei ji, sementara kata danger diwakili oleh kata wei xian dan kata opportunity diwakili oleh kata ji hui. Mungkin dari situ Presiden Kennedy mengambil kesimpulan bahwa kata crisis atau “wei ji” adalah gabungan antara “wei” dan “ji”. Dalam menanggapi masalah linguistik ini, ada pihak yang pro dan tidak sedikit yang kontra. Tapi terlepas dari itu semua, kalimat ini semakin sering digunakan oleh berbagai kalangan hingga kini.

.

Saya pribadi setuju dengan apa yang disampaikan JFK. Saat menghadapi suatu krisis, memang benar bahwa itu adalah suatu ancaman yang berbahaya, namun juga harus dilihat bahwa selalu ada suatu opportunity atau kesempatan di balik itu semua, dan sudah banyak contohnya. Suatu krisis bisa menghasilkan peluang bagi orang-orang yang tetap optimis dan berpikir positif. Bukankah Allah SWT juga menyuruh kita untuk selalu optimis? “Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa” (Al Hadits)

.

Agar tidak terlalu banyak berteori, saya ingin memberikan beberapa contoh nyata bagaimana suatu krisis dapat memberikan suatu peluang yang sangat luar biasa. Contoh pertama tentang bencana Tsunami yang menghancurkan Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Bencana ini bisa dibilang sebagai salah satu atau bahkan mungkin yang terdahsyat dalam sejarah modern bangsa Indonesia. Gempa dengan kekuatan 9.5 Skala Richter tersebut juga memicu serangkaian gelombang Tsunami di negara-negara sekitar seperti Thailand, Sri Lanka, India, dsb.

.

Indonesia menangis! Semua orang sedih dan terluka, termasuk diri saya. Keindahan tanah Serambi Mekkah yang sering didengar tiba-tiba hancur dalam sekejap. Krisis pun terjadi! Puluhan ribu nyawa melayang, anak-anak kehilangan orang tuanya, rumah-rumah dan bangunan lainnya pun hancur, dan hanya masjid-masjid yang subhanallah utuh tetap berdiri tegak dan tidak terkena ganasnya Tsunami, termasuk masjid terbesar di Aceh, Masjid Nanggroe Aceh Darussalam. Tanpa diminta, simpati dan bantuan dari dalam dan luar negeri pun berdatangan.

.

Setelah Tsunami reda, perlahan rakyat Aceh kembali menata dan membangun daerahnya, dan sejenak melupakan konflik yang terjadi. FYI, bencana Tsunami terjadi di saat Aceh masih berstatus Darurat Sipil Tahap II, dimana masih sering terjadi konflik kekerasan antara pihak TNI/Polri dengan pihak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang ingin memerdekakan Aceh dan memisahkan diri dari NKRI. Konflik ini telah terjadi lebih dari 30 tahun yang lalu, dari masa pemerintahan Soeharto hingga SBY. Solusi penyelesaian pun selalu mengalami kebuntuan.

.

Muncul kesadaran dari semua pihak untuk kembali bersama membangun Aceh, tanpa terkecuali. Karena sama saja, baik dari pihak sipil maupun GAM, semua terkena dampak Tsunami. Mereka kehilangan keluarga dan harta benda. bencana alam ini telah membuat eskalasi konflik bersenjata TNI/Polri dengan GAM menurun. Pemerintah pun mengambil sikap cepat dan langsung berunding dengan pimpinan GAM di Finlandia agar bisa menyelesaikan konflik yang sudah 30 tahun tanpa solusi ini. Tsunami diharapkan bisa menjadi titik balik bagi pembangunan Aceh.

.

Setelah beberapa kali pertemuan dan sempat juga deadlock, akhirnya RI dan GAM sepakat untuk mengakhiri dan menyelesaikan konflik Aceh dengan cara damai dan bermartabat. Kesadaran dari dua belah pihak bahwa kedamaian di Aceh adalah syarat mutlak untuk membantu proses recovery yang sedang dibangun pasca Tsunami. Hari bersejarah pun tiba, pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, ditanda tangani perjanjian / MoU (Memorandum of Understanding) antara pihak RI dengan pihak GAM. Perjanjian ini pun dikenal dengan nama Perjanjian Helsinki.

.

Kalimat pembuka MoU Helsinki pun sangat kuat, “The Government of Indonesia (GOI) and the Free Aceh Movement (GAM) confirm their commitment to a peaceful, comprehensive and sustainable solution to the conflict in Aceh with dignity for All.”

.

Akhirnya konflik berdarah puluhan tahun yang telah memakan ratusan nyawa terselesaikan juga, dan semua ini bisa terjadi karena adanya Tsunami yang menghancurkan Aceh. Bukankah ini bukti bahwa suatu krisis, bahkan yang teramat mengerikan, bisa memberikan suatu dampak yang sangat besar juga? Konflik selama 30 tahun terselesaikan dan rakyat Aceh hidup dalam kedamaian hingga saat ini. (jadi pengen ke Aceh ni..)

.

Contoh kedua mengenai krisis mari kita terbang ke negeri Paman Sam, yaitu mengenai terpilihnya Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) ke-44. Banyak kalangan menilai, kalau saja tidak ada krisis keuangan yang sangat hebat di AS dan rakyat yang sudah semakin muak dengan kebijakan George Bush yang sangat doyan perang, maka Barack Obama tidak akan mungkin menjadi Presiden AS. Faktor-faktor seperti kulit hitam, dicurigai seorang muslim, dan bukan dari golongan bangsawan atau pengusaha kelas kakap menjadikan Obama dipandang sebelah mata untuk menjadi seorang Presiden negara adidaya tersebut.

.

Kalau kita flashback, krisis keuangan hebat yang terjadi di AS muncul pada tahun 2007, saat terjadinya krisis Sub-prime Mortgage. Untuk memahami apa itu Mortgage, anggap saja seperti KPR (Kredit Kepemilikan Rumah). Pada saat itu krisis terjadi karena banyaknya orang yang tidak bisa membayar mortgage tersebut, dan ini bukan hanya 1 atau 2 orang saja, tapi ribuan. Selain itu, kebijakan Presiden Bush yang sangat hobi perang dan menghabiskan milyaran dolar untuk biaya perang di Irak, Afghanistan dan berbagai negara teluk lainnya dianggap sebagai kebijakan “sampah” yang tidak menghasilkan apapun selain kebencian dan rasa permusuhan, dan juga banyak memakan korban dari pihak tentara Amerika yang dikirim berperang.

.

Rakyat yang sudah marah merasa bahwa Partai Republik yang berkuasa saat itu sudah gagal. Jadi, satu-satunya cara adalah mengganti pemerintahan dengan Partai Demokrat, siapapun calon presidennya. Kalau sewaktu dulu saya di Malaysia ada istilah ABU atau Asal Bukan UMNO (Partai berkuasa pemerintah di Malaysia), maka mungkin yang terjadi di Amerika adalah ABR atau Asal Bukan Republik. Akhirnya Obama yang dari Partai Demokrat berhasil memanfaatkan momentum dan terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Kembali ini menjadi bukti bahwa dibalik suatu krisis keuangan yang sangat hebat, ternyata ada suatu peluang besar juga bagi Obama untuk menjadi Presiden Amerika Serikat.

.

Contoh ketiga kembali ke dalam negeri, yaitu Sandiaga Uno, mantan ketua BP HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Saya beberapa kali sempat bertemu dengan beliau, berdiskusi dan banyak hal yang bisa dipelajari. Pak Sandi menceritakan bahwa dirinya adalah “pengusaha kecelakaan”, karena krisis moneter 1997 lah yang menjadikannya seorang pengusaha hingga sekarang. Pada saat itu, banyak perusahaan yang tiba-tiba hancur dan terkubur tumpukan utang akibat naiknya suku bunga dan jatuhnya nilai tukar rupiah. Bagi orang kebanyakan, krisis ini berarti musibah, karena tidak dipungkiri banyaknya orang yang terkena PHK dan hilang pekerjaan, termasuk Pak Sandi.

.

Akhirnya beliau pulang ke Indonesia dan sempat merasakan pahitnya hidup tanpa penghasilan dan ketidakpastian. Hidupnya hampir frustasi, namun di saat itulah momentum kebangkitan hidupnya datang. Pak Sandi mantap untuk banting setir menjadi seorang pengusaha karena pengalaman pahitnya menjadi karyawan yang penuh ketidakpastian. Dia lalu melihat bahwa dibalik krisis moneter yang sangat hebat ini, terdapat peluang besar juga. Ini lah kesempatan yang tepat untuk memburu asset perusahaan bagus dengan harga yang sangat rendah lalu kemudian dijual kembali.

.

Kemudian beliau bersama rekannya Edwin Soeryadjaya, mendirikan perusahaan investasi, PT Saratoga Investama Sedaya. Perusahaan ini digunakan untuk memperoleh dana dari lembaga keuangan lokal dan internasional. Jadi prosesnya seperti ini, dengan dana investasi yang didapat, mereka membeli perusahaan-perusahaan bangkrut atau hampir bangkrut. Kemudian dengan manajemen yang profesional perusahaan ini dibersihkan dan dijual kembali saat sudah sehat dengan harga yang tinggi. Tipe usaha seperti ini sebetulnya sudah lama dipraktekkan di negara Amerika dan Eropa, namun masih jarang di Indonesia. Dengan bermodal ketekunan, akhirnya Sandiaga Uno berhasil menjadi seorang pengusaha papan atas Indonesia saat ini. Again! krisis menciptakan peluang bukan?

.

Well, dari ketiga contoh di atas sangat jelas bahwa ada peluang dibalik krisis bagi orang-orang yang tetap optimis dan berpikiran positif.  yang harus dipahami adalah krisis bisa terjadi dimana saja dan dalam bentuk apapun, dan bukan hanya bentuk krisis besar seperti krisis moneter atau krisis Tsunami. Bagi anak SMA, krisis bisa terjadi mungkin di saat menghadapi ujian akhir. Bagi anak kuliahan, krisis mungkin bisa terjadi di saat GPA menurun atau saat putus dari pacar hehe.. Bagi orang yang sudah bekerja, krisis mungkin bisa terjadi di saat menghadapi ancaman pemecatan. Bagi pasangan suami istri, krisis mungkin terjadi sewaktu berada di ambang perceraian. Bagi tukang becak pun ada krisis, yang mungkin bisa terjadi di saat rebutan penumpang dengan tukang becak lainnya. Intinya, crisis is everywhere! Karena ya normal aja, namanya juga hidup. This is life! Kalau bahasa Jawa nya, C’est la vie!

.

Semua dari kita pasti pernah mengalami krisis, termasuk diri saya. Hidup saya adalah rangkaian dari satu krisis menuju krisis lainnya hehee.. Terakhir kali krisis adalah saat pertama kali tiba di Qatar. Saat datang ke kampus saya langsung shock! Ada seorang staff yang agak galak mengatakan bahwa dalam 6 bulan setelah kedatangan, saya harus lolos tes bahasa arab (seperti TOEFL atau IELTS) dengan nilai minimal kelulusan 80%. Kalau tidak lulus, maka beasiswa akan dicabut dan saya segera dipulangkan ke Indonesia! Hahahaa.. OMG I was very shock that time!

.

Krisis pun terjadi! Sempat stress juga sih, bagaimana mungkin dalam 6 bulan saya harus menguasai bahasa arab dan lolos tes minimum 80%?? Tapi perlahan saya tercerahkan bahwa ini suatu peluang besar untuk mempelajari lebih dalam bahasa arab, karena toh jika nanti saya bisa lancar berbicara bahasa arab, maka akan menjadi added value yang tak ternilai karena itu adalah bahasa Al-Qur’an dan saya juga akan bisa berkomunikasi dengan dunia arab di masa depan nanti. Terlebih bidang saya adalah keuangan, dimana negara-negara Timur Tengah sekarang sudah menjadi pusat keuangan dunia! It’s really huge opportunity!! Akhirnya saya belajar dengan tekun (kepepet keadaan), terus berpikir positif bahwa saya pasti mampu lolos, dan akhirnya, alhamdulillah saya bisa melewati tes tersebut, dan yang paling penting, beasiswa tidak dicabut dan tidak dipulangkan ke Indonesia! :)

.

Dari berbagai kisah yang saya ceritakan di atas, kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa sebenarnya semua masalah atau krisis yang terjadi itu sama, dan bisa terjadi kepada setiap orang. Namun yang membedakan adalah bagaimana cara pandang kita terhadap krisis itu dan bagaimana sikap terbaik kita menghadapinya. Serta selalu yakin dan percaya bahwa pasti ada suatu hikmah yang besar dari setiap terjadinya krisis.

.

Pada akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan mengutip Al-Qur’an Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang berbunyi: Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

.

Ini adalah salah satu ayat favorit saya karena sangat powerful, selalu mendorong kita agar berfikir positif kepada Sang Pencipta, memahami bahwa akan ada kemudahan setelah kesulitan, dan yang paling penting adalah yakin bahwa akan ada peluang di balik krisis. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa kemudahan akan datang setelah kesulitan. Berarti kalau dianalisa, kesulitan adalah sumber kemudahan. Jadi, saat kita mengalami masa krisis dan kesulitan, kita harus yakin bahwa tidak lama lagi kemudahan dan kebahagiaan akan datang, asalkan tetap optimis dan berpikir positif. Jadi, apakah kita masih berpikir bahwa krisis, apapun bentuknya, adalah suatu yang menakutkan?

.

Wallahu’alam bishshawwab.

.

Warm regards from Qatar,

@muhammadassad

.

#notesfromQatar adalah catatan ringan dan sederhana yang saya tulis setiap hari Jumat tentang pengalaman pribadi selama berada di Qatar ataupun mengenai topik ringan yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat memberi dan berbagi, saya ingin menuliskan pandangan terhadap suatu masalah, tentunya dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki. Tulisan-tulisan dalam #notesfromQatar tidak berusaha untuk menggurui, namun ingin mengajak semua yang membacanya ikut berpikir dan mendiskusikannya bersama.

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,190 other followers